Amerika Kacau Balau Perkara China Masuk Daftar Hitam

Redaksi,  CNBC Indonesia
08 May 2026 21:10
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat mengadakan pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. REUTERS/Evelyn Hockstein
Foto: Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat mengadakan pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin dua negara ekonomi terbesar dunia akan bertemu pada 14 Mei 2026 mendatang. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Beijing untuk membahas kondisi geopolitik yang kian tak pasti.

Pemerintahan Trump yang tadinya bersikap tegas dalam melancarkan kebijakan kontrol ekspor teknologi ke China, kini terlihat mulai melunak. Sementara itu, pemerintahan Xi Jinping mulai jual mahal untuk menerima pasokan teknologi asal AS di negaranya.

Perang dagang dan kontroversi kebijakan antara AS dan China sudah memanas sejak era pemerintahan Joe Biden, dan dilanjutkan di pemerintahan Trump. Pertemuan pada 14 Mei mendatang digadang-gadang akan menjadi penentuan sejauh mana AS akan melakukan konfrontasi terhadap China secara ekonomi dan teknologi.

Pada awal tahun ini, muncul kontroversi baru yang melibatkan Departemen Pertahanan/Perang (DoD/Pentagon). Pentagon menambahkan raksasa teknologi China, yakni Alibaba dan Baidu, ke dalam daftar hitam perusahaan yang dituduh mendukung militer China.

Keputusan Pentagon ini disinyalir memicu perpecahan di internal pemerintah AS. Daftar hitam itu kemudian dibatalkan hanya dalam waktu beberapa menit. Hal ini juga memicu kebingungan di kalangan investor dan pembuat kebijakan.

Meskipun dokumen daftar hitam itu dengan cepat dihapus, tetapi saham dua raksasa China sempat anjlok tajam pasca pengumuman, dikutip dari NewFortuneTimes, Jumat (8/5/2026).

Insiden tersebut menunjukkan perpecahan di dalam pemerintahan Trump. Ada kubu yang mendorong aksi lebih tegas melawan China. Ada juga kubu yang ingin menghindari dampak buruk terhadap negosiasi diplomatis yang sedang berlangsung menjelang pertemuan Trump dan Xi Jinping.

Daftar hitam Pentagon yang dikenal sebagai 'daftar 1260H', sudah menjadi sorotan dalam beberapa tahun ke belakang. Perusahaan-perusahaan yang masuk daftar tersebut akan menghadapi pembatasan terkait kontrak pemerintah, investasi, dan akses ke teknologi AS.

Seiring berjalannya waktu, daftar hitam itu meluas ke beberapa perusahaan besar China yang terkait dengan industri strategis, seperti semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), baterai, dan telekomunikasi. Beberapa perusahaan yang sebelumnya sudah masuk daftar hitam adalah Tencent, Huawei, dan CATL.

Menurut laporan Bloomberg, upaya terakhir untuk memperbarui daftar hitam tersebut menjadi chaos lantaran perdebatan yang mencuat di kalangan pejabat Pentagon dan Gedung Putih.

Menurut laporan tersebut, beberapa pejabat keamanan nasional AS mendukung penambahan Alibaba dan Baidu dalam daftar hitam. Pada saat bersamaan, ada kekhawatiran yang bertambah di Gedung Putih terkait rencana menghapus pembuat chip asal China, YMTC dan CXMT, dari daftar hitam tersebut.

Beberapa pejabat menilai penghapusan dua produsen chip China itu akan melemahkan posisi AS dalam perang teknologi melawan China. Selain itu, keputusan tersebut juga berpotensi menimbulkan guncangan politik di Washington.

Huru-hara ini kabarnya menjadi alasan penghapusan Alibaba dan Baidu dalam daftar hitam tambahan tersebut, sesaat setelah diumumkan. Hal ini turut mempermalukan para pejabat yang terlibat dalam proses penyusunan daftar hitam tersebut. Selain itu, ketidakpasitan kebijakan AS di masa depan menjadi pertanyaan besar.

Analis menilai perpecahan di internal pemerintah AS ini merefleksikan tantangan lebih besar yang dihadapi pemerintahan Trump, yakni menyeimbangkan kerja sama ekonomi dengan kekhawatiran keamanan nasional.

Dalam beberapa bulan terakhir, Washington dan Beijing tampak berupaya menjagai 'gencatan senjata' yang sudah rentan. China telah melunak dalam kebijakan pembatasan ekspor mineral tanah jarang, sementara AS menunda pembatasan teknologi yang menargetkan perusahaan-perusahaan China.

Terlepas dari stabilitas sementara tersebut, ketegangan antara kedua negara masih tinggi di beberapa area, semisal teknologi semikonduktor, AI, dan kebijakan perdagangan.

Para pakar yakin pertemuan pekan depan akan memainkan peran penting dalam menentukan apakah AS dan China akan menjalin kerja sama yang lebih positif di masa mendatang, atau kembali ke hubungan yang saling serang.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Amerika dan Israel Masuk Daftar Hitam, China Tak Kasih Ampun


Most Popular
Features