Adopsi AI Jadi Keniscyaan Tapi Tidak Bisa Gantikan Manusia
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Direktur Ingram Micro Indonesia Mulia Dewi Karnadi mengungkapkan adopsi kecerdasaan buatan (AI) menjadi sebuah keniscyaan yang harus diterima. Kini di berbagai belahan dunia telah dibangun AI Cloud untuk mempercepat adopsi kecerdasan buatan, baik di Amerika, Eropa, hingga Asia.
"Kita tahu ada telco provider yang sudah menyiapkan AI. Kalau dari sisi global, Microsoft sudah melakukan investasi besar dengan membangun AI Data Center di Indonesia, sementara Google sudah memiliki generative AI," kata Mulia Dewi dalam CNBC Indonesia Tech & Telco Forum 2026, Rabu (6/5/2026).
Di Indonesia sendiri adopsi AI sudah berlangsung selama hampir satu dekade dan bukan sekedar pilot project. Syarat terpenting penggunaan AI adalah data dan keamanan. Kedua hal ini diibaratkan sebagai air dan udara yang menjadi 'sumber kehidupan' untuk kecerdasan buatan.
"Karena kalau AI dijalankan tanpa security bisa terjadi badai yang menyebabkan kerugian. Teknologi AI kalau dilihat cukup ruwet dengan miliaran data dan aplikasi di belakangnya," ungkapnya.
Mulia Dewi mengatakan Ingram berperan sebagai agregator dan meluncurkan digital platform berbasis AI, yang memberikan suatu proposisi kepada bisnis partner. Bagi perusahaan yang baru ingin mengadopsi AI, biasanya dibutuhkan maturity test untuk memastikan kecerdasan buatan ini bisa memberikan manfaat yang optimal.
"Kedua yang bisa kami berikan adalah apa yang harus didevelop. Kami memberikan skill, karena banyak gap literasi digital di sini kami membantu memberikan pelatihan yang diperlukan," kata dia.
AI Tak Bisa Gantikan Manusia
Seiring tingginya adopsi AI, banyak pertanyaan dan kekhawatiran yang muncul apakah peran manusia akan tergantikan. Mulia Dewi menilai ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan oleh AI, terutama pekerjaan yang membutuhkan sisi humanis.
"Pekerjaan yang tidak memerlukan compassion, seperti empati, etik tidak bisa AI. Kalau hal yang tidak perlu compassion bisa pakai AI, misalnya kantor-kantor yang punya asisten virtual untuk booking meeting room, karena itu sederhana. Tidak perlu compassion, tidak perlu norma," ujar Mulia Dewi.
Pekerjaan-pekerjaan yang tidak memerlukan sisi humanis, emosi, nilai hingga kreativitas, menurutnya bisa memanfaatkan AI.
"Misalnya payroll itu tidak perlu compassion, itu bisa pakai AI. Tapi yang perlu compassion itu manusia yang harus men-drive AI," pungkasnya.
source on Google [Gambas:Video CNBC]