Dunia Bisa Berubah Total Gara-gara Teknologi Baru Asal China

Redaksi,  CNBC Indonesia
22 April 2026 14:45
AIREC, robot humanoid yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI), mendemonstrasikan manuver untuk mengganti popok atau mencegah luka baring dengan seorang peneliti di laboratorium Universitas Waseda di Tokyo, Jepang. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Foto: AIREC, robot humanoid yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI), mendemonstrasikan manuver untuk mengganti popok atau mencegah luka baring dengan seorang peneliti di laboratorium Universitas Waseda di Tokyo, Jepang. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan China berlomba-lomba menjadi negara nomor satu di dunia dalam pengembangan teknologi canggih. Salah satu yang menjadi 'biang' ketegangan adalah perebutan dominasi di sektor kecerdasan buatan (AI).

Meskipun chip dan model AI tercanggih AS kerap menjadi sorotan, tetapi China lebih sering menghadirkan inovasi 'akar rumput' yang bisa mengubah dunia. Salah satunya melalui pengembangan robot berbasis AI yang mirip dengan manusia alias 'humanoid'.

Baru-baru ini, humanoid buatan China sudah bisa memenangkan perlombaan lari half-marathon melawan manusia. Tak cuma itu, humanoid asal China juga terus memperlihatkan kemampuan yang meningkat.

Dalam demonstrasi yang digelar startup X Square Robot di Beijing, humanoid buatan China sudah mampu memungut sampah dan menyusun rangkaian bunga.

Sepintas, memungut sampah dan merangkai bunga tampak seperti tugas ringan ketimbang apa yang sudah dipamerkan humanoid China selama ini. Mereka sebelumnya sudah bisa berlari, berdansa, dan berputar.

Namun, humanoid yang baru didemonstrasikan ini menunjukkan perubahan yang lebih mendalam, yakni mengerjakan tugas-tugas lebih kompleks dan tak terprediksi untuk lingkungan rumah tangga sehari-hari.

"Perangkat kerasnya sebagian besar sudah ada, tetapi otaknya belum mampu mengimbanginya," kata Wang Qian, CEO X Square Robot.

Perusahaan China kini mulai beralih dari demonstrasi yang telah diprogram sebelumnya ke penerapan di dunia nyata. Robot humanoid China dapat menyelesaikan lari half-marathon lebih cepat daripada atlet manusia, tetapi tugas-tugas yang tampak sederhana bagi manusia biasa tetap sangat sulit dikerjakan oleh mesin-mesin ini.

Tugas-tugas ringan yang dimaksud seperti merapikan ruangan yang berantakan, mengisi mesin cuci piring, hingga melipat pakaian.

"Kenapa robot marathon tidak menghadapi tantangan ini? Karena yang terutama mereka hadapi adalah medan gravitasi yang konstan," kata CEO Wang.

"Namun, ketika kita memanipulasi sesuatu dengan tangan kita, jika kita meleset sebesar 0,1 milimeter, seluruh tugas mungkin akan gagal," ia menambahkan.

Aktivitas repetitif seperti berlari membutuhkan pelatihan dengan dataset yang lebih sederhana. Sementara itu, mengerjakan tugas-tugas 'ringan' di rumah yang tak pernah benar-benar 'sama', membutuhkan otak AI yang lebih cerdas untuk melihat situasi dan bergerak sesuai dengan kondisi berbeda-beda, layaknya manusia.

X Square Robot yang berbasis di Shenzhen, mengatakan perusahaannya sudah mengembangkan model AI untuk mengerjakan tugas sehari-hari yang lebih tidak bisa diprediksi. Model itu dinamai Wall-B dan sudah dilatih menggunakan kumpulan data dari lebih 100 rumah tanggah.

Model ini akan diperkenalkan lewat robot-robot pembersih rumah pada akhir Mei 2026. Pada bulan lalu, X Square juga berkolaborasi dengan platform 58com, yang memungkinkan pengguna di Shenzhen untuk memesan tukang bersih profesional beserta satu robot pembersih rumah.

Untuk pengerjaan selama 3 jam, biaya yang perlu dikeluarkan sebesar 149 yuan atau setara Rp374.000. Perusahaan mengatakan mesin tersebut sudah melayani lebih dari 50 rumah sejauh ini.

Masukan dari pelanggan menyebut mesin-mesin itu masih lamban dan ceroboh. CEO Wang mengatakan kinerja robot-robot itu hanya bisa meningkat jika terus-terusan bekerja langsung di rumah.

"Terkadang robot itu mungkin meletakkan sandal di dapur, atau berhenti di tengah jalan saat membersihkan meja untuk 'berpikir'," kata Wang, menambahkan bahwa setiap kali robot mengalami kerusakan atau tidak dapat menyelesaikan tugas, seorang karyawan perusahaan akan turun tangan dari jarak jauh.

Wang mengatakan jika teknologi robot pembersih rumah ini sudah matang, robot akan bisa diandalkan sepenuhnya dalam membersihkan rumah dan membantu tugas sehari-hari. Potensi pasarnya juga sangat besar.

"Tenaga kerja rumah tangga menyumbang sekitar 20% dari PDB, jadi secara teori ini humanoid ini memiliki pasar yang menyumbang 20% dari PDB," katanya.

Didirikan kurang dari tiga tahun lalu, X Square Robot telah mengumpulkan miliaran yuan melalui beberapa putaran penggalangan dana, termasuk dari raksasa teknologi China yang berinvestasi besar-besaran di bidang AI, seperti Xiaomi dan Alibaba.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Anak Magang Hilangkan Duit Perusahaan Rp17 M, Begini Nasibnya


Most Popular
Features