China Tendang Amerika Jadi Nomor Satu di Dunia, Trump Minggir!
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertarungan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan China masih terus berlangsung. Dua negara ekonomi terbesar di dunia itu berlomba-lomba untuk menghadirkan inovasi terbaru dan tercanggih untuk mendominasi dunia.
Namun, agaknya AS harus menerima kekalahan terhadap China di sektor superkomputer. Dikutip dari Reuters, Rabu (24/6/2026), China baru saja menggeser AS dari urutan nomor satu superkomputer tercepat di dunia.
Pakar menyebut hasil ini tidak serta-merta berarti China memiliki posisi unggul dalam perlombaan mendominasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Keunggulan di sektor superkomputer hanya menunjukkan besarnya ambisi China mencapai kemandirian sistem komputasi, tanpa tergantung dengan teknologi asing.
Sistem LineShine di Pusat Komputasi Super Nasional di Shenzhen, China, menggunakan chip yang dirancang di dalam negeri dan memenangkan posisi teratas di 'TOP500', yakni peringkat global superkomputer yang diterbitkan setiap dua tahun sekali.
Pemeringkatan itu diumumkan saat AS dan China meningkatkan kompetisi di sektor komputasi canggih. Pada awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengamankan posisi AS di depan China dalam komputasi kuantum yang mulai berkembang.
Dalam edisi Juni 2026 untuk pemeringkatan TOP500, LineShine berhasil mengalahkan El Capitan, yakni superkomputer asal AS yang terletak di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore. El Capitan digunakan pemerintah AS untuk mengembangkan dan menjaga cadangan senjata nuklir.
Namun, para ahli teknologi dan kebijakan yang diwawancarai Reuters mengatakan bahwa kemenangan China atas AS di sektor superkomputer tidak berarti China memiliki komputer paling canggih untuk pekerjaan AI.
Pasalnya, perubahan dalam industri komputasi dalam beberapa tahun terakhir dan metode yang digunakan untuk menyusun daftar tersebut bersifat dinamis. LineShine juga berada di peringkat ke-4 dalam uji benchmark yang dirancang untuk mensimulasikan pekerjaan komputasi yang lebih mirip dengan AI.
Selama beberapa dekade, superkomputer menggabungkan banyak mesin terpisah untuk mengerjakan masalah ilmiah kompleks seperti mensimulasikan bagaimana atom berinteraksi satu sama lain dan sebagian besar merupakan domain laboratorium nasional dan universitas.
Untuk masuk dalam daftar TOP500, operator superkomputer harus menjalankan serangkaian tes benchmark yang bertujuan untuk meniru pekerjaan tersebut.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan komputasi cloud seperti Microsoft, Amazon, dan Google milik Alphabet, telah membangun superkomputer besar mereka sendiri tetapi mengarahkannya untuk pekerjaan AI.
Sebagian besar perusahaan tersebut tidak memilih untuk bersaing memperebutkan tempat di daftar TOP500. Sebuah studi tahun lalu oleh para peneliti kebijakan AI Konstantin Pilz, James Sanders, Robi Rahman, dan Lennart Heim menemukan bahwa sistem Colossus milik SpaceX kemungkinan sudah lebih canggih daripada El Capitan milik pemerintah AS.
"Jika perusahaan penyedia layanan cloud skala besar mengirimkan sistem mereka, 'sistem tercepat di dunia' ini tidak akan masuk lima besar," kata Jimmy Goodrich, seorang peneliti senior di Institut Konflik dan Kerja Sama Global Universitas California.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]