Lulusan Kampus Nomor Satu China Berebut Kerja di Pabrik
Jakarta, CNBC Indonesia - Lulusan kampus Elite China kini mulai meninggalkan sektor teknologi dan keuangan, dan beralih ke pekerjaan manufaktur serta energi. Pergeseran ini terjadi seiring meningkatnya kebutuhan talenta teknik di industri strategis berteknologi tinggi.
Data ketenagakerjaan Universitas Tsinghua menunjukkan jumlah lulusan yang masuk ke sektor manufaktur dan energi naik 19,1% secara tahunan untuk angkatan 2025. Tren tersebut bahkan sudah berlangsung selama enam tahun berturut-turut.
Beberapa perusahaan yang paling banyak merekrut lulusan Tsinghua tahun ini antara lain Huawei, BYD, State Grid Corporation of China, dan China National Nuclear Corporation. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di bidang telekomunikasi, kendaraan listrik, kelistrikan, hingga energi nuklir.
Tsinghua sendiri sering dibandingkan dengan MIT atau Stanford dan dikenal sebagai pemasok utama talenta teknik untuk raksasa industri China.
Mengutip Business Insider, tren serupa juga terlihat di kampus lain. Statistik lulusan 2025 Huazhong University of Science and Technology menunjukkan sekitar 1.500 lulusan masuk sektor manufaktur, jauh lebih banyak dibanding sektor keuangan yang hanya sekitar 300 orang.
Secara nasional, porsi lulusan China yang masuk manufaktur meningkat dari 17,9% pada 2020 menjadi 22,5% pada 2024.
Gengsi kerja di pabrik
Para ahli menyebut sektor manufaktur China kini berubah drastis menjadi industri berteknologi tinggi. Bidang seperti semikonduktor, kendaraan listrik, baterai, dan energi terbarukan membutuhkan talenta teknik tingkat atas.
Peran di sektor ini tidak lagi identik dengan pekerjaan pabrik tradisional, tetapi lebih ke pengembangan robotika, AI industri, material canggih, hingga integrasi sistem.
Selain itu, gaji yang kompetitif juga membuat sektor manufaktur semakin menarik bagi lulusan baru.
Di sisi lain, sektor teknologi dan keuangan mulai kehilangan pamor. Perekrutan melambat akibat regulasi yang lebih ketat serta efisiensi perusahaan.
Jumlah karyawan Alibaba misalnya turun dari sekitar 250.000 pada 2022 menjadi sekitar 124.000 pada 2025. Sementara Baidu juga memangkas tenaga kerja lebih dari 21% dari puncaknya.
Kondisi pasar kerja yang ketat juga menjadi faktor. Tingkat pengangguran usia muda di China mencapai 16,5%, jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya.
Sebaliknya, sektor manufaktur justru kekurangan tenaga kerja. Pemerintah China memperkirakan hampir 30 juta posisi manufaktur terampil belum terisi hingga 2025.
Kebijakan pemerintah yang memprioritaskan sektor kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga material canggih juga mempercepat pergeseran ini. Akibatnya, lulusan kampus elite kini melihat industri manufaktur sebagai sektor teknologi masa depan dengan prospek karier yang menjanjikan.
(dem/dem) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]