Ini Dia! Senjata Canggih China, AS Siap-Siap Gigit Jari
Jakarta, CNBC Indonesia - Teknologi kecerdasan buatan kini dikembangkan bahkan dapat digunakan sebagai senjata cenggih di dunia siber. Perusahaan keamanan siber China, 360 Security Technology, mengumumkan telah mengembangkan teknologi yang disebut sebagai pesaing Mythos, yaitu sistem kecerdasan buatan (AI) milik Anthropic dari Amerika Serikat (AS).
Perusahaan menilai model AI itu berpandangan bahwa kecanggihannya menjadi kapabilitas strategis di bidang siber yang harus dimiliki oleh negara tirai bambu tersebut.
Sebagai informasi, Mythos, yang diperkenalkan pada April lalu, merupakan sistem yang dirancang untuk mendeteksi kerentanan software. Namun, sejumlah pakar keamanan siber memperingatkan bahwa teknologi tersebut juga berpotensi memperkuat serangan siber.
Baru-baru ini, pemerintah AS bahkan memerintahkan Anthropic untuk menghentikan ekspor versi yang lebih ringan dari program tersebut dengan alasan keamanan nasional.
Dalam konferensi keamanan siber ISC.AI 2026 di Beijing, pendiri 360 Security Technology, Zhou Hongyi, memperkenalkan dua alat keamanan berbasis AI di bawah nama "Yitian Tulong". Nama tersebut diambil dari novel silat klasik China yang berarti "Pedang Langit dan Golok Naga".
Zhou menjelaskan salah satu alat tersebut, Tulongfeng, dirancang untuk secara otomatis menemukan kerentanan perangkat lunak dan disebutnya sebagai versi China dari Mythos. Sementara itu, sistem kedua bernama Yitianzhen dikembangkan untuk mengotomatisasi pertahanan siber dan respons terhadap insiden keamanan.
"Senjata yang sangat kuat yang dapat mengubah lanskap serangan dan pertahanan siber seperti ini tidak boleh hanya dimiliki oleh pihak lain," kata Zhou dalam pidatonya, berdasarkan transkrip yang dipublikasikan oleh 360, dikutip CNBC Indonesia dari Reuters, Minggu (9/82026).
Menurutnya, China menghadapi risiko transparansi satu arah apabila entitas AS dapat menggunakan model seperti Mythos untuk memindai perangkat lunak dan sistem kritis, sementara perusahaan-perusahaan China tidak memiliki kemampuan yang setara.
360 mengklaim Tulongfeng telah menemukan 3.432 kerentanan perangkat lunak, termasuk 105 di antaranya yang telah dikonfirmasi oleh otoritas China. Namun, Reuters tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.
Terkendala pembatasan chip AS
Sejak 2022, AS makin memperketat kontrol ekspor terhadap akses China ke chip-chip canggih buatan Amerika. Langkah tersebut membuat model AI domestik China kesulitan mengejar pesaing asal AS, termasuk Anthropic, meskipun kesenjangan itu disebut telah menyempit sejak tahun lalu.
Pemerintah AS beralasan pembatasan tersebut diperlukan karena chip canggih dapat membantu militer China meningkatkan kemampuan mereka dengan dukungan AI.
Zhou menyebut, secara objektif, model domestik masih memiliki kesenjangan kemampuan dasar sekitar 20%-30%.
"China tidak bisa menunggu sampai kemampuan model sepenuhnya menyusul sebelum mulai melakukan penemuan kerentanan, karena kita tidak mampu menunggu," ungkapnya.
Sebagai gantinya, Zhou mengatakan perusahaannya mengambil jalur berbasis agent, yakni menggabungkan model AI dengan keahlian keamanan siber, basis data kerentanan, dan alat otomatisasi. Ia mengklaim hanya 360 yang berhasil menerapkan pendekatan tersebut sehingga mampu memberikan Tulongfeng kapabilitas setara Mythos.
"Jika Mythos adalah chip kelas atas, maka yang kami bangun adalah mesin lengkap yang dapat beroperasi secara stabil, bekerja 24 jam sehari, dan membuat lebih sedikit kesalahan," ujarnya.
"Jika pendekatan AS adalah membina seorang peretas jenius, maka pendekatan 360 adalah mengorganisasi tim profesional serangan dan pertahanan," pungkasnya.
(npb/haa) [Gambas:Video CNBC]