Makhluk Punah Puluhan Tahun, Mendadak Bangkit dan Melahirkan Anak

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
05 May 2026 11:12
Ilustrasi serangan burung pada pesawat. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi serangan burung pada pesawat. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelahiran seekor anak burung raja udang Mikronesia di Kebun Binatang San Antonio, Amerika Serikat, menjadi kabar menggembirakan di tengah upaya penyelamatan spesies yang telah punah di alam liar sejak 1988.

Anak burung yang belum diberi nama ini menjadi harapan baru bagi spesies langka yang dahulu hanya ditemukan di Pulau Guam, Samudra Pasifik.

Proses penetasan burung ini tidaklah mudah. Burung raja udang Mikronesia dikenal sangat selektif dalam memilih pasangan, sehingga keberhasilan reproduksi di penangkaran menjadi tantangan tersendiri. Namun, pasangan induknya berhasil berkembang biak pada awal tahun ini hingga akhirnya menetas.

Kisah burung ini juga tak lepas dari sejarah kelam. Populasinya sempat musnah akibat invasi ular pohon cokelat yang masuk ke Guam pada 1940-an melalui jalur logistik. Dalam waktu singkat, spesies ini lenyap dari habitat aslinya dan resmi dinyatakan punah di alam liar pada 1988.

Beruntung, upaya penyelamatan telah dilakukan lebih awal melalui program konservasi yang mengamankan 29 burung terakhir ke dalam penangkaran. Sejak saat itu, berbagai lembaga termasuk Kebun Binatang San Antonio berperan penting dalam menjaga keberlangsungan spesies ini.

"Kebun Binatang San Antonio telah menjadi bagian dari perjalanan spesies ini selama lebih dari 40 tahun, dan penetasan ini melanjutkan warisan tersebut," ujar Presiden dan CEO Kebun Binatang San Antonio, Tim Morrow, dikutip dari IFL Science, Selasa (5/5/2026).

"Keahlian dan komitmen tim kami membantu memastikan bahwa burung raja udang Mikronesia tidak hanya bertahan hidup, tetapi suatu hari dapat kembali berkembang di alam liar," imbuhnya.

Upaya untuk mengembalikan spesies ini ke habitat alami juga terus dilakukan. Pada 2024, sembilan ekor burung berhasil dilepasliarkan di Atol Palmyra, sebuah pulau bebas predator di Pasifik.

Para ilmuwan kini masih memantau perkembangan populasi di lokasi baru tersebut untuk memastikan keberlanjutannya sebelum mempertimbangkan reintroduksi ke habitat asli.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ancaman di Tapanuli Sempat Disorot Peneliti Asing, Kini Makin Parah


Most Popular
Features