Monyet Makan Tanah Gara-Gara Ulah Manusia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasukan monyet liar di Gibraltar menunjukkan perilaku aneh yang tak biasa. Mereka diketahui memakan tanah setelah mengonsumsi makanan cepat saji yang diberikan dan dicuri dari wisatawan.
Peneliti menemukan kebiasaan yang dikenal sebagai geofagi ini saat mengamati kelompok kera Barbary macaque di kawasan Batu Gibraltar.
Hasilnya, monyet yang paling sering berinteraksi dengan turis tercatat paling banyak memakan tanah, puncak konsumsinya terjadi saat musim liburan.
Sekitar 230 ekor macaque hidup di Gibraltar dalam delapan kelompok berbeda. Meski otoritas setempat menyediakan makanan alami seperti buah, sayuran, dan biji-bijian setiap hari, turis kerap memberi mereka camilan seperti keripik, cokelat batangan, M&M's hingga es krim.
|
Pilihan Redaksi
|
Peneliti menduga kebiasaan memakan tanah ini berkaitan dengan gangguan pencernaan akibat konsumsi junk food. Ahli ekologi perilaku primata University of Cambridge, Sylvain Lemoine, mengatakan tanah kemungkinan membantu menyeimbangkan mikrobioma usus monyet.
"Kami berpikir bahwa memakan junk food ini mengganggu komposisi mikrobioma dan kami tahu bahwa bakteri serta mineral dalam tanah dapat membantu menyusun kembali mikrobioma dan mengurangi efek negatifnya," kata Lemoine, dikutip dari The Guardian, Rabu (29/4/2026). "Kami pikir tanah memiliki efek perlindungan," imbuhnya.
Pengamatan pada 2022 hingga 2024 menunjukkan hampir seperlima makanan macaque berasal dari junk food turis. Monyet yang hidup di puncak Batu Gibraltar, okasi favorit wisatawan, dua kali lipat lebih sering mengonsumsi makanan tersebut. Kelompok ini juga tercatat paling banyak memakan tanah.
Menurut Lemoine, monyet diberi berbagai makanan manusia, mulai dari kacang asin, cokelat, keripik, pasta kering, roti, Coca-Cola, jus jeruk hingga es krim.
"Ada banyak es krim. Mereka menyukai Magnum dan Cornetto. Yang tidak terlalu mereka sukai adalah sorbet," ujarnya.
Secara total, peneliti mencatat 44 monyet memakan tanah dalam 46 kejadian. Dalam beberapa kasus, monyet langsung memakan tanah setelah diberi es krim, biskuit, atau roti. Saat jumlah turis turun di musim dingin, konsumsi makanan turis menurun 40% dan perilaku makan tanah ikut turun lebih dari 30%.
Peneliti juga menemukan kebiasaan ini menyebar melalui pembelajaran sosial. Sebagian besar monyet memilih tanah liat merah terra rossa, sementara kelompok Ape's Den lebih menyukai tanah bercampur tar dari lubang jalan beraspal.
Meski perilaku ini diduga membantu pencernaan, risiko tetap ada. Tanah yang dimakan banyak ditemukan di dekat jalan ramai dengan potensi polusi kendaraan.
"Ada banyak kendaraan yang melintas setiap hari, dan sebagian besar belum listrik. Kami ingin menganalisis tanah tersebut. Kami sangat tertarik melihat tingkat polutannya," jelasnya.
Primatolog University of Texas at San Antonio Paula Pebsworth menilai geofagi memang bisa membantu detoksifikasi dan suplementasi mineral. Namun ia menegaskan solusi terbaik tetap mengurangi pemberian makanan manusia.
"Gagasan bahwa konsumsi tanah dapat membantu monyet mengatasi makanan dari turis juga masuk akal. Namun, meski geofagi dapat menjadi mekanisme adaptasi, pendekatan pengelolaan yang lebih efektif adalah mengurangi atau menghilangkan pemberian makanan manusia," ujarnya.
(dem/dem) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]