Raksasa China Ramai-Ramai Masuk Daftar Hitam, Beijing Ngamuk
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa teknologi China ramai-ramai masuk 'daftar hitam' baru Amerika Serikat (AS). Di antaranya Alibaba, Baidu, BYD, dan Nio, masuk daftar sebagai identitas yang dinilai membantu militer Beijing.
Hal ini berpotensi kembali memperuncing ketegangan geopolitik antara dua negara ekonomi terbesar di dunia. Padahal, belum ada sebulan pasca Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bertemu di Beijing untuk memperpanjang 'gencatan senjata' dagang AS-China.
Dengan ini, makin perusahaan China yang masuk 'daftar hitam' AS, utamanya di sektor teknologi. Hal ini menunjukkan kekhawatiran meluas dari AS terkait keamanan nasionalnya di tengah kompetisi geopolitik yang makin sengit dengan China.
Sebelumnya, pada Februari 2026 saat kunjungan Trump ke China ditunda, Pentagon sudah mengunggah pembaruan 'daftar hitam' tersebut yang dikenal sebagai 1260H atau daftar CMC. Namun, daftar baru itu kemudian dihapus dengan sedikit sekali penjelasan ke publik.
Adapun versi terbaru yang dipublikasikan pada Senin (8/6) waktu setempat, menunjukkan nama-nama serupa dengan yang sudah dituliskan pada daftar Februari 2026, termasuk dua raksasa produsen chip memori China, CXMT dan YMTC.
Beberapa perusahaan China lain yang masuk daftar adalah WuXi AppTec yang bergerak di sektor bioteknologi, RoboSense Technology yang membuat robot berbasis AI, serta Unitree yang merupakan perusahaan robot dan humanoid kawakan asal China.
Pada 1 Juni 2026, Nvidia asal AS mengumumkan rencana untuk berkolaborasi dengan Unitree dalam mengembangkan robot untuk penelitian.
Raksasa China Ngamuk
Alibaba mengatakan tak ada dasar pemerintah AS memasukkannya ke dalam daftar tersebut. "Alibaba bukan perusahaan militer China atau bagian dari strategi militer. Kami akan mengambil semua tindakan legal untuk melawan ini," kata perusahaan, dikutip dari Reuters, Selasa (9/6/2026).
WuXi AppTec merespons bahwa daftar tersebut keliru. Mereka juga akan mengambil tindakan hukum untuk melawan ketentuan pemerintah AS.
Baidu mengemukakan pernyataan serupa. Perusahaan mengatakan anggapab bahwa Baidu adalah perusahaan militer sepenuhnya keliru. "Kami tak ragu untuk menggunakan berbagai opsi yang tersedia untuk menghapus perusahaan kami dari daftar itu," kata Baidu.
BYD, CXMT, YMTC, RoboSense, Unitree, BOE Technology Group, Tianma Microelectronics, dan TP-Link Technologies, tidak segera merespons permintaan komentar.
Keduataan China di Washington mengecam tindakan pemerintah AS. Lembaga itu melawan berbagai tindakan diskriminatif terhadap perusahaan-perusahaan China, serta akan mengamati regulasi dan hukum lokal yang berlaku.
"AS harus berhenti dengan praktik keliru dan menciptakan iklim tak adil serta diskriminatif bagi perusahaan-perusahaan China," kata juru bicara kedutaan dalam pernyataannya.
Dampak Raksasa China Masuk Daftar Hitam AS
Meskipun daftar tersebut tidak secara resmi memberlakukan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan China, berdasarkan undang-undang AS baru-baru ini, Kementerian Pertahanan akan dilarang mulai akhir bulan ini untuk melakukan kontrak langsung dengan perusahaan-perusahaan dalam daftar tersebut, dan untuk membeli produk atau layanan mereka melalui pihak ketiga mulai tahun 2027.
Dalam pengajuan ke bursa saham Hong Kong, produsen kendaraan listrik Nio mengatakan bahwa mereka tidak akan terpengaruh oleh pembatasan pengadaan, sementara Alibaba mengatakan bahwa daftar tersebut tidak akan memengaruhi kemampuan mereka "untuk melakukan bisnis seperti biasa di AS atau di mana pun di dunia."
Langkah-langkah tersebut dapat menimbulkan biaya material bagi perusahaan-perusahaan China dan mitra mereka.
Dimasukkan ke dalam daftar juga mengirimkan pesan yang berpotensi merusak kepada pemasok Pentagon dan lembaga pemerintah AS lainnya tentang pendapat militer AS terhadap perusahaan-perusahaan tersebut. Beberapa di antaranya telah menggugat AS atas dimasukkannya mereka dalam daftar tersebut.
Craig Singleton, seorang ahli China di lembaga think tank Foundation for Defense of Democracies di Washington, mengatakan bahwa publikasi daftar tersebut berfungsi sebagai pengecekan realitas pasca-KTT Trump-Xi tentang meningkatnya persaingan AS-China.
"Washington tidak lagi memperlakukan perusahaan-perusahaan ini sebagai perusahaan yang terisolasi. Mereka memperlakukan seluruh tumpukan teknologi sebagai sesuatu yang diperebutkan secara strategis," kata Singleton.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]