Bukan Cuma El Nino, Ini Penyebab Kebakaran Bertubi-tubi Hantam RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rutin melanda berbagai wilayah di Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sumatra, sering diidentikkan dengan dampak fenomena iklim global seperti El Nino.
Namun, analisis dari akademisi, organisasi non-profit lingkungan, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengerucut pada satu kesimpulan. El Nino hanya berperan sebagai penyedia kondisi fisik yang kering, sementara sumber utama api berasal dari aktivitas manusia (antropogenik).
Pantauan CNBC Indonesia dari situs resmi BMKG, peringatan terkait El Nino yang lebih kering sepanjang tahun ini sudah digaungkan sejak April lalu. Dalam rilis persnya, BMKG berkali-kali mengingatkan soal potensi kekeringan dan ancaman karhutla.
Sejarah Panjang Karhutla di Indonesia
Apalagi, Kalimantan dan Sumatra memiliki catatan sejarah panjang terkait insiden karhutla parah. Dikutip dari situs resmi Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), kebakaran hutan besar pertama yang tercatat terjadi di Kalimantan Timur pada tahun 1982. Kala itu, fenomena El Nino menyebabkan kekeringan parah antara Juni 1982 hingga Mei 1983.
Selain kemarau berkepanjangan, aktivitas ladang berpindah dengan cara membakar lahan baru untuk perkebunan tanaman semusim (seperti padi, ubi, dan jagung) dinilai sebagai faktor pemicu karhutla. Ada pula aktivitas pembalakan liar yang meninggalkan akumulasi limbah kayu dan vegetasi padat yang sangat mudah terbakar.
Kebakaran pada periode 1982-1983 tersebut menghanguskan lahan seluas 3,2 juta hektare di wilayah Kalimantan Timur. World Resources Institute (WRI) melaporkan bahwa kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan itu mencapai US$9 miliar.
Setelah itu, beberapa insiden karhutla besar kembali terjadi dengan penyebab serupa, antara lain karhutla 1997-1998, 2006, 2015, dan 2019.
Insiden-insiden ini bukan hanya menyebabkan kerugian ekonomi, melainkan juga merusak lingkungan, memicu pemanasan global, serta merenggut korban jiwa.
Data Karhutla Indonesia 2026
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 454 kejadian karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Sementara itu, data Sistem Monitoring Karhutla Kementerian Kehutanan menunjukkan sepanjang Januari hingga Juli, total luas area terbakar mencapai 202.010,96 hektare.
Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan posisi akhir Juni yang berada di angka 107.465,47 hektare. Artinya, sekitar 94.545,49 hektare terbakar hanya sepanjang bulan Juli, yang membuat luas karhutla di Indonesia melonjak hampir dua kali lipat dalam kurun waktu satu bulan.
Kejadian karhutla dikhawatirkan terus meningkat karena pengaruh El Nino yang masih berlangsung dan diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal tahun depan.
Lahan Gambut di Kalimantan dan Sumatra
Wilayah Kalimantan dan Sumatra didominasi oleh lahan gambut. Secara alami, ekosistem gambut yang sehat bertindak seperti spons raksasa yang menyerap dan menyimpan air dalam jumlah masif, sehingga tahan terhadap api.
"Namun, apabila lahan gambut kondisinya sudah mulai terganggu, misalnya karena alih fungsi lahan, maka keseimbangan ekologisnya akan terganggu. Dengan kondisi ini, pada musim kemarau, lahan gambut akan sangat kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar," dikutip dari blog resmi WWF.
Menurut artikel WWF, gambut mengandung bahan bakar organik dari sisa tumbuhan, kayu, daun, dan akar yang melapuk selama ribuan tahun. Dalam kondisi kering akibat kanalisasi atau pengeringan lahan, gambut kehilangan sifat menyerap air dan berubah fungsi menjadi hamparan bahan bakar yang sangat padat.
Perlu dicatat, kanalisasi kerap dilakukan ketika lahan dibuka untuk perkebunan. Pembuatan kanal air untuk perkebunan dan alih fungsi lahan menurunkan muka air tanah. Saat kemarau tiba, lapisan gambut mengering hingga kedalaman beberapa meter di bawah permukaan tanah.
Kebakaran di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan
Dalam kondisi kering, api kecil bisa memicu kebakaran hebat karena fenomena 'api bawah tanah' (subsurface fire / smouldering) pada lahan gambut. Berbeda dari hutan tanah mineral tempat api hanya membakar permukaan, pada lahan gambut api menjalar di bawah permukaan tanah melalui pori-pori material organik. Pembakaran terjadi tanpa nyala api besar (smouldering fire), melainkan berupa bara yang tersembunyi.
"Api di lahan gambut sulit dipadamkan, bisa berlangsung berbulan-bulan dan baru dapat dipadamkan dengan hujan yang intensif," tulis WWF.
Api di bawah permukaan gambut sering kali tidak terlihat oleh mata telanjang dan terlindungi dari siraman air (water bombing). Suhu di dalam tanah bisa mencapai tingkat ekstrem, membuat air menguap sebelum mencapai titik inti api. Akibatnya, api dapat bertahan berbulan-bulan dan muncul kembali (re-ignition) sewaktu-waktu meskipun permukaan atasnya tampak sudah padam.
Emisi yang dikeluarkan pun tak main-main. Lahan gambut menyimpan cadangan karbon yang raksasa. Pembakaran gambut menghasilkan emisi karbon/gas rumah kaca yang sangat tinggi serta emisi kabut asap beracun yang berdampak parah pada kesehatan pernapasan, seperti timbulnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
El Nino Cuma Penyedia Kondisi, Bukan Pemantik Api
Menurut pakar dari Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, kondisi hutan yang kering saja tidak cukup untuk menimbulkan api secara alami. El Nino berperan menciptakan kondisi ideal, yaitu mengeringkan vegetasi dan menurunkan muka air tanah sehingga lahan menjadi sangat sensitif dan mudah terbakar.
Namun, jika tidak ada penyulutan api dari luar, kebakaran tidak akan terjadi. Fiqri menyoroti bahwa praktik penggunaan api dalam pembukaan lahan tanpa adanya pengendalian yang memadai masih menjadi faktor dominan.
"Jadi, kaitannya bukan kemudian dengan pengelolaan lahan, tetapi dengan adanya penggunaan api yang sembarangan dalam mengelola lahan," kata Fiqri, dikutip dari laman resmi UGM.
Fiqri menjelaskan bahwa metode pembukaan lahan dengan cara membakar (slash and burn) masih marak digunakan oleh korporasi maupun petani skala kecil karena dianggap cepat dan hemat biaya.
Selain itu, pembakaran kerap tidak dibarengi dengan pembuatan sekat bakar (firebreaks) atau pemisahan bahan bakar di area sekitar, sehingga api mudah melompat dan menyebar tak terkendali. Pembalakan liar dan deforestasi juga merusak tutupan vegetasi serta mikroklimat lingkungan, membuat udara di kawasan hutan menjadi jauh lebih kering dan rentan terbakar.
Dampak Multidimensi
Dampak yang ditimbulkan dari bencana karhutla menjangkau berbagai sektor utama:
- Aspek Lingkungan: Terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati, kerusakan ekosistem yang mendalam, serta lonjakan pelepasan emisi karbon ke atmosfer yang mempercepat perubahan iklim global.
- Aspek Kesehatan: Kebakaran menyebabkan korban jiwa berjatuhan. Selain itu, paparan polusi kabut asap beracun menyebabkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga risiko kematian prematur pada kelompok rentan.
- Aspek Ekonomi: Ancaman kerugian finansial yang signifikan pada rantai pasok sektor pertanian, bisnis kehutanan, gangguan mobilitas transportasi, hingga penghentian aktivitas perdagangan regional.
Dalam studi yang disusun Annisa Musrifatun Nur'Aini dan Athaya Putri Tatia Ananta dari Fakultas Kehutanan UGM (2025), disebutkan bahwa pengendalian karhutla memerlukan pendekatan jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada perbaikan aspek sosial-ekonomi masyarakat sekitar hutan.
"Program perhutanan sosial, peningkatan kesejahteraan petani, penyediaan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar, serta penguatan tata kelola lahan menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan berkelanjutan," tulis laporan yang dimuat dalam portal literasi sejarah bencana BNPB tersebut.
"Pembelajaran dari sejarah karhutla harus terus diintegrasikan dalam perencanaan pembangunan agar pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia dapat berjalan secara berkelanjutan dan bebas dari bencana kabut asap".
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]