Sekutu Amerika Ungkap Data Senjata Pembunuh Baru yang Mengerikan

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
05 June 2026 14:15
Suasana lokasi serangan pesawat tak berawak dan rudal Rusia, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina, di Dnipro, Ukraina, Selasa (2/6/2026). (REUTERS/Stringer)
Foto: Suasana lokasi serangan pesawat tak berawak dan rudal Rusia, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina, di Dnipro, Ukraina, Selasa (2/6/2026). (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Belum lama ini, Ukraina mengumumkan membuka akses data milik negara tersebut. Data tersebut dapat dimanfaatkan oleh para sekutu di masa depan.

Data-data yang dibuka bertujuan agar negara sekutu dapat melatih software AI saat menjalankan senjata drone canggih.

Sebuah platform telah disiapkan untuk melatih model AI tanpa harus memberikan data sensitif. Platform akan berisi kumpulan data yang terus diperbarui, termasuk foto dan rekaman video.

Fedorov sendiri memastikan data-data yang dimiliki tidak tertandingi. Beberapa data itu termasuk yang dikumpulkan dalam penerbangan tempur yang telah dilakukan sebelumnya.

"Ukraina memiliki serangkaian data medan perang unik yang tidak tertandingi di tempat lain di dunia. Termasuk jutaan gambar beranotasi yang dikumpulkan dalam puluhan ribu penerbangan tempur," kata Menteri Pertahanan, Mykhailo Fedorov dikutip dari Reuters, Jumat (5/6/2026).

Pembukaan akses ini dilakukan setelah munculnya permintaan dari sekutu dan sejumlah perusahaan asing. Mereka meminta akses pada kumpulan data Ukraina, untuk melatih model dalam mengenali pola, bentuk dan perilaku manusia serta mesin di medan perang.

Ukraina tetap akan mendapatkan manfaat. Fedorov menjelaskan negaranya bisa merasakan percepatan pengembangan model AI yang telah digunakan saat berperang melawan Rusia.

Dia juga memastikan Ukraina siap bekerja sama mengembangkan teknologi AI dengan sejumlah mitra, termasuk untuk membuat solusi teknologi otonom terbaru.

"Kami siap bekerja sama dengan mitra untuk melakukan analisa bersama, pelatihan model, dan membuat solusi teknologi baru," kata Fedorov.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Amerika Mulai Terpecah, Perintah Trump Tidak Didengarkan


Most Popular
Features