Dihantam Bencana Besar, Begini Taktik China agar Selamat

Redaksi,  CNBC Indonesia
13 August 2026 21:30
Foto udara banjir akibat hujan deras yang dibawa oleh Topan Dolphin di Kota Yantou, Kabupaten Yongjia, Wenzhou, Provinsi Zhejiang, China, Senin (10/8/2026). (China Daily via REUTERS)
Foto: via REUTERS/CHINA DAILY

Jakarta, CNBC Indonesia - China menghadapi bencana besar Topan Dolphin dalam beberapa hari terakhir. Hal ini memicu kekhawatiran serius terhadap potensi kerugian ekonomi, gangguan rantai pasok, hingga keselamatan jutaan warga di wilayah pesisir China.

Di tengah kekhawatiran tersebut, China bergerak cepat memanfaatkan model prakiraan cuaca berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem canggih tersebut berdampingan dengan sistem prakiraan cuaca tradisional. Hal ini menegaskan kemunculan China sebagai pemain utama dalam persaingan meningkatkan akurasi prakiraan cuaca.

Sistem yang dikembangkan China, termasuk Fengwu buatan Shanghai AI Laboratory, Pangu milik Huawei, dan Fuxi dari Universitas Fudan, termasuk dalam segelintir model prakiraan cuaca berbasis AI yang menurut para peneliti dapat menghasilkan prakiraan jauh lebih cepat daripada sistem konvensional, sembari menyamai atau bahkan melampaui sistem lama tersebut dalam beberapa tolok ukur akurasi.

Selama puluhan tahun, prakiraan cuaca mengandalkan model numerik yang dijalankan pada komputer super untuk mensimulasikan fisika atmosfer. Sebaliknya, model AI mempelajari pola dari arsip besar data pengamatan cuaca historis dan dapat menghasilkan prakiraan dalam waktu singkat.

Teknologi ini kian gencar diuji selama musim topan di Asia Timur, di mana peningkatan kecil sekalipun pada prakiraan jalur badai dapat membantu pihak berwenang bersiap menghadapi banjir, mengorganisir evakuasi, serta mengelola potensi gangguan transportasi.

Bangkitnya prakiraan cuaca berbasis AI telah menciptakan arena persaingan baru di antara perusahaan teknologi, lembaga penelitian, dan badan meteorologi, dengan China yang muncul sebagai salah satu pemain terdepan.

Beberapa sistem prakiraan AI paling terkenal secara global antara lain GraphCast dan GenCast milik Google, FourCastNet yang didukung Nvidia, serta AI Forecasting System (AIFS) milik European Centre for Medium-Range Weather Forecasts.

Masyarakat Butuh Informasi Akurat

Fengwu menarik perhatian setelah para pengembangnya melaporkan bahwa sistem ini mengungguli GraphCast pada sekitar 80% variabel cuaca yang dievaluasi, serta mampu memperpanjang prakiraan jangka menengah global yang akurat hingga lebih dari 10 hari.

"Dengan makin seringnya cuaca ekstrem, masyarakat membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan, baik pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun masyarakat awam, petani, dan nelayan," ujar Sun Zhi, CTO Techwind, perusahaan yang bertanggung jawab atas aplikasi industrial Fengwu, dikutip dari Reuters, Kamis (13/8/2026).

"Jadi kami ingin membantu menyediakan informasi yang lebih baik agar masyarakat dapat mengambil keputusan," ia menambahkan.

Meski sistem AI kini menjadi pelengkap penting bagi prakiraan konvensional karena kecepatan dan biaya komputasinya yang lebih murah, teknologi ini tampaknya belum akan menggantikan model cuaca tradisional secara penuh dalam waktu dekat.

Menurut Sun dari Techwind, model AI memang sudah mampu memprediksi jalur topan. Sebagai informasi, lima hari sebelum Topan Dolphin menerjang daratan, Fengwu berhasil memprediksi waktu dan lokasi dampaknya di daratan China dengan tingkat akurasi hingga selisih 30 menit dan 30 km (19 mil).

Namun, model AI masih tertinggal dari prakiraan konvensional dalam hal memprediksi intensitas badai, serta belum teruji dalam memprediksi fenomena iklim besar.

"Jika kami memprediksi peristiwa perubahan iklim 18 bulan sebelumnya, orang-orang tidak akan percaya," kata Sun.

"Mereka perlu tahu bahwa prediksi itu andal. Kami perlu melakukan penelitian ilmiah bertahun-tahun sebelum orang-orang percaya ketika kami mengatakan akan ada fenomena El Niño, atau ketika kami bilang perubahan suhu permukaan laut akan memengaruhi siklus pembiakan ikan," ia menjelaskan.

Di saat para pengembang teknologi terus bekerja untuk membuat sistem mereka makin canggih, penggunaan kedua metode secara berdampingan diperkirakan masih akan berlanjut untuk beberapa waktu ke depan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article NASA Ungkap Fakta Gravitasi Bumi yang Menghilang


Most Popular
Features