Bank Besar Makin Kencang PHK Massal, Mau Tendang 'SDM Rendah'
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal kembali menghantam industri perbankan global secara agresif. Kali ini, giliran bank raksasa dunia yang berbasis di London, Standard Chartered, mengumumkan rencana restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas lebih dari 7.000 karyawan. Langkah ekstrem ini diambil seiring dengan masifnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sektor keuangan.
Di Indonesia, PHK juga terjadi masih terjadi di berbagai sektor, seperti ritel dan teknologi. Namun, relatif jarang terdengar kabar PHK yang datang dari perbankan.
Manajemen Standard Chartered mengungkapkan bahwa integrasi teknologi AI akan menjadi motor penggerak utama dalam mendongkrak efisiensi operasional perusahaan. Langkah ini dinilai krusial demi memompa profitabilitas dan menjaga daya saing di tengah kompetisi industri keuangan global yang kian mengetat.
Dilansir dari Reuters, bank multinasional ini bakal memotong sekitar 15% posisi kerja di fungsi korporasi hingga tahun 2030 mendatang. Jika dikalkulasikan, angka tersebut setara dengan pencoretan 7.000 lebih lapangan kerja dari total 52.000 pegawai yang saat ini mengisi divisi tersebut.
CEO Standard Chartered, Bill Winters, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar strategi cost-cutting atau penghematan biaya operasional konvensional. Lebih dari itu, perusahaan tengah melakukan transformasi struktural dengan mengganti klasifikasi sumber daya manusia (SDM) bernilai rendah (low-value human capital) dengan modal teknologi.
"Ini bukan sekadar pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti human capital bernilai rendah dengan financial capital dan investment capital yang kami tanamkan," ujar Winters tegas, dikutip Selasa (23/6/2026).
Sebagai informasi, total tenaga kerja Standard Chartered di seluruh dunia saat ini mencapai hampir 82.000 pegawai. Winters menjelaskan, penyusutan jumlah karyawan ini bakal dieksekusi lewat sistem otomatisasi tingkat tinggi dan implementasi program AI. Kendati demikian, manajemen berjanji akan membuka opsi pelatihan ulang (reskilling) bagi karyawan terdampak.
"Orang-orang yang ingin meningkatkan keterampilan (upgrade skill) dan terus melanjutkan karier akan kami beri kesempatan untuk reposisi," tambah Winters.
Berdasarkan peta restrukturisasi perusahaan, badai PHK ini diprediksi paling kuat menghantam pusat operasional bagian belakang (back-office), termasuk yang berlokasi di Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa. AI diproyeksikan akan menjadi fasilitator utama dalam merombak total sistem inti (core system) perbankan milik Standard Chartered.
Tren bersih-bersih SDM lewat jalur AI ini bukan barang baru di panggung finansial global. Sebelumnya, raksasa keuangan asal Jepang, Mizuho Financial Group, juga mengumumkan langkah serupa dengan rencana memangkas hingga 5.000 posisi kerja dalam kurun waktu satu dekade ke depan. Saat ini, perbankan global memang tengah terseret arus perlombaan mengintegrasikan model AI termutakhir, sembari membentengi diri dari ancaman kejahatan siber yang kian canggih.
Target Agresif di Tengah Ketegangan Geopolitik
Menariknya, di balik kebijakan PHK massal tersebut, Standard Chartered justru memasang target pertumbuhan bisnis yang sangat agresif. Bank ini membidik tingkat pengembalian ekuitas berwujud (return on tangible equity/ROTE) melesat di atas 15% pada tahun 2028, dan merangkak naik hingga menyentuh level 18% pada 2030.
Tak hanya itu, korporasi juga mempercepat target penghimpunan dana baru bersih (net new inflow) sebesar US$ 200 miliar ke tahun 2028, satu tahun lebih cepat dari proyeksi awal di 2029. Fokus bisnis ke depan dipastikan akan bergeser ke segmen dengan margin keuntungan tebal, seperti nasabah ritel kelas atas (wealthy retail) dan institusi keuangan kakap.
Meski begitu, jalan Standard Chartered dipastikan tidak akan sepenuhnya mulus. Sebagai bank yang memiliki ekspansi kuat di kawasan Asia Pasifik dan Afrika, bayang-bayang risiko geopolitik global-terutama konflik bersenjata di Timur Tengah-masih menjadi tantangan utama yang wajib diwaspadai.
Bahkan pada kuartal pertama tahun ini, Standard Chartered tercatat telah mengamankan dana provisi kehati-hatian (pencadangan) sebesar US$ 190 juta khusus untuk memitigasi dampak rembetan dari konflik Timur Tengah.
"Kami sangat tangguh (resilient)," pungkas Winters optimis saat merespons kekhawatiran pasar terkait dampak tensi geopolitik terhadap target-target bombastis bank ke depan.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]