CNBC Insight

Gempa Megathrust Picu Tsunami 40 Meter Dikira 3 Meter, 18.500 Tewas

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
21 August 2026 14:05
Foto udara menujukkan garis pantai Tomakomai, Prefektur Hokkaido, Jepang, setelah peringatan tsunami dikeluarkan menyusul gempa bumi, Senin (20/4/2026). (via REUTERS/KYODO)
Foto: Foto udara menujukkan garis pantai Tomakomai, Prefektur Hokkaido, Jepang, setelah peringatan tsunami dikeluarkan menyusul gempa bumi, Senin (20/4/2026). (via REUTERS/KYODO)

 

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang pernah berada di titik nadir ketika gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9 mengguncang pada 11 Maret 2011. Guncangan mahadahsyat tersebut memicu tsunami raksasa yang meluluhlantakkan wilayah pesisir dalam hitungan menit dan merenggut puluhan ribu nyawa.

Gelombang air laut yang menjulang hingga 40 meter menerjang daratan dengan kecepatan mengerikan, mencapai 700 kilometer per jam. Berdasarkan data Encyclopaedia Britannica, bencana kembar ini mengakibatkan sekitar 18.500 jiwa meninggal dunia, 10.800 orang hilang, dan lebih dari 4.000 lainnya luka-luka.

Krisis kian memuncak sehari setelahnya saat otoritas Jepang mengumumkan kebocoran reaktor nuklir Fukushima. Radiasi mematikan membuat wilayah tersebut steril, memaksa ribuan warga mengungsi secara permanen.

Salah Hitung Peringatan Dini: Estimasi 3 Meter yang Fatal

Sebagai negara yang kerap diterpa gempa-mirip dengan Indonesia-Jepang sejatinya menggelontorkan investasi masif untuk teknologi mitigasi bencana dan sistem peringatan dini. Namun, dalam insiden 2011, terjadi kesalahan kalkulasi fatal.

Pasca gempa utama, otoritas setempat memproyeksikan potensi tinggi gelombang tsunami hanya sekitar 3 meter. Peringatan inilah yang diterima oleh Ryo Kanouya, seorang warga Fukushima kelahiran 1990.

Mendengar pengumuman tersebut, Ryo dan rekan-rekan kantornya diinstruksikan pulang untuk membantu evakuasi. Ryo bergegas ke rumahnya yang berjarak hanya satu kilometer dari bibir pantai.

Detik-Detik Mencekam: Terseret Arus dan Kehilangan Keluarga

Setibanya di rumah, asumsi awal bahwa ancaman telah berlalu seketika sirna. Saat Ryo melihat ke luar jendela, air laut mendadak datang menerjang bak kilat. Gelombang raksasa langsung menghancurkan tembok dan meratakan rumahnya.

Ryo terseret pusaran air laut dan terombang-ambing di tengah puing-puing bangunan. Beruntung, insting bertahan hidup membawanya berpegangan pada lemari kayu yang mengapung hingga air laut perlahan surut.

Meski Ryo berhasil selamat bersama ayah, ibu, dan saudara perempuannya, tragedi ini menyisakan luka abadi. Sang nenek hilang tanpa jejak, diduga kuat tewas tersapu gelombang megathrust dan jasadnya belum ditemukan hingga saat ini.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tsunami Dahsyat 40 Meter Dikira Cuma 3 Meter, 18.500 Tewas Seketika


Most Popular
Features