Ribuan Buruh Bersatu, Bukan Cuma Minta Naik Gaji dan Bonus
Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak tenaga kerja melanda raksasa pembuat chip memori asal Korea Selatan, SK Hynix. Para pekerja resmi meluncurkan serikat buruh baru pada Kamis (13/8) waktu setempat, demi menyatukan barisan karyawan dari berbagai divisi dan lokasi untuk memperkuat daya tawar di hadapan manajemen.
Langkah ini diambil di tengah panasnya perundingan gaji tahunan. Perselisihan memuncak justru setelah SK Hynix mencetak rekor laba kuartalan yang fantastis, ditopang melonjaknya permintaan global akan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Mengutip situs resminya, hampir 2.500 pekerja SK Hynix telah terdaftar dalam serikat baru ini usai mengantongi izin dari pemerintah setempat. SK Hynix sendiri mempekerjakan sekitar 35.000 karyawan di Korea Selatan.
Berbeda dengan serikat pekerja lama yang terkotak-kotak berdasarkan jenis pekerjaan atau lokasi pabrik, serikat baru ini mewakili seluruh jajaran karyawan SK Hynix, mulai dari buruh pabrik di Icheon dan Cheongju, hingga staf teknis dan perkantoran.
Target jangka pendek mereka tak main-main, yakni menggaet lebih dari 50% total tenaga kerja perusahaan agar sah menjadi serikat mayoritas dan memegang kendali penuh atas arah negosiasi dengan manajemen.
Berebut Kendali Atas Bonus Laba
Pemicu utama perselisihan ini berakar dari perubahan skema bonus:
- Kesepakatan Awal: Tahun lalu, SK Hynix sepakat mengalokasikan 10% dari laba operasional tahunan sebagai bonus tunai bagi karyawan dengan masa berlaku perjanjian 10 tahun.
- Usulan Baru: Tahun ini, manajemen mendadak mengusulkan pembayaran sebagian besar bonus dalam bentuk saham, bukan uang tunai. Langkah ini mengekor kebijakan rival sengit mereka, Samsung Electronics.
Profesor Hukum Jaminan Sosial dari Korea University's School of Law, Park Ji-soon, menilai kehadiran serikat baru ini bakal memicu persaingan sengit antar-serikat dalam memburu anggota. Status serikat mayoritas merupakan kunci utama untuk menguasai perundingan kolektif.
"Peralihan ke bonus berbasis saham juga berpotensi memicu tuntutan baru dari pekerja, seperti fasilitas pinjaman perumahan yang setara dengan yang dinikmati karyawan Samsung Electronics," ujar Park Ji-soon.
Di sisi lain, Profesor Manajemen Sogang University, Kim Yong-jin, menilai kekhawatiran pekerja atas kompensasi saham sangat beralasan mengingat tingginya volatilitas pasar saham Korea Selatan. Kendati demikian, ia mencatat bahwa bonus berbasis ekuitas sebetulnya sudah menjadi praktik lumrah di Amerika Serikat (AS).
Isu ini turut menyedot perhatian kalangan investor. Para pemegang saham mulai mempertanyakan apakah alokasi 10% laba operasional untuk bonus karyawan justru akan menggerus porsi dana investasi perusahaan dan memperkecil imbal hasil (shareholder returns).
Sebagai pembanding, Samsung Electronics dan serikat pekerja sebelumnya berhasil mencapai kesepakatan bonus kinerja pada Mei lalu, sekaligus menggagalkan ancaman mogok kerja massal yang sempat mengancam rantai pasokan chip global.
Dalam kesepakatan tersebut, Samsung mengalokasikan 10,5% laba operasional divisi semikonduktor sebagai bonus khusus pekerja dalam bentuk saham perusahaan, lengkap dengan aturan pembatasan penjualan langsung (lock-up period) untuk sebagian besar saham tersebut.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]