Puluhan Ilmuwan Teriak Kiamat Sudah Dekat, Tandanya Makin Jelas
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanasan global saat ini telah menyentuh 1,37 derajat Celcius. Sejumlah peneliti menemukan laju perubahannya tidak akan melambat, tetapi suhu Bumi akan terus bertambah panas.
Indikator Perubahan Iklim Global (IGCC), yang menaungi 70 ilmuwan dunia dari 56 institusi di 17 negara, menemukan "kiamat" pemanasan global akan melampaui 1,5 derajat Celcius dalam empat tahun. Aktivitas manusia mendorong fenomena ini dan membuatnya menyentuh rekor tertinggi
"Indikator kunci adalah ketidakseimbangan energi, mengukur seberapa cepat akumulasi dalam sistem iklim dan memberikan ukuran penting dari laju perubahan iklim," jelas penulis utama laporan, Piers Forster, dikutip dari laman Phys.org, Jumat (12/6/2026).
"Tanpa pengaruh manusia, harusnya mendekati nol, namun terus meningkat sejak 1970-an dan sekarang pada rekor tertinggi, berlipat ganda dalam beberapa dekade terakhir," ucap direktur Priestley Center for Climate Futures di Universitas Leeds itu.
Dari laporan tersebut juga terungkap emisi gas rumah kaca global berada pada titik tertinggi, yakni dengan emisi 56,8 miliar ton setara Co2 pada 2024. Penyebabnya berasal dari pembakaran bahan bakar fosil.
Selain itu, para ilmuwan juga menemukan bahwa 2025 adalah tahun terpanas ketiga yang pernah tercatat. Fenomena ini konsisten dengan tingkat yang disebabkan manusia dan variabilitas alami pada sistem iklim yang berdampak terbatas pada suhu rata-rata global tahun lalu.
Pemanasan global karena aktivitas manusia juga ditemukan pada titik tertinggi sepanjang masa. Jumlahnya mencapai 0,27 derajat Celcius per dekade.
Hal ini khususnya didorong oleh tingkat gas rumah kaca yang mencapai rekor tertinggi, serta adanya penurunan emisi sulfur dioksida (So2). Pengurangan pada aerosol sulfur disebut menjadi sebagian dampak pemanasan karena gas rumah kaca.
Kenaikan muka laut juga disinggung oleh para peneliti. Ditemukan laju kenaikan pemanasan global makin cepat karena suhu perubahan iklim yang menyebabkan suhu air laut menghangat dan pencairan es.
Pemimpin peneliti di Institut Penelitian Kelautan Kerajaan Belanda (NIOZ), Aimee Slangen mengatakan kenaikan permukaan laut global menembus rekor baru tahun lalu. Besarannya mencapai 23 cm sejak 1901, dengan laju yang kian cepat 1,8 mm per tahun dan terus bertambah cepat.
"Ini mungkin terdengar kecil, tapi perubahannya membuat banjir pesisir terus meningkat di daerah rendah di seluruh dunia, merusak mata pencaharian dan ekosistem," dia menjelaskan.
(dem/dem) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]