Ambisi Baru Donald Trump, Apa Itu Komputer Kuantum?

Redaksi,  CNBC Indonesia
24 June 2026 07:50
Presiden AS Donald Trump memberi isyarat saat ia meninjau pesawat VC-25B yang dihadiahkan oleh Qatar yang akan digunakan sebagai Air Force One, di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, Jumat (19/6/2026). (REUTERS/Elizabeth Frantz)
Foto: Presiden AS Donald Trump memberi isyarat saat ia meninjau pesawat VC-25B yang dihadiahkan oleh Qatar yang akan digunakan sebagai Air Force One, di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, Jumat (19/6/2026). (REUTERS/Elizabeth Frantz)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat melancarkan langkah strategis untuk mempercepat pengembangan komputer kuantum bertenaga tinggi yang ditargetkan selesai dalam waktu 2 tahun ke depan, sebagai bagian dari persaingan teknologi global dengan negara lain.

Presiden Donald Trump menandatangani dua executive order (perpres) pada Senin (22/6) yang bertujuan mendorong pembangunan komputer kuantum untuk kebutuhan penelitian ilmiah sekaligus memperkuat pertahanan sistem pemerintahan dari ancaman siber yang mungkin muncul akibat teknologi ini.

Menurut Michael Kratsios, Kepala Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih, pengembangan komputer kuantum ini ditargetkan rampung pada tahun 2028.

"Kami yakin target ini dapat tercapai," ujarnya dalam sesi penjelasan kepada media.

Komputer kuantum bekerja dengan memanfaatkan hukum fisika kuantum untuk mengolah informasi, sehingga mampu menyelesaikan perhitungan masalah yang sangat kompleks jauh lebih cepat dibanding komputer super konvensional yang ada saat ini.

Di satu sisi, teknologi ini membuka peluang besar bagi kemajuan kecerdasan buatan, penemuan material baru, serta riset kimia dan farmasi. Namun di sisi lain, kemampuannya untuk memecahkan sistem enkripsi standar saat ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko serangan siber yang lebih canggih.

Salah satu poin penting dalam perintah tersebut adalah target untuk memindahkan sistem komputasi utama pemerintah AS ke sistem kriptografi pasca-kuantum paling lambat pada tahun 2030 atau 2031. Langkah ini dimaksudkan agar data dan jaringan pemerintah tetap aman meskipun kemampuan peretasan berbasis kuantum mulai berkembang luas.

Selain itu, kebijakan ini juga mengarahkan lembaga-lembaga pemerintah untuk menyusun rencana penerapan sensor dan jaringan berbasis kuantum dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Pemerintah AS juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama internasional terkait perlindungan hak kekayaan intelektual dan keamanan rantai pasok teknologi ini.

Sebelumnya, Departemen Perdagangan AS mengumumkan penyediaan pendanaan senilai 2 miliar dolar AS untuk mengambil kepemilikan saham di sembilan perusahaan pengembang komputer kuantum, termasuk usaha baru yang didirikan oleh IBM.

Langkah ini menegaskan posisi AS dalam persaingan memperebutkan kepemimpinan teknologi kuantum, yang dianggap sebagai salah satu fondasi utama bagi keunggulan ekonomi dan keamanan nasional di masa depan.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article China Bikin Trump Linglung, Aturan Baru Mendadak Harus Ditunda


Most Popular
Features