Nvidia Sudah Ditinggalkan, Sekarang Mohon-Mohon ke China

Redaksi,  CNBC Indonesia
15 June 2026 17:20
Foto kolase Donald Trump,  Jensen Huang, dan Xi Jinping. (CNBC Indonesia)
Foto: Foto kolase Donald Trump, Jensen Huang, dan Xi Jinping. (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa chip Nvidia merupakan salah satu entitas yang paling terdampak gara-gara konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan China. Meskipun pemerintahan AS sudah mulai melunak dan mengizinkan ekspor chip H200 Nvidia ke China, tetapi Beijing masih 'jual mahal' dan belum secara formal mengizinkan chip tersebut masuk ke negaranya.

Chip H200 merupakan salah satu prosesor tercanggih buatan Nvidia yang beredar di pasaran saat ini, meskipun tak setangguh Blackwell dan Vera. Sebelumnya, chip ini juga diblokir untuk masuk ke China, tetapi belakangan Trump memberikan lampu hijau untuk ekspor H200 dengan berbagai syarat.

Dikutip dari Reuters, Senin (15/6/2026), pangsa pasar Nvidia di China saat ini secara efektif sudah nol. Padahal, China sempat menjadi salah satu klien terbesar Nvidia yang berkontribusi besar terhadap pendapatannya.

Dalam berbagai kesempatan, CEO Nvidia Jensen Huang selalu memperingatkan bahaya bagi AS jika melepas pasar China. Huang juga terus menjaga hubungan baik dengan China, mengingat pentingnya pasar tersebut.

Baru-baru ini, Reuters melaporkan Nvidia telah memberi tahu klien-kliennya di China bahwa chip Vera terbarunya untuk data center AI akan tersedia paling cepat pada Agustus 2026 mendatang. Nvidia mengatakan klien-kliennya di China sudah bisa memesannya saat ini, menurut tiga sumber yang mengetahui hal tersebut.

Upaya ini menggarisbawahi bagaimana perusahaan paling berharga di dunia tersebut dengan cepat beralih ke produk baru untuk menghidupkan kembali keberuntungannya yang menurun drastis di China. Diketahui, penjualan chip H200 ke China sudah mandek selama beberapa bulan.

Langkah Nvidia 'memohon' klien di China membeli chip Vera juga menunjukkan peningkatan persaingan yang sengit dengan perusahaan CPU besar asal AS lainnya, yakni Intel dan AMD. Kedua raksasa ini juga berlomba meningkatkan pasokan CPU server untuk data center AI.

Sumber-sumber tersebut mengatakan beberapa klien China telah menunjukkan minat pada chip Vera, CPU mandiri pertama Nvidia yang dibangun untuk AI agenik, yakni sistem yang melakukan tugas secara otonom. Sumber-sumber tersebut menolak untuk disebutkan namanya karena diskusi tersebut bersifat pribadi.

Kini, dalam produksi penuh, chip Vera dibangun untuk komputasi di balik layar yang diandalkan oleh agen AI, dan Nvidia mengatakan bahwa chip ini berjalan hingga 1,8 kali lebih cepat daripada prosesor sebanding dari para pesaingnya.

Saat memperkenalkan Vera pada Maret lalu, Huang memperkirakan chip ini akan menjadi bisnis bernilai miliaran dolar berikutnya bagi perusahaan. Nvidia juga mengatakan pada saat itu bahwa perusahaan cloud terkemuka asal China, termasuk Alibaba dan ByteDance sedang berkolaborasi dengannya untuk menerapkan Vera, tetapi tidak mengatakan apakah proses pemesanan chip sebenarnya telah dimulai.

Nvidia menolak berkomentar. Alibaba dan ByteDance tidak menanggapi permintaan komentar.

Salah satu perusahaan cloud besar di China dikatakan berencana memesan lebih dari 300 server, yang masing-masing berisi dua CPU Vera, kata salah satu sumber. Perusahaan tersebut berencana untuk menguji sistem tersebut terlebih dahulu dan memutuskan apakah akan melakukan pemesanan resmi berdasarkan hasilnya, tambah orang tersebut.

Apakah minat awal tersebut akan diterjemahkan menjadi adopsi skala besar masih harus dilihat. Pasalnya, masih ada kendala yang melibatkan ekosistem software dan kompatibilitas, serta kendala migrasi beban kerja yang dibangun di sekitar chip AI domestik, kata sumber lain.

Satu prosesor Vera akan berharga jauh di atas US$20.000 (Rp354 juta) sebelum diskon massal, dan rak yang dikonfigurasi penuh berisi 256 chip akan mencapai sekitar US$10 juta (Rp177 miliar), tergantung pada konfigurasi chip memori, menurut SemiAnalysis.

Sebagian besar chip awalnya akan masuk ke rak besar siap pasang yang disukai oleh perusahaan hyperscaler, dengan server dua prosesor yang lebih sederhana diharapkan akan meningkat kemudian, kata perusahaan riset tersebut.

Nvidia memperkirakan pendapatan US$20 miliar (Rp354 triliun) dari penjualan chip Vera pada akhir tahun fiskal ini hingga akhir Januari.

Ketertarikan China pada Vera muncul ketika persaingan AI global bergeser dari pelatihan model ke komputasi inferensi, yaitu proses menjawab pertanyaan, di mana prosesor grafis menghadapi persaingan yang lebih besar dari CPU dan chip khusus.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Nvidia Sudah Menyerah, CEO Buka-Bukaan Kondisi Sebenarnya


Most Popular
Features