Petaka Baru Trump, Satu Dunia Bisa Rasakan Dampaknya

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
05 August 2026 21:00
U.S. President Donald Trump speaks as he sits behind an airport model as he makes an announcement about a $22.5 billion renovation of Washington Dulles International Airport with U.S. Secretary of Transportation Sean Duffy (not pictured) in the Oval
Foto: REUTERS/Kylie Cooper

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Donald Trump bersiap menetapkan harga minimum impor sekaligus mengenakan tarif terhadap polysilicon dan produk turunannya. Kebijakan ini berpotensi mengubah rantai pasok global untuk panel surya dan semikonduktor, dua sektor penting bagi industri energi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Mengutip Reuters, rencana tersebut sedang difinalisasi dan diperkirakan diumumkan pada akhir bulan ini. Empat sumber yang mengetahui pembahasan itu menyebut kebijakan tersebut bertujuan melindungi pabrik polysilicon di AS yang dimiliki Hemlock Semiconductor dan Wacker Chemie dari ekspansi ambisi China di rantai pasok industri chip.

Polysilicon merupakan silikon dengan tingkat kemurnian sangat tinggi yang menjadi bahan baku utama dalam produksi wafer semikonduktor dan panel surya. Produsen mengolah wafer silikon menjadi sel surya, kemudian merakitnya menjadi panel yang digunakan dalam proyek pembangkit listrik tenaga surya.

Reuters melaporkan, kebijakan ini merupakan bagian dari hasil penyelidikan keamanan nasional yang dilakukan Departemen Perdagangan AS selama setahun terakhir berdasarkan Section 232 Trade Expansion Act of 1962.

Untuk pertama kalinya, terungkap bahwa pemerintahan Trump akan menerapkan sistem hibrida yang menggabungkan harga minimum impor dengan tarif atas polysilicon dan produk turunannya.

Pemerintah AS menilai langkah tersebut penting untuk membendung dominasi China di sektor polysilicon. Saat ini, China menguasai sekitar 80% kapasitas manufaktur panel surya global.

Craig Singleton, peneliti senior Foundation for Defense of Democracies, mengatakan dominasi China terbentuk melalui subsidi besar-besaran dan kelebihan kapasitas produksi.

"China membangun dominasinya di industri polysilicon melalui subsidi dan kelebihan kapasitas kronis yang menekan harga di bawah tingkat yang berkelanjutan dan melemahkan para pesaing," ujarnya.

"Harga minimum yang dipadukan dengan tarif dapat memberi ruang bagi produsen AS untuk bertahan hidup, tetapi kebijakan itu harus dikalibrasi secara hati-hati agar pasokan dari sumber terpercaya tetap tersedia sementara kapasitas produksi wafer dan sel surya domestik mengejar ketertinggalan," imbuhnya.

Gedung Putih menolak memberikan komentar sebelum Trump mengambil keputusan resmi. Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington mengecam penyelidikan perdagangan tersebut.

Juru bicara Kedutaan Besar China mengatakan, China mendesak AS untuk segera menghentikan kebijakan tarif berdasarkan Section 232 dan menyelesaikan kekhawatiran semua pihak melalui dialog yang setara.

Laporan Reuters langsung memicu lonjakan saham sejumlah produsen panel surya yang tercatat di bursa AS. Saham Corning ditutup naik 9,4%, First Solar menguat 4,7%, T1 Energy melonjak 9,9%, Canadian Solar naik 5,6%, dan Toyo menguat 1,7%.

Kebijakan Trump juga dapat berdampak besar terhadap industri chip AS. Meski permintaan polysilicon untuk semikonduktor hanya sekitar 2,4% dari permintaan global, industri chip sangat bergantung pada kapasitas produksi polysilicon yang selama ini didukung oleh besarnya permintaan dari sektor energi surya.

Efek Domino yang Mengkhawatirkan

Dalam laporan Reuters, disebutkan bahwa pemerintahan AS harus berhati-hati dalam menjaga keseimbangan antara mendukung produsen domestik dan menaikkan biaya chip serta panel surya-produk-produk yang kini permintaannya sangat melonjak di tengah maraknya pembangunan data center.

Asosiasi industri yang mewakili pengembang energi surya dan pembeli semikonduktor telah memperingatkan pemerintah bahwa penerapan tarif dapat mendongkrak biaya pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, sekaligus menaikkan harga berbagai produk, mulai dari barang elektronik konsumen hingga kendaraan bermotor.

Bahkan, sejumlah produsen sendiri merasa cemas akan dampak kebijakan ini terhadap tingkat permintaan produk mereka.

"Pasar bisa mulai menyaksikan proyek-proyek yang berguguran" jika biayanya menjadi terlalu mahal, ujar Martin Pochtaruk, CEO produsen panel surya Heliene yang mengoperasikan pabrik di Minnesota, dalam sebuah wawancara. Ia menyebut keterlibatan industri panel surya dalam penyelidikan perdagangan yang sejatinya berfokus pada chip ini sebagai sebuah "dampak kerusakan iringan" (collateral damage).

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article China Minggir Dulu, Amerika Cari Masalah Baru ke Negara Ini


Most Popular
Features