Dunia Kacau Balau, Negara-Negara Kaya Kompak Hamburkan Uang Buat Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia sedang dilanda guncangan bertubi-tubi. Di tengah perang Rusia-Ukraina, muncul pertumpahan darah di Timur Tengah sejak invasi Israel ke Palestina pada Oktober 2023. Perang kemudian meluas antara Israel-AS dengan Iran, serta Israel dengan Lebanon.
Belum lagi 'perang' teknologi yang kian memanas antara AS-China, dua negara ekonomi terbesar di dunia, yang turut membuat dunia waswas. Kondisi dunia yang 'kacau' dan penuh ketidakpastian memicu fenomena baru.
Banyak negara kaya yang mengalokasikan kekayaan negara (Sovereign Wealth Funds/SWF) untuk prioritas nasional yang strategis, mulai dari infrastruktur yang tangguh hingga industri domestik utama, di samping mengejar imbal hasil investasi.
Hal ini diungkap sebuah studi dari IE University di Spanyol yang dirilis pada Jumat (10/7). Studi itu menemukan SWF yang mengelola lebih dari US$15 triliun memainkan peran besar dalam pendanaan kecerdasan buatan (AI), seiring dengan langkah pemerintah yang memandang AI dan semikonduktor sebagai aset strategis.
"Dunia yang terfragmentasi saat ini telah memberikan dampak," ujar Javier Capapé, editor laporan sekaligus direktur riset SWF di IE University, dikutip dari Reuters.
"SWF makin banyak digunakan pemerintah untuk menjalankan strategi nasional serta membangun posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai global," ia menambahkan.
Studi tersebut juga menunjukkan adanya pergeseran ke arah kesepakatan bernilai lebih besar. Meskipun jumlah investasi langsung turun 17% dibandingkan periode pelaporan sebelumnya menjadi 391 transaksi, total nilai investasi justru melonjak 91% menjadi US$404 miliar dibandingkan dengan laporan universitas tahun 2024.
Capapé menyebutkan bahwa investasi terkait AI mencakup sekitar sepertiga dari total nilai investasi yang dipantau dalam studi tersebut, di mana perusahaan-perusahaan raksasa seperti Stargate, OpenAI, dan Databricks berhasil menarik modal dari investor SWF yang memiliki visi investasi jangka panjang.
Kesepakatan terkini mencakup dukungan MGX yang berbasis di Abu Dhabi terhadap OpenAI, pendanaan untuk xAI dari MGX, Qatar Investment Authority, dan Oman Investment Authority, serta partisipasi QIA dan GIC Singapura dalam putaran pendanaan Anthropic senilai US$13 miliar.
AS menarik porsi investasi terbesar senilai US$220,4 miliar, yang didorong oleh fokus kuat pada AI. Namun, Capapé menyatakan studi yang memantau investasi langsung selama 18 bulan hingga Desember 2025 tersebut, hanya mencakup "puncak gunung es". Pasalnya, banyak investasi SWF yang tidak diungkapkan kepada publik.
Negara-negara kaya energi, termasuk negara-negara Timur Tengah dan Norwegia, tercatat sebagai investor besar, namun Temasek asal Singapura memimpin dalam hal volume kesepakatan dengan total 71 transaksi.
Laporan tersebut memantau 12 dana investasi baru, termasuk MGX serta dana investasi di Irlandia, Inggris, Botswana, dan Spanyol. Capapé mengatakan tren ini mencerminkan meningkatnya minat untuk memanfaatkan modal negara guna melakukan investasi strategis dan memperluas pengaruh di luar negeri.
"Faktor-faktor non-pasar kini memiliki arti yang lebih penting dibandingkan periode mana pun sejak berakhirnya Perang Dingin," ujar Capapé.
"Kita sedang memasuki paradigma baru, dan dana kekayaan negara telah menjadi bagian dari perubahan tersebut," ia memungkasi.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]