Kelakuan Manusia 'Paling Budak' AI Diungkap, Bos ChatGPT Sampai Malu

Redaksi,  CNBC Indonesia
04 June 2026 19:50
Sam Altman, CEO pembuat ChatGPT OpenAI, tiba di Forum Wawasan Kecerdasan Buatan (AI) bipartisan untuk semua senator AS yang diselenggarakan oleh Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer (D-NY) di US Capitol di Washington, AS, 13 September 2023. (REUTER
Foto: REUTERS/CRAIG HUDSON

Jakarta, CNBC Indonesia - Karyawan OpenAI selama ini dikenal sebagai yang paling "boros" menggunakan token layanan kecerdasan buatan (AI) yang ditawarkan oleh perusahaan pencipta ChatGPT tersebut. Namun, ternyata orang yang memegang rekor penggunaan token terbanyak justru bukan karyawan internal, melainkan seseorang dari luar perusahaan.

Identitas orang yang paling terbudak AI ini diungkapkan langsung oleh CEO OpenAI Sam Altman dalam sebuah acara internal perusahaan yang digelar Selasa lalu.

Altman membandingkan perkembangan penggunaan token AI sekarang dan 6 tahun lalu saat ChatGPT belum dirilis. Dulu, angka 100.000 token per bulan sudah dianggap sangat tinggi.

"Pada masa itu, penggunaan sebanyak itu kemungkinan besar menjadikan orang tersebut sebagai pengguna token terbanyak di seluruh dunia," ujar Altman.

Namun seiring berjalannya waktu dan makin meluasnya penggunaan AI, standar itu sudah berubah total.

"Sekarang, 6,5 tahun kemudian, angka 100.000 token itu sudah menjadi rata-rata penggunaan per orang di dunia," kata Altman.

Ia pun menambahkan bahwa saat ini pengguna token terbanyak di lingkungan OpenAI saja sudah mencapai angka 100 miliar token per bulan.

Angka pemakaian yang sangat besar itu ternyata masih kalah jauh jika dibanding dengan seseorang yang tidak bekerja di OpenAI.

Menurut Altman, kenyataan ini membuatnya malu karena OpenAI adalah pengembang dan penyedia layanan AI tersebut. Seharusnya, karyawan OpenAI juga menjadi pemakai paling sering produk buatan mereka sendiri.

Di lingkungan internal OpenAI, budaya penggunaan token dalam jumlah besar memang sudah menjadi hal yang umum. Perusahaan ini memiliki papan peringkat penggunaan token, dan para karyawan sering memamerkan jumlah pemakaian mereka di media sosial X.

Beberapa data yang beredar bahkan menunjukkan angka yang jauh lebih fantastis. Peter Steinberger, pencipta OpenClaw, pernah mencatat pemakaian senilai US$ 1,3 juta (Rp 23,47 miliar) dalam satu bulan. Ia juga sempat memamerkan screen shot yang menunjukkan pemakaian mencapai 603 miliar token dalam 30 hari. The New York Times pernah melaporkan ada karyawan OpenAI yang menghabiskan 210 miliar token hanya dalam waktu satu minggu.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan lain justru mengambil langkah untuk menekan penggunaan token untuk berhemat. Amazon dikabarkan sudah menutup papan peringkat penggunaan token mereka. Sementara itu, Uber dilaporkan telah menetapkan batas pemakaian, setelah pejabat tinggi perusahaan menyatakan bahwa biaya penggunaan AI makin sulit dibenarkan nilainya.

Altman pun menyadari adanya pergeseran besar dalam konsumsi AI. Menurutnya, isu soal penghematan ini muncul mendadak.

"Pada awal tahun 2026, hal ini sama sekali tidak pernah dibahas. Semua pihak merasa sangat puas dengan pengeluaran mereka," kenangnya.

Namun situasi kini berubah total sehingga biaya penggunaan AI sudah menjadi masalah besar yang harus diperhatikan.

Altman menegaskan bahwa OpenAI terus berupaya mengembangkan model AI serta mencari cara baru agar pengguna bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar dengan biaya yang lebih rendah.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria berpesan cara menggunakan kecerdasan buatan alias AI yang baik. Bukan menjadi budak AI, melainkan membuat teknologi tersebut sebagai partner yang membantu pekerjaan kita.

"Menjadikan AI sebagai partner kita, tapi bukan sebagai tuan kita. Kita jangan mau menjadi budak AI, tapi bagaimana AI menjadi partner kita untuk membantu pekerjaan kita," kata Nezar dalam acara Jogja Financial Festival, Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Nezar juga bercerita soal perkembangan AI yang makin cepat. Mulai dari ChatGPT yang diluncurkan pada 2022, kini sudah beralih ke Agentic AI.

Tak butuh waktu lama, nampaknya AI akan segera bergeser ke fisikal AI. Ini adalah saat AI digunakan pada robotik.

"Dan tahun depan atau mungkin dalam dua tahun ke depan kita sudah bicara fisikal AI di mana Agentic AI kemudian diaplikasikan dengan teknologi robotik, jadi fisikal AI," ujarnya.

Nezar mencontohkan robot cerdas itu membantu pekerjaan sehari-hari manusia, seperti memasak, instruktur senam, hingga menjadi polisi lalu lintas.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Dua Raja Teknologi Dunia Ungkap Fakta Mengejutkan


Most Popular
Features