Fenomena Ajaib Paris Kini Lebih Panas dari Mekah, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas ekstrem tengah melanda sebagian besar wilayah Eropa. Bahkan, suhu di sejumlah kota besar Eropa kini melampaui kota-kota yang selama ini identik dengan cuaca panas, termasuk Mekah di Arab Saudi.
Berdasarkan perbandingan suhu maksimum yang dilakukan Al Jazeera pada 24 Juni 2026, Paris, Prancis mencatat suhu mencapai 41 derajat Celsius, lebih tinggi dibandingkan Mekah yang berada di 40 derajat Celsius. Sementara itu, Madrid, Spanyol mencatat suhu 39 derajat Celsius, lebih panas dibandingkan Bandar Abbas, Iran, yang mencapai 38 derajat Celsius.
Gelombang panas yang menyengat di Eropa telah mendorong pemerintah di sejumlah negara mengeluarkan peringatan merah atau tingkat bahaya tertinggi, termasuk di Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia.
Otoritas setempat juga memperingatkan meningkatnya risiko gangguan kesehatan, kebakaran hutan, hingga terganggunya aktivitas transportasi akibat suhu ekstrem.
Kenapa Eropa Jadi Sangat Panas?
Penyebab utamanya adalah fenomena heat dome atau kubah panas, yakni area bertekanan tinggi yang bertahan di atas Eropa Barat. Sistem ini memerangkap udara panas sehingga menciptakan langit cerah, angin yang lemah, dan paparan sinar matahari berkepanjangan.
Kondisi tersebut diperparah oleh aliran udara panas dari Afrika Utara yang bergerak ke arah utara dan memperkuat suhu ekstrem di berbagai wilayah Eropa.
Selain itu, suhu laut di sekitar Inggris, Irlandia, Prancis, dan Mediterania bagian barat juga tercatat jauh lebih hangat dari biasanya. Perairan yang lebih hangat membuat wilayah pesisir tetap panas, terutama pada malam hari. Bahkan, otoritas pelabuhan Spanyol menyebut suhu perairan pesisir negara itu telah mencapai rekor tertinggi.
Data Copernicus menunjukkan wilayah yang paling terdampak, yakni Prancis bagian barat, Inggris, dan Wales, mengalami lonjakan suhu harian rata-rata lebih dari 12 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, demikian dikutip dari Al Jazeera, Rabu (1/7/2026).
Para ilmuwan menilai gelombang panas yang datang lebih awal ini merupakan bagian dari tren pemanasan global yang lebih luas. Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Sejak pertengahan 1990-an, suhu di Eropa meningkat sekitar 0,56 derajat Celsius per dekade, lebih dari dua kali lipat rata-rata kenaikan suhu global.
Perubahan iklim juga membuat gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, lebih intens, serta muncul lebih awal maupun lebih lama dibandingkan sebelumnya.
Kondisi ini membuat Eropa semakin rentan menghadapi cuaca ekstrem. Sebab, sebagian besar bangunan dan infrastruktur di kawasan tersebut tidak dirancang untuk menghadapi suhu tinggi dalam waktu lama. Selain itu, hanya sekitar 20% rumah di Eropa yang dilengkapi pendingin udara (AC).
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]