Biaya Token AI Bengkak, Google Kasih Saran agar Perusahaan Tak Kaget
Jakarta, CNBC Indonesia - Teknologi Artificial Intelligence (AI) terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dari sebelumnya masyarakat masih meraba-raba, hingga kini mulai menjadi 'pendamping' kehidupan sehari-hari.
Country Director Google Cloud Indonesia, Karim Siregar mengatakan AI sudah berada pada titil lanjut dalam pengembangannya. Bukan lagi sekadar eksperimen, tetapi sudah andal untuk memecahkan masalah sehari-hari.
"Kita tidak perlu lagi memberi keyakinan kepada siapa pun untuk 'oh, gunanya AI itu seperti apa'. Tahap berikutnya, kita mau memperluas penggunaan AI tidak hanya untuk pribadi, tetapi juga untuk bisnis," kata Karim, dalam acara acara Google Cloud Media Briefing, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Karim menjelaskan tantangan AI saat digunakan dalam skala besar, yakni soal biaya. Perusahaan perlu menghitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menggunakan AI.
"Kita tidak boleh melupakan dampak biaya penggunaan AI. Sekarang AI itu di-charge-nya menggunakan token ya, teman-teman kalau tahu token itu sama kayak PLN bayarnya kan berdasarkan pulsa gitu ya, kalau AI kan dengan token," jelas Karim.
Saat AI digunakan secara menyeluruh, perusahaan harus bisa mengatur dan mengontrol konsumsi token. Mulai dari berapa cost dan nilai tambah bagi bisnis.
Perusahaan juga perlu melakukan uji coba yang lebih kecil, sebelum akhirnya meningkatkan pada skala yang lebih besar. Dengan begitu tidak akan kaget dengan lonjakan biaya yang akan dikeluarkan nantinya.
"Sehingga pada saat kita implementasikan di level perusahaan itu kita tidak kaget ketika ada lonjakan biaya yang sangat tinggi," dia menjelaskan.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]