Waspada Taktik Brutal Maling HP, Korban Diperas dan Diancam Bunuh
Jakarta, CNBC Indonesia - Maling HP makin kejam menjalankan aksinya. Bukan cuma merampok ponsel, tetapi juga meneror korban hingga memberikan ancaman pembunuhan.
Taktik ini dilakukan gara-gara HP saat ini sudah memiliki fitur perlindungan yang lebih baik saat menghadapi situasi pencurian. Misalnya pada iPhone, maling tak bisa memanfaatkan HP curian jika masih terhubung ke Apple ID pemilik.
Di Inggris, korban bernama Alex Pikula melaporkan ancaman kekerasan dari maling HP. Ibunya ditelpon dan diteror, hingga mendapat ancaman pembunuhan.
Sang maling cuma menginginkan satu hal, yakni Pikula mencabut sinkronisasi Apple ID ke iPhone miliknya.
Ancaman pencurian HP di London kian marak, bahkan mencapai rekor tertinggi pada 2024 lalu. Sebanyak 81.000 HP dicuri sepanjang tahun. Meskipun angkanya menurun menjadi 71.000 HP pada 2025, tetapi tetap saja polisi kewalahan menangani kasus ini.
Kasus pencurian HP yang membludak juga membut masyarakat cemas, begitu juga dengan wisatawan yang datang ke London. Pikula, 37 tahun, merupakan salah satu korban yang kemudian mendapat ancaman kekerasan.
Sindikat Maling Sampai ke China
Tahun lalu, Kepolisian Metropolitan London mulai lebih memfokuskan perhatian pada jaringan internasional yang mengirimkan ponsel curian ke China, tempat perangkat tersebut dijual di pasar gelap (black market).
Masalahnya, banyak ponsel yang dicuri berjenis iPhone dari Apple. Jika tautan iPhone ke Apple ID tidak dihapus, maka maling tidak bisa me-reset ponsel untuk dijual ke pembeli.
Mark Rowley, komisaris Kepolisian Metropolitan, mengatakan kepada wartawan bahwa para penjahat mencoba me-reset ponsel untuk mengambil ID pengguna baru.
"Itulah yang membuatnya memiliki nilai jual bekas," katanya, dikutip dari New York Times, Selasa (26/5/2026).
"Jika tidak, ponsel itu hampir tidak berharga bagi mereka," kata Emmeline Taylor, seorang profesor kriminologi di City St. George's, University of London.
Bagi para penjahat, iPhone yang terikat pada Apple ID yang sudah ada hanya berguna sebagai suku cadang. Itulah sebagian alasan mengapa petugas polisi dan para ahli mendesak para korban untuk mengunci dan menghapus data perangkat yang dicuri, tanpa melepaskan tautan Apple ID.
Namun, bagi para korban dan keluarga, hal ini berarti mereka akan terjebak pada situasi 'sudah terjatuh, ditimpa tangga'. HP sudah dicuri, belum tentu kembali, lantas kemudian mendapat ancaman dan teror tak berkesudahan.
Pada kasus Pikula, menurut aplikasi Find My, iPhone-nya yang dicuri berada di China, tepatnya di kota Shenzhen. Area tersebut memang terkenal sebagai 'markas' iPhone curian dari berbagai belahan dunia.
Beban Mental Korban Maling HP
Pikula kebingungan apakah ancaman dan teror yang dilontarkan maling ke ibunya hanya gertak belaka, atau bisa benar-benar kejadian. Hal ini membawa beban mental yang besar bagi dirinya dan sang ibu.
Kepolisian Inggris mengatakan tak semua korban yang melaporkan HP kemalingan mendapat ancaman serupa. Namun, tak sedikit yang menerimanya. Ada 6 korban yang menceritakan pengalaman mereka kepada New York Times.
Christopher Bramah-Calvert, 40 tahun, memilih menghiraukan pesan-pesan ancaman yang ia terima. Setelah iPhone-nya dicuri di London, pasangannya mendapat pesan palsu yang bernada ramah.
Namun, kemudian ia menerima video yang memperlihatkan senjata dan berisi ancaman pembunuhan. "Kami hanya melihatnya dan menganggapnya sebagai hal konyol," kata Bramah-Calvert.
"Namun, kebanyakan orang bisa melihatnya sebagai sesuatu yang mengintimidasi," ia menuturkan.
Desakan Buat Apple
Walikota London Sadiq Khan, bersama dengan kepolisian setempat, mengatakan pihaknya sudah mendesak Apple untuk mencari solusi lebih ampuh pada kasus iPhone yang dicuri.
"Mengapa tidak ada tombol pemutus daya sehingga ponsel yang dicuri menjadi tidak berguna?," kata Khan dalam sebuah wawancara.
"Mengapa Anda tidak bisa menolak akses ke cloud ketika ponsel telah dicuri?," ia menambahkan.
Dalam sebuah pernyataan, Apple mengatakan telah menciptakan fitur keamanan dan perlindungan untuk mencegah pencurian dan melindungi data pengguna.
Jika iPhone dicuri, perusahaan menyarankan pemilik untuk mengaktifkan Mode Hilang, yang akan menghapus data perangkat dari jarak jauh, serta tetap menyimpan perangkat di daftar 'Find My' untuk mencegahnya diatur pengguna baru.
"Kami bersimpati kepada orang-orang yang mengalami hal ini. Kami akan terus bekerja tanpa lelah untuk mengurangi insentif untuk mencuri perangkat Apple," perusahaan menjelaskan.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]