Warga Ngamuk Data Center Sedot Air Sampai Satu Kota Kekeringan

Redaksi,  CNBC Indonesia
11 May 2026 12:40
Ilustrasi Data Center. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Data Center. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penduduk di sekitar sebuah data center di negara bagian Georgia, Amerika Serikat murka karena fasilitas tersebut menyedot 113 juta liter air tanpa bayar. Aktivitas di infrastruktur yang "lapar" listrik dan air tersebut membuat air di rumah penduduk di sekitarnya seret.

Politico melaporkan bahwa peristiwa tersebut terjadi di kompleks perumahan mewah bernama Annelise Park di kota Fayetteville. Penduduk di Annelise Park bingung karena tekanan air di rumah mereka sangat rendah.

Petugas setempat kemudian melakukan penyelidikan yang berujung ke temuan tersambungnya dua pipa skala industri yang memasok air ke kampus data center berjarak 32 kilometer dari perumahan. Salah satu pipa disambungkan tanpa sepengetahuan pengelola utilitas air bersih, sedangkan sambungan lainnya terdaftar atas nama perusahaan data center tetapi tidak tercatat dalam tagihan.

Setelah dihitung, Quality Technology Services berutang US$ 150 ribu (Rp 2,6 miliar) untuk penggunaan 109 juta liter air. Hal ini setara dengan 44 kolam renang standar Olimpiade dan jauh di atas "batas" penggunaan yang telah disepakati sebelumnya.

Insiden ini baru diketahui publik setelah salah satu penduduk mendapatkan surat ke perusahaan data center lewat keterbukaan informasi publik, lalu mengunggahnya di Facebook. Penduduk yang melihat unggahan tersebut ngamuk karena konsumsi air data center yang rakus.

Kampus data center di Fayetteville adalah salah satu proyek data center terbesar di AS dengan luas lokasi mencapai 2,5 juta meter persegi.

Pejabat daerah setempat menyatakan kampus data center akan menghasilkan jutaan dolar AS lewat pajak properti. Namun, penggunaan air dan listrik yang gila-gilaan membuat warga setempat mulai melakukan perlawanan untuk menolak proyek tersebut. Dewan Kota Fayetteville akhirnya mengambil suara dan memutuskan untuk melarang penerbitan izin data center baru.

Konflik di Fayetteville membuat permasalahan soal data center di Georgia makin pelik. Negara bagian tersebut kini adalah lokasi dari sekitar 200 fasilitas data center. Pasalnya, Georgia dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami kekeringan level moderat hingga bahaya. Bulan lalu, Gubernur Georgia Brian Kemp menetapkan status bahaya setelah terjadi kebakaran lahan terparah dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu penduduk Fayetteville menyatakan kemarahan warga memuncak setelah pejabat pemerintah meminta agar penduduk mengurangi penggunaan air.

"Kami mendapatkan notifikasi dari sistem pengelolaan air Fayette County agar setop menyiram pekarangan karena harus ada penghematan air," kata James Clifton, penduduk setempat seperti dikutip Politico. "Hal pertama yang mereka lakukan adalah memaksa warga menghentikan penggunaan air pada saat QTS 'menciptakan kekeringan' selama berbulan-bulan."

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pajak Negara Lenyap Rp 26 Triliun Gara-gara 'Harta Karun' Baru


Most Popular
Features