China Bikin Trump Linglung, Aturan Baru Mendadak Harus Ditunda

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
25 May 2026 20:40
Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden AS Donald Trump menunda penandatanganan perintah eksekutif terkait kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Kamis (21/5) lalu waktu setempat. Trump menyebut dirinya tidak ingin kebijakan baru itu justru menghambat posisi AS dalam persaingan teknologi AI dengan China.

Hal ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi China yang kian masif telah berdampak pada kekhawatiran AS dalam mempertahankan dominasinya.

Trump semula dijadwalkan menandatangani aturan tersebut dalam sebuah seremoni yang dihadiri para CEO perusahaan AI. Namun agenda itu mendadak dibatalkan.

"Saya rasa itu justru menghalangi. Kita sedang memimpin China, kita memimpin semua pihak, dan saya tidak ingin melakukan apa pun yang bisa mengganggu keunggulan itu," kata Trump di Ruang Oval, dikutip Reuters, Senin (25/5/2026).

Sejumlah media AS seperti Semafor dan The Washington Post sebelumnya melaporkan penundaan itu terjadi setelah adanya masukan dari pendiri xAI Elon Musk, CEO Meta Platforms Mark Zuckerberg, dan mantan penasihat AI Trump, David Sacks.

Namun Musk langsung membantah kabar tersebut melalui media sosial X. Ia mengatakan laporan itu tidak benar dan mengaku belum mengetahui isi detail rancangan perintah eksekutif tersebut.

Berdasarkan informasi dari dua sumber Reuters, aturan itu sebenarnya akan membentuk kerangka kerja sukarela yang mewajibkan pengembang AI berkoordinasi dengan pemerintah AS sebelum merilis model AI canggih ke publik.

Di sisi lain, kalangan industri teknologi khawatir kebijakan itu bisa menekan profit perusahaan. Alasannya, peluncuran model AI baru berpotensi melambat atau perusahaan harus menyesuaikan performa model demi memenuhi standar keamanan yang ditetapkan pemerintah.

Tak hanya itu, Trump juga disebut sempat ingin mengarahkan penggunaan AI canggih untuk memperkuat sistem pertahanan siber pemerintah AS, termasuk jaringan di sektor-sektor strategis seperti perbankan dan rumah sakit.

Perdebatan soal regulasi AI di AS memang makin memanas di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko keamanan siber dari model-model AI terbaru, termasuk teknologi yang dikembangkan Anthropic.

Meski begitu, sejak kembali ke Gedung Putih, Trump cenderung mengambil pendekatan yang lebih longgar terhadap perusahaan teknologi besar dibanding era pemerintahan Joe Biden, di tengah pesatnya perkembangan AI dan peran besar sektor tersebut terhadap pasar saham AS. Meski demikian, sebagian pendukung Trump tetap mendorong adanya aturan pengaman yang lebih ketat untuk industri AI.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Telepon Langsung Manusia Rp 3.300 Triliun, Minta Ikut ke China


Most Popular
Features