Mantan Karyawan Ungkap Fakta Tak Terduga soal Facebook
Jakarta, CNBC Indonesia - Sidang gugatan hukum terhadap raksasa teknologi Meta Platforms kembali memanas. Mantan Engineering Director Meta, Arturo Bejar, membeberkan fakta mengejutkan mengenai budaya internal perusahaan pemilik Facebook dan Instagram tersebut.
Dalam kesaksiannya di pengadilan federal Oakland, California, AS, Bejar menyebut CEO Meta, Mark Zuckerberg, secara sengaja menciptakan budaya kerja yang mengesampingkan keselamatan anak-anak demi mengejar pertumbuhan pengguna (growth) dan keterikatan (engagement).
Gugatan ini diajukan oleh koalisi 29 negara bagian AS-termasuk California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey. Meta dituding merancang platformnya agar pengguna usia muda kecanduan, memicu gangguan mental seperti depresi dan kecemasan, hingga memicu tindakan bunuh diri.
Tak hanya itu, Meta juga didakwa melanggar hukum federal karena mengambil dan memanfaatkan data pribadi anak di bawah usia 13 tahun secara ilegal.
Zuckerberg Pemegang Kendali Tunggal
Di hadapan majelis hakim, Bejar menegaskan bahwa kultur top-down di Meta membuat segala keputusan strategis berada penuh di tangan Zuckerberg. Perubahan fitur keamanan hanya bisa terjadi jika ada instruksi langsung dari sang CEO.
"Jika Mark menjadikan sesuatu sebagai prioritas, gunung pun bisa berpindah dalam hitungan bulan," ujar Bejar di persidangan, dikutip dari Reuters, Kamis (20/8/2026).
Ia membantah keras klaim Zuckerberg pada 2021 lalu yang menyatakan Meta selalu memanfaatkan riset untuk meningkatkan keamanan platform. Menurut Bejar, klaim tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
"Itu semua palsu. Anda sama sekali tidak bisa mempercayakan keselamatan anak-anak kepada Mark Zuckerberg," tegasnya.
Fitur Keamanan Cuma Formalitas
Bejar mengungkapkan, fitur pengingat istirahat (take a break) yang kerap dibanggakan Meta sebagai bukti kepedulian terhadap pengguna sejatinya telah "dirancang untuk gagal". Pasalnya, fitur tersebut tidak diaktifkan secara otomatis (default) dan sangat mudah diabaikan oleh pengguna anak.
Meta juga disebut membiarkan kebijakan "pura-pura tidak tahu" (don't ask, don't tell) meski memiliki teknologi untuk mendeteksi jutaan akun pengguna di bawah umur. Langkah ini diambil demi menjaga aliran potensi keuntungan jangka panjang perusahaan.
Kesaksian Bejar diperkuat oleh rekaman peneliti Meta, Elena Davis, yang mengonfirmasi bahwa perusahaan sebenarnya memiliki kemampuan untuk merancang Facebook agar tidak memicu kecanduan, namun memilih untuk tidak menerapkannya.
Hingga saat ini, Meta dibayang-bayangi ribuan gugatan serupa terkait dampak buruk platformnya terhadap anak-anak. Dalam kasus terdahulu yang diajukan Negara Bagian New Mexico, Meta bahkan dijatuhi sanksi denda dan ganti rugi hingga US$942 juta Rp16,7 triliun.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]