Sisa Manusia Ditemukan Terkubur Dalam di Balik Es Antartika

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
05 August 2026 08:40
Jumlah lapisan es laut yang mengelilingi Benua Antarktika kini sudah berkurang dari sebelumnya. Hal itu ditangkap oleh satelit yang sudah digunakan sejak akhir 1970-an.
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency

Jakarta, CNBC Indonesia - Tim ilmuwan internasional menemukan mikroplastik dan nanoplastik di tanah McMurdo Dry Valleys, Antartika, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lingkungan paling terpencil dan paling murni di Bumi. Temuan ini menunjukkan polusi plastik, sebagai sisa kehidupan manusia, telah menjangkau salah satu kawasan paling terisolasi di planet ini.

Penelitian yang dipimpin Lancaster University itu menemukan partikel plastik tidak hanya berada di permukaan tanah, tetapi juga terkubur di lapisan tanah yang lebih dalam. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap dampaknya bagi ekosistem kutub yang sangat rapuh.

Para peneliti mengumpulkan sampel tanah pada Januari 2023 dari berbagai lokasi di kawasan McMurdo Dry Valleys. Hasil analisis menunjukkan keberadaan berbagai jenis plastik, termasuk polypropylene, polyethylene, PET, polystyrene, polyvinyl chloride, hingga partikel keausan ban.

Polusi plastik telah lama menjadi masalah global yang terdokumentasi dengan baik, dan para ilmuwan telah menemukan plastik berukuran besar maupun mikroplastik di perairan sekitar Antartika.

Namun, penelitian terhadap tanah di kawasan tersebut masih sangat terbatas, sehingga penyebaran kontaminasi plastik di daratan Antartika belum banyak dipahami.

Padahal, tanah Antartika merupakan salah satu lingkungan yang paling minim terpapar aktivitas manusia secara langsung. Karena itu, kawasan ini menjadi indikator penting untuk mengetahui sejauh mana polusi plastik telah menyebar.

Penelitian menemukan plastik di lapisan tanah atas pada 13 lokasi pengambilan sampel. Nanoplastik secara khusus terdeteksi pada 54% sampel tanah atas tersebut.

Ketika peneliti menggali lebih dalam, mereka juga menemukan nanoplastik di lapisan tanah bawah pada separuh lokasi yang diuji, meski jumlahnya lebih sedikit dibandingkan lapisan permukaan.

Tim peneliti menggunakan metode baru bernama thermal desorption-proton transfer reaction-mass spectrometry. Teknik ini mampu mendeteksi partikel plastik yang sangat kecil dan tidak dapat teridentifikasi dengan metode deteksi sebelumnya.

Cala plastik sampai Antartika

Para peneliti mengaku belum mengetahui secara pasti bagaimana plastik tersebut dapat mencapai Antartika. Mereka menduga kontaminasi berasal dari kombinasi berbagai sumber.

Sebagian polusi kemungkinan berasal dari stasiun penelitian di Antartika, sedangkan partikel lainnya diduga terbawa atmosfer dari jarak yang sangat jauh sebelum akhirnya mengendap di tanah.

Penulis utama studi, Nhu Phan, melakukan penelitian ini saat menempuh program doktor di Lancaster University.

"Bukti ini menunjukkan bahwa tanah di salah satu lingkungan paling murni di Bumi tidak luput dari kontaminasi plastik," kata Phan, dikutip dari laman Earth.com, Kamis (30/7/2026).

"Temuan ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk mempelajari nasib plastik, transportasinya, dan dampak ekologisnya di wilayah kutub."

Tim peneliti khawatir temuan tersebut dapat berdampak pada ekosistem Antartika. Lingkungan kutub dinilai lebih rentan terhadap kontaminasi plastik dibandingkan wilayah yang lebih hangat karena hewan invertebrata di kawasan tersebut memiliki metabolisme yang lebih lambat dan pertumbuhan yang lebih lambat.

Kondisi itu membuat organisme kutub dinilai lebih sulit beradaptasi terhadap tekanan kimia baru yang sebelumnya tidak pernah mereka hadapi.

Salah satu penulis studi, Crispin Halsall dari Lancaster University, mengatakan temuan tersebut menunjukkan luasnya jangkauan polusi plastik secara global.

"Temuan kami memunculkan kekhawatiran mengenai jangkauan global kontaminasi plastik," kata Halsall.

"Masih belum jelas apakah partikel nanoplastik ultrahalus berasal dari transportasi atmosfer jarak jauh secara langsung, atau dari pelapukan puing plastik yang lebih besar di wilayah laut sepanjang garis pantai Antartika."

Jika sumber plastik terutama berasal dari kawasan lokal, perbaikan pengelolaan limbah di stasiun penelitian Antartika dapat membantu mengurangi kontaminasi. Namun, jika partikel tersebut terbawa angin dari berbagai belahan dunia, upaya pembersihan lokal saja tidak akan cukup.

Karena itu, para peneliti menilai dunia perlu memperkuat kerja sama internasional untuk mengurangi emisi plastik secara global, sekaligus memperketat pengelolaan limbah di Antartika.

Mereka menegaskan temuan ini menunjukkan bahwa polusi plastik tidak lagi menjadi masalah lokal. Plastik kini telah menyebar hingga ke kawasan yang paling terpencil dan terkunci es di Bumi.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Scientific.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tanda Kiamat Makin Dekat Bertebaran di Udara


Most Popular
Features