AS-China Minggir, Muncul Calon Raja Baru AI-Mau Bangun 7 Gigafactory

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
01 August 2026 16:30
Bendera Uni Eropa. (REUTERS/Johanna Geron)
Foto: Bendera Uni Eropa. (REUTERS/Johanna Geron)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan China punya pesaing baru dalam perlombaan AI. Uni Eropa tengah gencar mengembangkan AI di dalam kawasan dengan investasi sebesar 10 miliar euro (Rp 207,4 triliun).

Komisi Eropa mengumumkan dana tersebut akan digunakan untuk mendanai tujuh pabrik raksasa yang ada di seluruh blok. Jumlah itu bertambah dari rencana awal yakni lima gigafactory, dikutip dari Reuters, Sabtu (1/8/2026).

Fasilitas itu akan berisi prosesor AI canggih, software, teknologi cloud, konektivitas berkecepatan tinggi dan pusat data.

Secara keseluruhan, pabrik AI yang akan dibangun ini juga akan menambah 19 pabrik AI yang ada telah tersedia di berbagai negara Uni Eropa.

"Akses pada skala daya komputasi mentah di dalam Gigafactory AI menjadi kebutuhan strategis bagi Eropa saat percepatan pengembangan AI," kata kepala teknologi Uni Eropa, Henna Virkkunen.

Untuk proses tender ditutup pada 12 November 2026 mendatang.

Komisi Eropa mengharapkan mengumumkan hasil tender pada awal 2027. Pabrik AI akan mulai beroperasi dalam 18 bulan setelah kontrak ditandatangani.

Dengan pendanaan yang dikucurkan diharapkan bisa menarik 20 miliar Euro (Rp 415 miliar) dari investasi swasta.

Sejumlah raksasa teknologi dunia, yakni AMD, Nvidia, dan Qualcomm juga telah bekerja sama dengan Komisi Eropa. Ketiga perusahaan menandatangani surat untuk menyediakan chip kepada kelompok dalam proyek gigafactory.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Amerika Ditinggal, Ahli AI Ramai-Ramai Pindah ke China


Most Popular
Features