AI Prediksi Kekuatan Badai Matahari, Ini Efek Ngerinya ke Bumi

Wiji Nur Hayat,  CNBC Indonesia
12 July 2026 07:45
Siluet seorang petugas pemadam kebakaran berdiri di samping mobil pemadam kebakaran saat matahari terbenam ketika Kebakaran Franklin berkobar di Malibu, California, AS, 10 Desember 2024. (REUTERS/Ringo Chiu)
Foto: Siluet seorang petugas pemadam kebakaran berdiri di samping mobil pemadam kebakaran saat matahari terbenam ketika Kebakaran Franklin berkobar di Malibu, California, AS, 10 Desember 2024. (REUTERS/Ringo Chiu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badai Matahari dapat menimbulkan dampak serius terhadap berbagai infrastruktur penting di Bumi, mulai dari satelit, jaringan komunikasi, sistem navigasi hingga kelistrikan. Karena itu, kemampuan memprediksi kekuatan badai Matahari menjadi hal yang krusial untuk mengurangi risiko kerusakan yang ditimbulkannya.

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tiar Dani, menjelaskan tingkat bahaya badai Matahari sangat dipengaruhi oleh arah medan magnet antarplanet yang dibawanya. Dalam fisika antariksa, komponen tersebut dikenal sebagai Bz.

Menurutnya, ketika medan magnet antarplanet mengarah ke selatan selama beberapa jam, interaksinya dengan medan magnet Bumi akan menjadi jauh lebih kuat. Kondisi itu membuat perisai magnet Bumi lebih mudah ditembus partikel dan energi dari Matahari sehingga memicu badai geomagnetik.

"Seperti menghadapi badai di daratan, kita juga perlu mengetahui seberapa kuat badai Matahari agar dapat menyiapkan langkah mitigasi yang tepat," kata Tiar dilansir dari situs resmi BRIN, Minggu (11/7/2026).

Ia menjelaskan, badai geomagnetik memiliki tingkat kekuatan mulai dari skala ringan (G1) hingga ekstrem (G5). Pada level ringan, dampaknya umumnya hanya berupa gangguan kecil pada jaringan listrik dan munculnya fenomena aurora.

"Pada skala ringan, dampaknya mungkin hanya berupa fluktuasi kecil pada jaringan listrik dan munculnya aurora. Namun, jika nilai Bz sangat negatif dan bertahan lama, badai dapat menembus skala ekstrem (G5)," ujarnya.

Tiar mengatakan, pada level tertinggi ancaman yang ditimbulkan jauh lebih besar. Arus listrik induksi yang sangat kuat dapat merusak transformator dan memicu pemadaman listrik berskala luas seperti yang pernah terjadi di Quebec pada 1989. Selain itu, komunikasi radio dan sistem navigasi penerbangan berpotensi terganggu secara global. Kerapatan atmosfer bagian atas juga dapat meningkat sehingga puluhan satelit berisiko kehilangan orbitnya.

Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, BRIN mengembangkan sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berbasis multi-modal deep learning bernama Bz4SWx. Sistem ini dirancang untuk memprediksi nilai minimum Bz beserta waktu terjadinya hingga 96 jam atau empat hari setelah lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME) dari Matahari.

Dalam prosesnya, AI tidak hanya menganalisis kecepatan dan arah CME, tetapi juga mempelajari citra medan magnet Matahari atau magnetogram. Dengan menggabungkan berbagai data tersebut, sistem dapat memprediksi pola medan magnet badai Matahari sebelum mencapai Bumi.

"Dengan menggabungkan berbagai jenis data tersebut, AI mampu memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai karakteristik medan magnet yang sedang terbentuk sehingga mampu memprediksi bagaimana pola Bz yang akan terjadi dari sejak CME hingga 4 hari berikutnya," paparnya.

Tiar menambahkan, sistem ini juga memanfaatkan teknologi attention mechanism yang membuat AI mampu memusatkan analisis pada area Matahari yang paling berpotensi memicu badai geomagnetik.

"Cara kerjanya mirip dengan mata manusia yang secara otomatis akan tertuju pada objek yang paling mencolok atau berpotensi berbahaya di sekitarnya," tuturnya.

Hasil pengujian menunjukkan sistem AI tersebut mampu memprediksi intensitas medan magnet badai Matahari dengan tingkat akurasi yang menjanjikan sekaligus memberikan peringatan dini hingga empat hari sebelum badai mencapai Bumi.

"Dengan informasi yang lebih cepat dan akurat, langkah mitigasi dapat dilakukan lebih awal untuk meminimalkan risiko gangguan yang ditimbulkan oleh cuaca antariksa ekstrem," tegas Tiar.

(wur/wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Teknologi AI Milik RI Pantau 'Kiriman' Matahari Sebelum Sampai ke Bumi


Most Popular
Features