Riset: Derita Anak Akibat Ayah Ibu Sering Buka HP Kebawa Sampai Dewasa
Jakarta, CNBC Indonesia - Smartphone kini menjadi kebutuhan sehari-hari. Namun, kebiasaan orang tua yang terlalu asyik memegang HP saat bersama anak ternyata membawa dampak serius. Sebuah penelitian terbaru yang dilansir situs teknologi Gizmodo mengungkapkan bahwa gangguan perhatian ini bisa merusak ikatan emosional jangka panjang dan memicu masalah rasa kedekatan (attachment) pada anak saat mereka tumbuh dewasa.
Istilah yang sering disebut para peneliti adalah phubbing yaitu perilaku mengabaikan orang di hadapan demi fokus pada layar gawai. Saat orang tua terus-menerus mengecek notifikasi, menggulir media sosial, atau membalas pesan saat sedang bermain, makan, atau mengobrol dengan anak, pesan yang diterima anak adalah "ponsel ini lebih penting daripada dirimu."
Studi yang dimuat dalam jurnal Frontiers in Psychology pada Juni 2026 melibatkan 600 remaja usia 12-17 tahun. Hasilnya anak yang sering merasa tersaingi oleh HP orang tua memiliki risiko memiliki permasalahan hubungan jauh lebih tinggi. Mereka cenderung merasa cemas berlebihan, takut ditinggalkan, atau justru menarik diri secara emosional karena merasa tidak didengar.
Mengapa Ini Berdampak Jangka Panjang?
Ikatan emosional yang kuat di usia dini adalah fondasi utama kesehatan mental anak. Ketika kebutuhan akan perhatian dan tanggapan hangat tidak terpenuhi secara konsisten:
- Usia balita: Sering menunjukkan reaksi marah, menangis berlebihan, atau justru diam dan pasrah karena lelah menarik perhatian
- Usia sekolah: Lebih mudah gelisah, sulit berkonsentrasi, dan berisiko meniru kebiasaan bermain gawai untuk mengisi kekosongan emosi
- Saat dewasa: Kesulitan membangun kepercayaan, menjalin hubungan yang sehat, serta lebih rentan terhadap stres dan rasa tidak aman
"Dampaknya bukan datang dari HP-nya sendiri, melainkan dari perasaan diabaikan yang dialami anak berulang kali. Lama-kelamaan, mereka belajar bahwa kehadiran orang tua tidak bisa diandalkan sepenuhnya," jelas tim peneliti.
|
Pilihan Redaksi
|
Penelitian lain juga menemukan bahwa hanya dengan menurunkan tingkat responsivitas orang tua selama 10-20 menit saja, sudah cukup membuat suasana interaksi berubah drastis. Anak yang biasanya aktif bercerita akan berhenti, dan rasa percaya diri mereka perlahan menurun.
Bahkan, saat orang tua bermaksud "hanya sebentar", bagi anak durasi itu terasa sangat lama. Otak mereka sedang dalam masa peka, sangat membutuhkan kontak mata, sentuhan, dan percakapan langsung untuk membangun sistem emosi yang stabil.
Solusi yang Sederhana tapi Efektif
Para psikolog menyarankan langkah praktis agar gawai tetap menjadi alat bantu, bukan perusak hubungan:
- Tetapkan zona bebas gawai. Saat makan, sebelum tidur, atau saat berkumpul, simpan HP jauh dari jangkauan
- Gunakan fitur batas waktu. Atur notifikasi agar tidak mengganggu waktu bersama keluarga
- Kualitas di atas kuantitas. Lebih baik 30 menit perhatian penuh daripada 2 jam bersama tapi mata terus tertuju ke layar
- Berikan contoh. Jika ingin anak tidak kecanduan gawai, tunjukkan bahwa hidup bisa berjalan baik tanpa terus-menerus memegangnya
source on Google [Gambas:Video CNBC]