Negara Eropa Terpecah Gara-gara Megaproyek China Senilai Rp 19 Triliun
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa media sosial asal China, TikTok, berencana untuk menginvestasikan sekitar 1 miliar euro (Rp19 triliun) untuk membangun data center kedua di Finlandia. Targetnya, megaproyek terbaru di wilayah Eropa ini akan disiapkan kurang dari satu tahun.
Pembangunan data center baru ini sejalan dengan upaya TikTok untuk memindahkan penyimpanan data bagi pengguna di wilayah Eropa, menurut keterangan resmi perusahaan pada Rabu (8/4) waktu setempat.
Pengumuman ini menyusul meningkatnya tekanan dari regulator Eropa terhadap perusahaan-perusahaan media sosial. Eropa menuntut para penyedia platform untuk melindungi anak-anak di wilayahnya dari algoritma yang adiktif.
Selain itu, pada Januari lalu, ByteDance yang merupakan induk TikTok juga menghindari pelarangan total dari AS dengan menyerahkan operasional di negara tersebut ke entitas baru yang diinisiasi pemerintahan Trump.
TikTok mengatakan investasi 1 miliar euro di Finlandia ditujukan untuk membangun data center dengan kapasitas awal 50MW dan berpotensi memiliki kapasitas total 128MW di Lahti, yakni wilayah selatan negara tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu (8/4/2026).
Finlandia yang dikenal sebagai negara dengan penduduk paling bahagia di dunia, telah menjadi magnet bagi para raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google, untuk membangun data center. Finlandia dinilai strategis untuk menekan biaya energi dan menanggulangi dampak iklim.
Pasalnya, Finlandia merupakan negara dengan iklim dingin, sehingga bisa lebih hemat biaya energi untuk meredam panas yang dikeluarkan infrastruktur data center. Selain itu, Finlandia juga menetapkan biaya listrik dan karbon yang lebih murah dan stabil, dengan iklim regulasi yang lebih ramah bisnis.
Finlandia Terpecah
Kendati demikian, sebagian politisi Finlandia merasa khawatir dengan rencana TikTok untuk membangun data center pertamanya di negara tersebut setelah Reuters mengungkapkannya pada April 2025 lalu.
Meskipun Kementerian Pertahanan Finlandia telah menyetujui investasi pada 2024, para politisi mengaku tidak diberi tahu. Menteri Ekonomi Finlandia kala itu, Wille Rydman, mengatakan pada tahun lalu bahwa megaproyek dari raksasa China perlu dipertimbangkan.
Ia berdalih ada kekhawatiran soal keamanan nasional. Selain itu, TikTok juga dinilai kurang transparan terkait rencana perusahaan dalam membangun data center tersebut.
"Setidaknya, saya berharap perusahaan pengembang properti akan mempertimbangkan kembali apakah mereka benar-benar menginginkan TikTok sebagai penyewa mereka," kata Rydman kepada lembaga penyiaran publik Finlandia, Yle, merujuk pada mitra lokal TikTok.
TikTok mengatakan data pengguna Eropa saat ini disimpan dengan pengamanan yang ditingkatkan di tiga data center di Norwegia, Irlandia, dan AS. Data center pertama di Finlandia, tepatnya di Kouvola, akan beroperasi pada akhir tahun ini, dan yang kedua akan beroperasi pada 2027 mendatang.
Berbeda dengan sebagian politisi, Wali Kota Lahti justru bersyukur merayakan investasi baru yang masuk ke wilayahnya.
"Dalam konteks Lahti, investasi sangat substansial. Kami senang proyek terbaru ini sudah ditandatangani dan berprogres seperti rencana awal," ia menuturkan.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]