Era Baru Bioteknologi, AI Kini Mampu Rancang Virus
Jakarta, CNBC Indonesia - Jakarta, CNBC Indonesia - Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelegence/AI) memasuki babak baru di bidang biologi. Para ilmuwan berhasil menggunakan AI untuk merancang virus yang kemudian dapat dibuat dan berfungsi di laboratorium.
Mengutip The Guardian, terobosan ini membuka peluang besar untuk pengembangan obat, tetapi sekaligus memunculkan kekhawatiran serius mengenai keamanan biologis dan potensi penyalahgunaan teknologi.
Virus yang dirancang dalam penelitian tersebut merupakan bakteriofag, yakni jenis virus yang secara khusus menyerang bakteri. Bakteriofag selama ini telah dipelajari dan digunakan sebagai alternatif untuk menangani infeksi bakteri, termasuk kasus ketika bakteri telah resisten terhadap pengobatan tertentu.
Dalam uji laboratorium, campuran virus yang dirancang AI tersebut berhasil membunuh bakteri E. coli yang resisten terhadap bakteriofag alami.
Insinyur kimia di Universitas Stanford, California, Dr. Brian Hie memanfaatkan model AI yang dirancang untuk memahami dan menghasilkan urutan genetik, atau dapat dianalogikan sebagai "model bahasa" untuk kode genetik.
"Kemampuan untuk merancang dengan cepat genom dan menyesuaikannya pada mikroba tertentu sekaligus mengatasi resistensi dapat mengubah terapi fag dan memperluas perangkat bioteknologi, tulis para peneliti dalam jurnal Science, dikutip Minggu (9/8/2026).
Namun di luar manfaat potensial tersebut, para ilmuwan mengatakan bahwa penelitian ini memunculkan pertimbangan penting terkait keselamatan hayati, pengendalian hayati, dan keamanan hayati. Serta, mendesak pihak lain yang merancang genom utuh untuk berkonsultasi dengan para ahli keselamatan dan keamanan sepanjang proyek.
Dalam artikel pendamping, Prof. Tom Inglesby dan Dr. Moritz Hanke dari Pusat Keamanan Kesehatan di Universitas Johns Hopkins di Baltimore, memperkuat peringatan tersebut. Menurutnya, meskipun terobosan ini menjanjikan untuk aplikasi ilmu kehidupan, hal ini juga menimbulkan pertanyaan mendesak terkait biosafety dan biosecurity.
"Kemampuan untuk menyusun genom virus menggunakan AI generatif kini sudah ada; namun, tata kelola untuk mengarahkannya dengan aman belum ada," ungkapnya.
Hie dan rekan-rekannya menggunakan model AI bernama Evo1 dan Evo2 untuk merancang genom virus baru tersebut. Model-model tersebut dilatih menggunakan data genetik dari 2 juta bakteriofag. Kode genetik untuk virus yang dapat menginfeksi tumbuhan, manusia, atau hewan lain sengaja dikecualikan dari pelatihan AI tersebut guna mengurangi risiko AI merancang virus berbahaya.
Sementara dosen senior bidang sains dan keamanan internasional di King's College London, Dr. Filippa Lentzos mengatakan, titik paling penting untuk melakukan intervensi saat ini adalah pada tahap pembuatan DNA.
Menurutnya, hal ini penting untuk melihat gambaran tata kelola yang lebih luas dan tidak hanya memfokuskan regulasi pada model AI.
"Pendekatan berlapis lebih masuk akal: langkah-langkah pengamanan seputar pengembangan dan akses model, tinjauan penelitian yang bertanggung jawab, penyaringan sintesis, serta standar keselamatan dan keamanan hayati laboratorium yang telah ditetapkan," tutupnya.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]