iPhone Laku Keras tapi Apple Peringatkan Masa Depan Bakal Suram
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah guncangan krisis kelangkaan chip memori global yang menghantam industri smartphone, Apple masih mampu mencatat kinerja positif di kuartal kedua (Q2) 2026. Laporan Counterpoint baru-baru ini mencatat pangsa pasar iPhone masih mampu tumbuh 3% menjadi 20% secara tahun-ke-tahun (YoY), saat industri HP global secara keseluruhan anjlok 11% YoY.Â
Kendati demikian, kinerja moncer Apple sepertinya tak akan bertahan lama. Raksasa asal Cupertino tersebut memproyeksikan pertumbuhan penjualan pada kuartal yang berakhir September mendatang bakal lebih lambat dari target Wall Street.
Dalam panggilan konferensi bersama analis, CEO Apple Tim Cook menegaskan bahwa tertahannya proyeksi ini murni karena masalah pasokan, bukan karena minimnya permintaan pasar.
Sontak, saham Apple langsung terkoreksi dan ambles 5,5% pada perdagangan pasca-bursa (after-hours trade).
"Kami melihat adanya kendala pasokan yang sangat signifikan saat ini dengan fleksibilitas rantai pasokan yang sangat terbatas untuk mengatasinya," ujar Tim Cook, dikutip dari Reuters, Jumat (31/7/2026).
Ia juga menambahkan Apple sedang menjajaki opsi pemasok chip memori alternatif.
Di saat yang sama, CFO Apple Kevan Parekh mengungkapkan pendapatan perusahaan diperkirakan hanya tumbuh 9% hingga 11% YoY. Angka ini berada di bawah ekspektasi Wall Street yang mematok pertumbuhan di level 12%, menurut data LSEG. Sementara itu, pendapatan dari seri iPhone diproyeksikan tumbuh di kisaran menengah, di bawah target konsensus sebesar 17,6%.
Pesimisme di Saat Kinerja Moncer
Padahal, jika melihat ke belakang, kinerja fiskal Q3 2026 Apple sejatinya melampaui estimasi pasar. Pendapatan melesat 16,4% YoY menjadi US$109,42 miliar (di atas konsensus US$105,5 miliar).
Laba per Saham (EPS) mencapai US$2,02 per saham (termasuk dana refund tarif US$0,11). Tanpa refund, EPS Apple berada di level US$ 1,89, tetap mengalahkan estimasi Wall Street.
Penjualan iPhone merekam rekor tertinggi untuk Q3 2026 dengan lonjakan 21,7% menjadi US$54,25 miliar.
Aksi panic buying dari konsumen disinyalir menjadi pendorong utama lonjakan penjualan iPhone dan Mac. Para pembeli berbondong-bondong memborong produk Apple sebelum rumor kenaikan harga resmi diberlakukan pada ajang peluncuran iPhone September mendatang.
Namun, rekor penjualan ini belum cukup menenangkan investor. Pasar khawatir lompatan penjualan saat ini hanya aksi borong sesaat (front-loading) akibat ancaman kenaikan harga, yang berisiko memicu penurunan permintaan pada kuartal-kuartal berikutnya.
Bisnis Layanan Jadi Pertanda Bahaya?
Di sisi lain, lini bisnis Services (Layanan), yang merupakan mesin cetak uang terbesar kedua Apple, malah tampil melempem. Pendapatan Services tercatat sebesar US$30,74 miliar, gagal memenuhi estimasi pasar sebesar US$31,22 miliar.
Analis D.A. Davidson, Gil Luria, menilai perlambatan di sektor layanan ini sebagai sinyal bahaya.
"Investor cemas jika pertumbuhan Services melambat saat penjualan iPhone melonjak 20%, kinerja layanan bisa makin tertekan begitu penjualan iPhone kembali mendarat ke bumi (normal)," kata Luria.
Tekanan pada bisnis Services terutama datang dari lini mobile gaming di App Store. Kebijakan Uni Eropa yang mewajibkan Apple membuka toko aplikasi pihak ketiga, plus kekalahan hukum dari Epic Games (Fortnite) di AS, sukses menggerogoti komisi dalam-aplikasi (in-app purchase) yang selama ini menjadi sumber cuan Apple.
Di tengah gempuran krisis pasokan dan regulasi, Apple kini bertaruh pada integrasi AI (Siri) hasil kolaborasi dengan Google. Tim Cook mengisyaratkan fitur-fitur canggih AI tersebut nantinya bakal dimonetisasi melalui skema upgrade berlangganan iCloud Plus untuk mendongkrak kembali pendapatan perusahaan.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]