Krisis Baru Hantam Jepang, Ramai-Ramai Perusahaan Bangkrut

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
22 August 2026 10:45
7 Mobile Game yang Buat Kamu Betah #Dirumahaja
Foto: Infografis/7 Mobile Game yang Buat Kamu Betah #Dirumahaja/Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri game seluler (game mobile) Jepang tengah menghadapi gelombang tekanan berat. Jumlah perusahaan pengembang (developer) dan operator game mobile yang bangkrut melonjak tajam sepanjang 2026.

Berdasarkan laporan lembaga riset Teikoku Databank yang dikutip dari Automaton, Jumat (21/8/2026), sebanyak 10 perusahaan game mobile Jepang tercatat bangkrut hanya dalam periode Januari hingga Juli 2026.

Angka kebangkrutan tersebut telah melonjak signifikan dibanding capaian sepanjang tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan tiga perusahaan gulung tikar.

Jika tren negatif ini terus berlanjut, jumlah perusahaan game mobile Jepang yang bangkrut pada 2026 berpotensi memecahkan rekor baru. Angkanya diprediksi dapat melampaui rekor tertinggi sebelumnya pada 2015, kala 12 pengembang game mobile bangkrut dalam kurun setahun.

Salah satu kasus yang menyita perhatian menimpa Ambition, developer game asal Tokyo. Pada akhir Juli lalu, perusahaan mengumumkan penghentian mendadak layanan game berbasis live-service bertajuk Bungo Stray Dogs: Tales of the Lost yang sejatinya telah beroperasi selama sembilan tahun.

Pengumuman tersebut mengejutkan para pemain karena penutupan server dilakukan hanya berselang sehari setelah informasi dirilis. Ambition juga menegaskan tidak akan memberikan pengembalian dana (refund) atas mata uang dalam game (in-game currency) maupun barang berbayar yang belum sempat digunakan pemain.

Keputusan sepihak tersebut memicu gelombang protes dari komunitas pemain. Belakangan terungkap bahwa pada saat yang bersamaan, Ambition ternyata telah resmi mengajukan permohonan bangkrut ke pengadilan.

Biaya Membengkak hingga Tergerus Game China-Korsel

Menurut analisis Teikoku Databank, krisis yang menghantam pengembang game mobile Jepang tidak sekadar dipicu kegagalan satu atau dua judul game. Bahkan, judul game yang mengusung hak kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) populer dan disokong anggaran pemasaran masif kini kian sulit mempertahankan momentum kesuksesannya.

Salah satu pemicunya adalah melonjaknya standar kualitas produksi game mobile. Para pengembang kini dituntut untuk menyajikan fitur-fitur kompleks, seperti grafis visual 3D hingga pengisian suara secara penuh (full voice acting).

Di saat yang sama, industri game Jepang tengah mengalami krisis kelangkaan tenaga kreator berbakat. Kombinasi kedua faktor ini mengerek biaya pengembangan awal (development cost) satu judul game hingga menembus ratusan juta yen.

Beban finansial perusahaan tidak berhenti saat game resmi diluncurkan. Pengembang diwajibkan terus menyuplai pembaruan konten secara rutin agar pemain tidak berpaling. Strategi ini memerlukan dana operasional yang sangat besar dan kian sulit dipertahankan ketika basis pemain mulai menyusut.

Selain faktor internal, sengitnya persaingan global turut memperburuk kondisi developer lokal Jepang. Game beranggaran raksasa (blockbuster) besutan pengembang China dan Korea Selatan kian mendominasi pasar lewat keunggulan kualitas visual serta skala produksi yang teramat tinggi.

Banyak pengembang domestik Jepang mengakui bahwa standar produksi bernilai fantastis tersebut sangat sulit untuk diimbangi dengan kondisi lanskap industri dalam negeri saat ini.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article China Mendadak Mau Caplok Mesin Uang Israel, Harganya Rp 26 Triliun


Most Popular
Features