Tanda Krisis iPhone Tiba, Uang Rp 8.000 Triliun Bisa Hilang Seketika
Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis kelangkaan chip memori global sudah menghantam industri smartphone global, terutama pabrikan HP China yang selama ini menyasar segmen menengah ke bawah (mid-to-low). Meningkatnya harga komponen lantaran tingginya permintaan chip memori untuk sistem kecerdasan buatan (AI) telah memaksa vendor memutar otak untuk mengamankan pasokan hingga menekan margin.
Beberapa pabrikan HP tak kuasa menahan harga jual yang tetap sama, sehingga terpaksa menaikkan harga produknya. Di tengah kondisi ekonomi global yang terguncang, hal ini langsung berdampak pada penurunan daya beli konsumen.
Laporan Counterpoint untuk Q2 2026 menunjukkan pengiriman HP global mengalami penurunan tajam sebesar 11% secara tahun-ke-tahun (YoY). Tiga vendor kawakan dari China, yakni Xiaomi, Oppo, dan vivo, kompak mencatat penurunan pengapalan double-digit.
Kendati demikian, Samsung dan iPhone yang terkenal sebagai vendor perangkat flagship dan selama ini merajai 'peringkat' teratas dalam pangsa pasar (marketshare) smartphone global, masih bisa mencatat pertumbuhan positif sepanjang Q2 2026.
Samsung masih mempertahankan posisinya sebagai 'raja' HP global di Q2 2026. Pabrikan asal Korea Selatan ini berhasil meraup pangsa pasar sebesar 24% di Q2 2026, meningkat dari sebelumnya 20% di Q2 2025.
Selanjutnya, Apple menempati posisi kedua dengan pangsa pasar 20% pada Q2 2026, lebih tinggi ketimbang pangsa pasar 17% di Q2 2025. Apple juga menjadi satu-satunya produsen HP utama yang tidak menaikkan harga produknya selama kuartal tersebut.
Valuasi Rp8.900 Triliun Terancam Menguap
Kendati demikian, kinerja moncer Samsung dan iPhone belum tentu terus berlanjut di masa depan. Pasalnya, para analis dan pelaku industri memprediksi krisis kelangkaan chip memori yang mendorong kenaikan harga komponen akan terus terjadi, dan makin parah, hingga 2028 mendatang.
Saham Apple ambles hampir 10% pada perdagangan Jumat (31/7) lalu. Aksi lepas saham oleh investor ini dipicu oleh proyeksi kinerja perusahaan yang mengecewakan akibat krisis pasokan komponen, tergerus oleh ledakan data center berbasis AI yang menghantam rantai pasok global.
Jika tren penurunan ini berlanjut, posisi ini akan menjadi performa harian terburuk Apple sejak sell-off masif di awal pandemi Maret 2020 silam. Kapitalisasi pasar (market cap) raksasa teknologi asal Cupertino ini berpotensi menguap hingga US$500 miliar (sekitar Rp 8.900 triliun).
Tak hanya itu, tahta Apple sebagai perusahaan paling berharga di dunia pun terancam lengser dan kembali direbut raksasa chip AI, Nvidia, hanya selang beberapa hari setelah Apple mengamankannya.
Tim Cook Angkat Tangan
Penguasa rantai pasok sekaligus CEO Apple, Tim Cook, mengakui kelangkaan komponen saat ini sudah pada tahap "sangat signifikan." Pihaknya menegaskan bahwa opsi yang dimiliki Apple untuk keluar dari jerat krisis ini sangat terbatas.
Pernyataan tersebut disampaikan Cook dalam laporan paparan kinerja (earnings call) terakhirnya sebagai CEO, sebelum menyerahkan tongkat kemudi perusahaan kepada John Ternus pada September mendatang dan bertransisi menjadi Executive Chairman.
"Jika perusahaan sebesar Apple saja mengaku sudah kehabisan fleksibilitas rantai pasokan, ini sinyal bahaya bagi industri," tegas Ben Bajarin, CEO lembaga konsultan teknologi Creative Strategies.
Fenomena Big Tech yang memborong kapasitas produksi microchip canggih dan memori demi menyokong pusat data AI telah memicu krisis pasokan serta lonjakan harga. Dampaknya, pasar PC hingga smartphone global diprediksi bakal mengkerut sepanjang tahun ini.
Stok Habis, iPhone dan MacBook Terancam Langka?
Apple sejatinya sempat meredam efek lonjakan harga memori dengan mengandalkan tumpukan cadangan inventaris. Namun, Cook membeberkan bahwa buffer (penyangga) tersebut kini mulai menipis. Kelangkaan prosesor membuat Apple kesulitan memenuhi tingginya permintaan iPhone dan Mac di pasar.
Sinyal bahaya kian nyata setelah Apple merilis proyeksi pertumbuhan pendapatan untuk kuartal berjalan di kisaran 9% hingga 11%. Angka tersebut meleset dari estimasi Wall Street yang mematok pertumbuhan di kisaran 12%.
Apalagi, kinerja lini bisnis layanan (services) Apple tercatat melambat, sehingga menutupi capaian positif laporan keuangan kuartal II (Juni) yang sebenarnya tampil ciamik.
Bisnis Layanan Bikin Investor Ketar-ketir
Loyo-nya lini bisnis layanan memicu kekhawatiran serius di kalangan investor. Pasalnya, perlambatan terjadi di tengah kuatnya penjualan iPhone, yang selama ini menjadi 'mesin pencetak uang' bagi layanan turunan seperti App Store, Apple Music, hingga Apple TV.
Tekanan berpotensi kian berat jika penjualan iPhone menyusut akibat potensi kenaikan harga produk pada peluncuran lini terbarunya yang dijadwalkan September mendatang.
"Dominasi Apple atas rantai pasok kini dipertanyakan. Belum ada bukti jelas bahwa AI memberikan angin segar (tailwind) yang terukur bagi produk maupun layanannya," ungkap tim analis dari Morgan Stanley.
"Bahkan, lesunya App Store bisa jadi mengindikasikan bahwa perhatian dan waktu pengguna mulai teralihkan oleh aplikasi AI," tambah mereka.
Meski demikian, sejumlah analis menilai lini iPhone cukup tangguh menghadapi kenaikan harga tanpa menggerus permintaan secara drastis. Kehadiran kerja sama skema cicilan (leasing) dengan Klarna di AS juga dinilai bisa menjadi bantalan untuk menahan kemerosotan penjualan.
Imbas dari dinamika ini, setidaknya empat sekuritas global memangkas target harga (target price) saham Apple, sementara tiga lainnya memilih menaikkan target. Data LSEG mencatat nilai median target harga saham Apple kini berada di level US$330, atau turun US$3 dari harga penutupan terakhir. Secara year-to-date (YTD), saham Apple tercatat masih menguat 22,7% hingga penutupan perdagangan Kamis.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]