Jakarta Kini Nomor Satu Kalahkan Tokyo-Shanghai, PBB Ungkap Alasannya

Redaksi,  CNBC Indonesia
16 June 2026 18:15
Sejumlah warga beraktivitas di area tanggul Pantai Muara Baru, Jakarta, Jumat (10/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Sejumlah warga beraktivitas di area tanggul Pantai Muara Baru, Jakarta, Jumat (10/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Suara klakson yang tak pernah berhenti, kerumunan di setiap sudut jalan, dan antrean panjang di stasiun yang menggambarkan keseharian Jakarta kini tercatat secara resmi dalam data dunia. Berdasarkan laporan terbaru World Urbanization Prospects 2025 yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jakarta kini resmi menjadi kota dengan jumlah penduduk terbesar di seluruh dunia, menggeser Tokyo yang bertahun-tahun memegang posisi ini sejak tahun 2000.

Angkanya sangat mengejutkan. Hampir 41,9 juta jiwa kini tinggal dan beraktivitas di kawasan metropolitan Jakarta dan sekitarnya. Angka ini melonjak tajam dari posisi kedua sebelumnya, jauh melampaui Dhaka (Bangladesh) di urutan kedua dengan 36,6 juta penduduk, serta Tokyo yang kini ada di posisi ketiga dengan 33,4 juta jiwa yang jumlahnya cenderung stabil.

Lantas, apa alasan sebenarnya Jakarta bisa melesat ke puncak daftar ini?

PBB menjelaskan ada tiga faktor utama yang membuat ibu kota Indonesia dan wilayah penyangganya tumbuh sedemikian pesat.

1. Definisi Baru Satu Kesatuan dengan Jabodetabek

Ini alasan paling mendasar. PBB mengubah cara penghitungan populasi kota, tidak lagi hanya berdasarkan batas wilayah administrasi resmi, melainkan melihat kawasan fungsional atau wilayah urban yang menyatu secara fisik dan ekonomi. Artinya, angka 41,9 juta itu bukan hanya penduduk DKI Jakarta saja, melainkan mencakup seluruh wilayah Jabodetabekpunjur yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga sebagian wilayah Puncak dan Cianjur yang terhubung penuh dengan ibu kota.

Meskipun data administrasi resmi DKI Jakarta hanya sekitar 11 juta jiwa, jutaan orang lain setiap hari masuk, keluar, dan tinggal di kota-kota satelit ini, bekerja, berbelanja, atau bersekolah di wilayah inti. Bagi PBB, seluruh kawasan ini berfungsi sebagai satu kota raksasa yang tidak bisa dipisahkan, sehingga dihitung sebagai satu kesatuan.

2. Magnet Ekonomi yang Tak Tergoyahkan

Seperti halnya Dhaka di Bangladesh, pertumbuhan penduduk Jakarta sangat didorong oleh arus urbanisasi besar-besaran. Warga dari berbagai daerah di Indonesia terus berdatangan karena Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi, bisnis, pendidikan, dan layanan kesehatan terbesar di negeri ini. Di sini peluang kerja, usaha, dan pendapatan dirasakan jauh lebih besar dibandingkan dengan daerah asal.

Sejumlah penumpang menumpuk akibat gangguan pada layanan KRL Commuter Line di Stasiun Kebayoran, Senin (4/5/2026). (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)Sejumlah penumpang menumpuk akibat gangguan pada layanan KRL Commuter Line di Stasiun Kebayoran, Senin (4/5/2026). (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

Pemindahan ibu kota negara ke Nusantara di Kalimantan Timur pun ternyata belum mampu menahan laju ini. PBB memproyeksikan, dalam 25 tahun ke depan, populasi kawasan Jakarta masih akan bertambah sekitar 10 juta orang lagi. Daya tarik ekonomi ibu kota ternyata jauh lebih kuat dari sekadar perpindahan pusat pemerintahan.

3. Tekanan Iklim dan Lingkungan Turut Berperan

Di Bangladesh, migrasi ke Dhaka terjadi karena banyak daerah terancam banjir dan naiknya permukaan laut. Di Indonesia, hal serupa juga terjadi.

Banyak warga dari daerah pesisir atau wilayah yang rawan bencana iklim memilih pindah ke Jakarta demi keamanan dan akses fasilitas yang lebih baik, meskipun Jakarta sendiri kini justru menghadapi ancaman serupa: sekitar seperempat wilayahnya diprediksi akan tenggelam atau tergenang air pada tahun 2050 akibat penurunan tanah dan perubahan iklim.

Perubahan Peta Dunia

Peringkat baru ini mengubah peta demografi dunia. Dari 10 kota terpadat terbesar, 9 di antaranya berada di Asia. Hanya Kairo di Mesir sebagai satu-satunya kota di luar benua yang masuk daftar. Jumlah kota besar atau "megacities" (penduduk di atas 10 juta jiwa) kini ada 33 di seluruh dunia, naik empat kali lipat dibanding tahun 1975.

Berikut daftar lengkap 10 kota terpadat di dunia versi PBB 2025:

  1. Jakarta, Indonesia: 41,9 juta
  2. Dhaka, Bangladesh: 36,6 juta
  3. Tokyo, Jepang: 33,4 juta
  4. New Delhi, India: 30,2 juta
  5. Shanghai, Tiongkok: 29,6 juta
  6. Guangzhou, Tiongkok: 27,6 juta
  7. Manila, Filipina: 24,7 juta
  8. Kolkata, India: 22,5 juta
  9. Seoul, Korea Selatan: 22,5 juta
  10. Mumbai, India: 21,3 juta

Dhaka diproyeksikan akan menyalip Jakarta dan menjadi kota terpadat dunia pada tahun 2050, seiring pertumbuhan penduduknya yang sangat cepat. Sementara itu, kota terpadat di Amerika adalah São Paulo (18,9 juta jiwa), dan di Afrika ada Lagos yang menjadi yang terbesar di kawasan sub-Sahara.

Suasana kemacetan di kawasan Tosari-Sudirman, Jakarta, Senin (15/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Suasana kemacetan di kawasan Tosari-Sudirman, Jakarta, Senin (15/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Menjadi kota nomor satu di dunia membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, jumlah penduduk yang sangat besar berarti pasar ekonomi yang raksasa, tenaga kerja melimpah, dan potensi bisnis yang tak terbatas. Aktivitas di jalanan, pasar, dan pusat perbelanjaan tak pernah sepi.

Namun di sisi lain, tantangannya luar biasa berat. Kepadatan ekstrem ini membebani sistem transportasi, air bersih, sanitasi, hingga kesehatan. Kemacetan parah, polusi udara, dan risiko banjir semakin sulit dikendalikan.

PBB mengingatkan, predikat ini bukan sekadar prestasi, melainkan sinyal keras agar pemerintah dan warga segera merancang tata kelola kota yang jauh lebih baik, berkelanjutan, dan siap menghadapi perubahan iklim.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article PBB Sebut Jakarta Nomor Satu di Dunia, Tokyo-Shanghai Lewat


Most Popular
Features