23 Kasus Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, Kenali Gejalanya

Redaksi,  CNBC Indonesia
10 May 2026 06:00
Dalam ilustrasi ini, yang diambil pada 7 Mei 2026, terlihat sebuah tabung reaksi berlabel "Hantavirus positif". (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration)
Foto: Dalam ilustrasi ini, yang diambil pada 7 Mei 2026, terlihat sebuah tabung reaksi berlabel "Hantavirus positif". (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah hantavirus menjadi perhatian dunia setelah insiden tewasnya 3 penumpang kapal pesiar MV Hondius. Perlu dicatat, hantavirus yang memakan korban tersebut berjenis Andes Virus.

Umumnya, Andes Virus ditemukan di Amerika Selatan dan menjadi penyebab utama Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan sangat mematikan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan potensi munculnya lebih banyak kasus hantavirus tipe HPS. Namun, WHO menyebut wabah ini masih bisa dikendalikan dengan langkah kesehatan masyarakat yang tepat dan ketat.

23 Kasus Hantavirus di Indonesia

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mencatat 23 kasus hantavirus di Indonesia sejak 2024 hingga 2026 minggu ke-16. Dari 23 kasus tersebut, ada 20 yang sembuh dan 3 meninggal.

Adapun secara total terdeteksi ada 251 kasus suspek pada periode tersebut, 225 negatif, dan 3 tidak dapat diperiksa. Kasus hantavirus yang paling banyak tercatat adalah pada 2025 sebanyak 17 kasus, kemudian 2026 (hingga minggu ke-16) sebanyak 5 kasus, dan 2024 sebanyak 1 kasus.

Kasus hantavirus di Indonesia tersebar di Jakarta (6), Yogyakarta (6), Jawa Barat (5), Jawa Timur (1), Banten (1), Sumatra Barat (1), NTT (1), Sulawesi Utara (1), Kalimantan Barat (1), dan Jawa Timur (1).

Gejala Hantavirus di Indonesia

Perlu dicatat, hantavirus disebabkan oleh orthohantavirus yang memiliki 50 varian. Sebanyak 24 varian dapat menginfeksi manusia, antara lain Seoul Virus, Hantaan Virus, Andes Virus (seperti di MV Hondius), dan Sin Nombre Virus.

Terdapat dua bentuk klinis dari infeksi hantavirus pada manusia. Pertama, yang sudah disebutkan sebelumnya adalah HPS. Gejalanya adalah demam, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas. Masa inkubasinya 14-17 hari, dengan tingkat kematian (CFR) 60%.

Bentuk kedua adalah Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS). Gejalanya demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, dan tubuh menguning. Masa inkubasi 1-2 minggu, dengan tingkat kematian 5-15% atau lebih rendah daripada tipe HPS.

Di Indonesia, 23 kasus hantavirus yang terdeteksi memiliki tipe HFRS yang berasal dari varian Seoul Virus. Adapun faktor risiko utamanya adalah kontak dengan tikus atau celurut, ataupun terpapar ekskresi dan sekresinya.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Studi Terbaru Bongkar Fakta-Fakta Mengejutkan Video Medis di Youtube,


Most Popular
Features