China Juru Selamat Manusia di Bumi, Bukan Amerika
Jakarta, CNBC Indonesia - China tengah mengembangkan sistem peringatan dini untuk mendeteksi asteroid yang berpotensi menghantam Bumi. Sistem ini akan menggabungkan sejumlah teleskop di darat dengan konstelasi satelit yang beroperasi di orbit.
Rencana membangun sistem tersebut diungkap oleh Science and Technology Daily, media yang dikelola pemerintah China, mengutip Li Mingtao, kepala ilmuwan di Pusat Riset Pemantauan dan Peringatan Dini Asteroid di bawah naungan China National Space Administration (CNSA).
Menurut Li, sejauh ini tidak ada asteroid yang telah ditemukan dan diketahui berada dalam jalur tabrakan langsung dengan Bumi. Pernyataan itu disampaikan dalam laporan pada 30 Juni, bertepatan dengan Hari Asteroid Internasional yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Li mengatakan lebih dari 95% asteroid dekat Bumi berdiameter lebih dari 1 kilometer telah ditemukan. Ukuran tersebut dinilai cukup besar untuk memicu bencana global.
Namun, para ilmuwan baru menemukan sekitar 45% asteroid berukuran sekitar 140 meter. Jika menghantam Bumi, asteroid dengan ukuran tersebut dapat menghancurkan wilayah seukuran sebuah negara kecil.
"Asteroid dekat Bumi yang belum ditemukan ini menimbulkan risiko terbesar. Jumlahnya banyak, sangat redup sebelum mendekat, dan bahkan bisa tiba-tiba mendekat dari arah Matahari," kata Li, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (17/7/2026).
"Itulah sebabnya dunia meningkatkan upaya untuk memperkuat kemampuan pemantauan dan peringatan dini serta mendata asteroid-asteroid ini sesegera mungkin. Kita tidak boleh menganggap remeh risiko tumbukan, tetapi kita juga tidak perlu terlalu cemas," lanjutnya.
China akan memilih lokasi-lokasi terbaik untuk membangun beberapa teleskop optik dengan aperture besar. Menurut laporan Science and Technology Daily, langkah tersebut akan memungkinkan sistem melakukan cakupan langit yang luas dan pengukuran yang akurat.
Komponen berbasis luar angkasa akan membantu mengatasi sejumlah keterbatasan observatorium di Bumi. Satelit tidak terpengaruh oleh siklus siang dan malam maupun kondisi cuaca.
Observatorium yang berada di orbit juga dapat mendeteksi asteroid yang bergerak menuju Bumi dari arah Matahari. Hal ini penting karena asteroid yang datang dari arah tersebut bisa sulit terdeteksi oleh teleskop di Bumi.
Salah satu contohnya adalah asteroid yang tidak terdeteksi hingga menerangi langit di atas Chelyabinsk, Rusia, pada 2013.
Setelah sistem mendeteksi potensi ancaman, para ilmuwan akan menghitung lintasan asteroid serta kemungkinan terjadinya tumbukan. Jika ancaman tersebut dinilai kredibel dan mendesak, pihak berwenang akan menerima peringatan.
China mulai merekrut peneliti pertahanan planet pada tahun lalu setelah Badan Antariksa Eropa (ESA) menyebut asteroid 2024 YR4, yang diperkirakan memiliki lebar hingga 90 meter, sempat memiliki peluang 2,2% untuk menghantam Bumi pada 2032. Namun, para ilmuwan kemudian menyatakan asteroid tersebut kemungkinan besar tidak akan menabrak Bumi.
Laporan itu juga menyebut China telah membuat terobosan dalam pengembangan algoritma untuk menilai risiko tabrakan asteroid.
Li mengatakan cara paling praktis untuk menghadapi ancaman asteroid adalah menggunakan metode tumbukan kinetik. Metode ini dilakukan dengan menabrak asteroid menggunakan wahana antariksa untuk mengubah lintasannya.
Menurut Li, asteroid juga dapat dialihkan menggunakan laser, sinar partikel, atau gaya gravitasi. Namun, metode-metode tersebut relatif lemah dan dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memberikan dampak besar terhadap lintasan asteroid.
(dem/dem) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]