Petaka Perang Iran Meluas, 'Harta Karun' Dunia Terancam

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
20 May 2026 21:00
Kolase bendera AS dan Iran. (Dok. Pexels)
Foto: Kolase bendera AS dan Iran. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran dan Amerika Serikat (AS) mulai memberi tekanan besar terhadap industri teknologi global, khususnya perusahaan semikonduktor yang menjadi tulang punggung kecerdasan buatan (AI). Sejumlah perusahaan chip dunia memperingatkan melonjaknya biaya dan gangguan rantai pasok akibat konflik yang terus memanas di Timur Tengah.

Reli AI sebenarnya masih berlanjut pada musim laporan keuangan terbaru. Namun, perusahaan pemasok perangkat keras AI mulai mengeluhkan tekanan terhadap profitabilitas akibat perang Iran.

Konflik yang makin meluas membuat harga minyak melonjak tajam dan menghambat rantai pasok penting bagi sektor teknologi. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah potensi kelangkaan helium, bahan penting dalam proses produksi chip, di tengah kebuntuan hubungan AS dan Iran.

Perusahaan manufaktur chip terbesar dunia, TSMC, mengatakan situasi di Timur Tengah berpotensi memengaruhi keuntungan perusahaan. Produsen chip untuk Nvidia itu memperingatkan harga bahan kimia dan gas tertentu kemungkinan akan meningkat.

Sementara itu, Foxconn, produsen elektronik kontrak terbesar di dunia, menyebut konflik Timur Tengah sebagai salah satu tantangan utama bisnis tahun ini. Perusahaan chip asal Jerman, Infineon, juga memperkirakan biaya logam mulia, energi, dan pengiriman akan naik akibat perang.

Analis IDC Francisco Jeronimo mengatakan kondisi perusahaan chip berpotensi memburuk dalam beberapa kuartal ke depan.

"Kita bisa melihat dampak negatif lebih lanjut tahun ini. Harga gas, energi, dan logistik berada di level tertinggi sepanjang masa dan kemungkinan tetap tinggi untuk beberapa kuartal ke depan, bahkan jika situasi mulai mereda," kata Jeronimo, dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (20/5/2026).

Menurut dia, sekalipun terjadi gencatan senjata, kerusakan di sisi pasokan tidak bisa dipulihkan secara instan.

Gangguan rantai pasok dan lonjakan biaya energi menjadi ancaman utama industri chip saat ini. Helium, yang diproduksi sebagai produk sampingan gas alam, merupakan komponen vital dalam manufaktur semikonduktor.

Qatar, pemasok helium terbesar kedua dunia yang menyuplai lebih dari 30% pasar global pada 2025 menurut S&P Global, dilaporkan mengalami gangguan ekspor akibat serangan Iran. Selain helium, akses terhadap bahan penting lain seperti bromin dan aluminium juga terdampak.

Pada Maret lalu, pembeli chip di Eropa mulai membayar lebih mahal dan menggunakan stok cadangan karena perang mengganggu pengiriman udara.

Jeronimo mengatakan perusahaan chip kini memahami pentingnya diversifikasi rantai pasok agar tidak bergantung pada satu kawasan tertentu. Dalam jangka pendek, TSMC disebut sedang membangun buffer persediaan dan memperluas sumber pemasok.

Chief Financial Officer TSMC Wendell Huang mengatakan strategi perusahaan adalah mengembangkan solusi multi-sumber demi menciptakan basis pemasok global yang lebih terdiversifikasi dan memperkuat rantai pasok lokal.

Dampak perang juga dirasakan VAT Group, pemasok komponen untuk industri chip. Perusahaan mengaku mengalami gangguan rantai pasok dan harus mengalihkan jalur pengiriman barang ke pelanggan akibat konflik.

Meski memperkirakan tidak ada dampak material terhadap proyeksi bisnis setahun penuh 2026, penjualan kuartal pertama perusahaan turun 20-25 juta franc Swiss atau sekitar US$25,5 juta hingga US$32 juta.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 'Harta Karun' Amerika Terancam Runtuh Seketika Gara-gara Perang Iran


Most Popular
Features