Instagram-TikTok Banjir Dokter Palsu Buatan AI, Korbannya Sudah Banyak
Jakarta, CNBC Indonesia - Dokter palsu berbasis kecerdasan buatan (AI) kini membanjiri Facebook dan Instagram. Mereka menyebarkan informasi kesehatan yang belum terbukti kebenarannya sekaligus mempromosikan suplemen yang meragukan, dengan lansia sebagai salah satu targetnya.
Berdasarkan investigasi The New York Times, telah ditemukan ratusan iklan serupa. Iklan-iklan tersebut umumnya mengikuti pola tertentu untuk menarik perhatian pengguna.
Video-video itu biasanya menampilkan avatar AI yang mengaku sebagai sosok kredibel, seperti dokter atau ahli pengobatan Timur. Sejumlah video juga menampilkan bendera Amerika Serikat atau menggunakan latar kawasan permukiman suburban yang terlihat familiar.
Sebagian avatar AI tampil seperti orang biasa yang sangat antusias dengan suplemen yang mereka konsumsi. Mereka merekam video di tempat parkir, kamar tidur, atau toko bahan makanan, layaknya influencer manusia.
Sementara itu, avatar dokter AI biasanya tampil di dalam ruang praktik dengan ijazah palsu yang terpampang jelas di belakangnya. Salah satu ijazah bahkan menampilkan tulisan 'University of Degree' dalam video yang diidentifikasi The New York Times.
"Dalam pengobatan China, kami sudah tahu persis bagaimana cara menurunkan ini selama beberapa generasi," kata seorang nenek yang dibuat menggunakan AI dan mengenakan jas laboratorium, dikutip dari Futurism, Senin (27/7/2026).
Namun, sejumlah klaim dalam video tersebut dinilai menyesatkan dan bahkan berbahaya. Salah satu iklan produk bernama Sculptique, misalnya, mengklaim suplemen herbalnya dapat mengobati penyakit ginjal lebih baik dibandingkan obat-obatan.
Perusahaan itu mengklaim telah memberikan suplemennya kepada 100 orang dengan penyakit ginjal stadium tiga. Iklan tersebut juga menampilkan video buatan AI yang memperlihatkan orang-orang yang disebut sebagai penerima suplemen mengangkat botol produk secara bersamaan di sebuah gudang.
Seorang perempuan berusia 71 tahun bernama Pamela Wundrow mengatakan kepada The New York Times bahwa dirinya membeli suplemen moringa untuk mengatasi gejala penyakit autoimun setelah melihat iklan produk tersebut di Facebook dari perusahaan bernama Rosabella.
Beberapa bulan setelah rutin mengonsumsi pil tersebut setiap hari, regulator federal mengumumkan penarikan suplemen moringa Rosabella karena sejumlah pil yang terkontaminasi membuat orang sakit akibat salmonella.
Wundrow mengatakan dirinya tidak mengalami gejala salmonella. Namun, dia mengklaim kondisi kesehatannya justru memburuk setelah mengonsumsi suplemen tersebut.
"Mereka menargetkan kami, orang-orang yang memiliki masalah kesehatan," kata Wundrow kepada .
Iklan semacam ini tidak muncul begitu saja. Salah satu perusahaan asal China menggunakan video AI untuk membantu berbagai merek menjual produk mereka di TikTok. Perusahaan tersebut bahkan merancang iklannya agar terlihat se-Amerika mungkin.
"Perhatikan dan pelajari, bro," kata seorang pria buatan AI. Dia kemudian mengeluarkan sebuah perangkat yang juga dapat digunakan sebagai senter.
Perusahaan yang tidak disebutkan namanya oleh The New York Times itu mengklaim mampu memproduksi 1.200 video AI setiap hari. Biaya pembuatan setiap video disebut hanya sekitar US$10.
Kepala pemasaran AI perusahaan tersebut, Vivi Yi, mengakui bahwa pemasaran produk kesehatan membutuhkan kehati-hatian lebih besar. Dia mengatakan istilah "manajemen berat badan" digunakan sebagai pengganti klaim "menurunkan berat badan".
The New York Times mencatat, iklan-iklan semacam ini ilegal jika ditayangkan di televisi Amerika Serikat. Namun, aturan di media sosial lebih longgar dan lebih sulit ditegakkan.
TikTok mengatakan kepada The New York Times bahwa pihaknya telah melarang akun-akun yang membuat klaim kesehatan menyesatkan. Sementara itu, Meta menyatakan telah memberikan label pada konten yang dibuat menggunakan AI.
Namun, The New York Times menemukan sejumlah video kesehatan yang jelas dibuat menggunakan AI masih tersedia di platform tersebut sebelum akhirnya dihapus.
Kondisi ini membuat lansia yang menjadi target video-video AI tersebut harus mengandalkan penilaian mereka sendiri. Masalahnya, banyak dari mereka kesulitan membedakan konten yang asli dan palsu.
"Saya pernah melihat yang lain dan bisa tahu bahwa itu AI," kata Wundrow saat menonton video seorang perempuan lanjut usia yang mengklaim suplemennya didukung pengobatan China. "Bagi saya, ini tidak terlihat seperti AI."
(dem/dem) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]