Profesi Bergaji Tinggi Sekarang Jadi Ladang Pengangguran, Ada Apa?

Redaksi,  CNBC Indonesia
18 May 2026 18:40
10 Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi, Ada DKI-Jawa Barat
Foto: Infografis/ 10 Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi, Ada DKI-Jawa Barat/ Ilham Restu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Peta dunia kerja global maupun domestik tengah mengalami pergeseran eksponensial. Pekerjaan dengan iming-iming gaji tinggi dan fasilitas mentereng, yang selama satu dekade terakhir menjadi rebutan para pencari kerja, kini justru bertransformasi menjadi salah satu penyumbang angka pengangguran terbesar.

Fenomena ini menjadi alarm keras bagi para profesional. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang awalnya dianggap sebagai efisiensi sementara, kini terbukti menjadi restrukturisasi permanen di berbagai industri komponen utama ekonomi.

Sektor teknologi, keuangan, hingga konsultan strategis yang dahulu dikenal sebagai profesi 'kebal krisis' dengan kompensasi selangit, kini justru berada di garis depan pemangkasan karyawan.

Analisis dari firma konsultan Janco Associates berdasarkan temuan data Departemen Tenaga kerja Amerika Serikat (AS) mengungkapkan tingkat pengangguran pasar kerja teknologi informasi 3,8% pada April 2026. Naik tipis dari Maret 2026 sebanyak 3,6%.

Sejumlah bisnis, khususnya di sektor teknologi mengatakan AI jadi salah satu alasan pengurangan pegawai terjadi. AI jadi alasan Meta mengurangi sekitar 8.000 pegawai atau 10%. Perusahaan menjelaskan tengah berupaya merampingkan operasional dan membiayai investasi di bidang AI.

Nike juga mengurangi 2% atau 1.400 orang karyawan. Sebagian besar berasal dari departemen teknologi dengan alasan menyederhanakan operasional global. Snap akan memecat 16% jumlah karyawan atau 1.000 peranan, alasannya untuk meningkatkan efisiensi.

Bidang teknologi lainnya, seperti telekomunikasi dan pengolahan data mengalami pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan. Puncak kondisi ini terjadi pada November 2022 lalu.

Badai di Sektor Teknologi dan Finansial

Selama masa keemasan tech-boom, para insinyur perangkat lunak (software engineers), analis data (data scientists), hingga manajer produk (product managers) menjadi komoditas paling mahal di pasar tenaga kerja. Perusahaan saling bakar uang demi merekrut talenta digital terbaik dengan tawaran gaji dua digit hingga fasilitas opsi saham.

Namun, era easy money telah berakhir. Pengetatan kebijakan moneter global dan tingginya suku bunga membuat aliran modal modal ventura (venture capital) mengering. Akibatnya, perusahaan teknologi-mulai dari skala startup hingga raksasa Big Tech-terpaksa melakukan rasionalisasi biaya secara agresif.

Ironisnya, para pekerja dengan gaji tertinggilah yang paling awal terkena dampak efisiensi ini demi menyelamatkan neraca keuangan perusahaan.

Kondisi serupa terjadi di sektor perbankan investasi (investment banking) dan konsultan manajemen papan atas. Penurunan aktivitas aksi korporasi seperti merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran umum perdana (IPO) secara global membuat posisi-posisi analis berpendapatan tinggi kehilangan urgensinya.

Ancaman Nyata AI

Selain faktor makroekonomi, akselerasi adopsi Kecerdasan Buatan (AI) generatif menjadi katalis utama yang mengubah lanskap ini. AI tidak lagi sekadar menggantikan pekerjaan kasar atau repetitif, melainkan sudah mulai mengikis pekerjaan para pekerja kerah putih (white-collar workers) berketerampilan tinggi.

Profesi seperti analis hukum, pembuat kode pemrograman tingkat dasar hingga menengah (mid-level coders), analis riset pasar, hingga spesialis keuangan kini bisa direplikasi oleh sistem AI dengan biaya yang jauh lebih murah dan waktu yang lebih efisien.

Banyak perusahaan menyadari bahwa dengan mengintegrasikan AI, mereka dapat memangkas jumlah tim hingga separuhnya tanpa menurunkan produktivitas. Hal ini menciptakan surplus tenaga kerja ahli di pasar, di mana jumlah pelamar kerja berkualifikasi tinggi jauh melampaui lowongan yang tersedia.

Kepala Eksekutif Janco, Victor Janulaitis menjelaskan alasan perusahaan menunda atau mengurangi perekrutan tenaga IT karena dunia tengah menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

"Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?" ucap Janulaitis, dikutip dari Wall Street Journal, Senin (18/5/2026).

Dampak Psikologis dan Finansial 'Gaya Hidup'

Fenomena menganggurnya para pekerja bergaji tinggi ini membawa dampak turunan yang signifikan. Berbeda dengan pekerja sektor informal, kelompok profesional ini umumnya memiliki beban finansial yang disesuaikan dengan pendapatan tinggi mereka sebelumnya-seperti cicilan hunian premium, kendaraan mewah, hingga biaya pendidikan anak di sekolah internasional.

Ketika kehilangan pekerjaan, kelompok ini sering kali mengalami lifestyle inflation shock. Mereka kesulitan menurunkan standar hidup dengan cepat, sementara tabungan yang ada terus tergerus untuk menutup biaya operasional yang tinggi.

Di sisi lain, proses pencarian kerja baru bagi para eksekutif dan profesional senior ini memakan waktu yang jauh lebih lama. Perusahaan yang tengah melakukan efisiensi cenderung enggan merekrut kandidat yang dianggap overqualified karena kekhawatiran akan ekspektasi gaji yang terlalu tinggi.

Para pengamat ketenagakerjaan menilai, kondisi ini memaksa para profesional untuk melakukan reskilling atau bahkan menurunkan ekspektasi kompensasi (salary downgrade) demi bisa kembali terserap ke dalam pasar kerja yang kini jauh lebih kompetitif dan pragmatis.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Profesi Gaji Tinggi Kini Jadi Ladang Pengangguran


Most Popular
Features