Bukan Manusia, Perang Iran Ternyata Sudah Diatur AI

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
26 March 2026 11:25
Smoke rises from Beirut's southern suburbs following an Israeli strike, amid escalating hostilities between Israel and Hezbollah, as the U.S.-Israeli conflict with Iran continues, Lebanon, March 25, 2026. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh
Foto: REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

Jakarta, CNBC Indonesia - Bayangan dunia dalam film Terminator kini makin terasa nyata. Dulu, kisah tentang kecerdasan buatan bernama Skynet yang memberontak terhadap manusia hanyalah fiksi. Tapi sekarang dalam konflik Iran vs Amerika Serikat-Israel, teknologi serupa sudah benar-benar ada.

Perang modern kini memasuki babak baru, seperti di film-film. Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menggempur Iran dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), menghantam lebih dari 5.500 target hanya dalam hitungan hari.

Serangan besar-besaran itu dimulai sejak 28 Februari lewat operasi "Epic Fury". Dan dalam hitungan hari, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya tewas dalam serangan terarah.

Dalam sebuah video yang diunggah ke X pada 11 Maret, Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), mengatakan bahwa pasukan Amerika saat itu telah menghantam lebih dari 5.500 target di dalam Iran.

Cooper mengaitkan keberhasilan sebagian operasi tersebut dengan penggunaan alat kecerdasan buatan (AI) canggih.

"Manusia akan selalu membuat keputusan akhir tentang apa yang ditembak, apa yang tidak, dan kapan menembak. Tetapi alat AI canggih dapat mengubah proses yang biasanya memakan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari menjadi hitungan detik," ujarnya, dikutip dari France24, Kamis (26/3/2026).

Namun di balik kecanggihannya, konflik besar terjadi di dalam negeri AS sendiri.

Perusahaan AI Anthropic menolak permintaan Pentagon untuk akses penuh ke sistem AI mereka, Claude. Pendirinya, Dario Amodei, menegaskan penolakan tersebut.

Anthropic mengisyaratkan bahwa Departemen Pertahanan AS mencoba melonggarkan dua batasan, yakni penggunaan AI untuk pengawasan massal domestik dan senjata otonom penuh.

"Beberapa penggunaan berada di luar batas kemampuan teknologi saat ini untuk dilakukan secara aman dan andal," katanya.

Tak butuh waktu lama, OpenAI langsung mengambil alih kontrak militer tersebut. Pemerintah AS pun membalas keras-Anthropic diblokir dan dicap sebagai ancaman keamanan nasional.

Di lapangan, AI seperti Maven milik Palantir diklaim mampu memangkas kebutuhan personel secara drastis, 20 orang bisa menggantikan 2.000 staf.

Ahli AI dari AI Now Institute, Heidy Khlaaf, memperingatkan bahwa manusia cenderung terlalu percaya pada mesin.

Sebagian besar alat AI ini menggabungkan, menganalisis, dan mensintesis data dalam sistem yang disebut "decision support systems". Secara teori, sistem ini hanya memberikan rekomendasi dan tetap memerlukan pengawasan manusia. Namun, menurut Khlaaf, pengawasan tersebut sering kali tidak efektif.

"Manusia memiliki bias otomatisasi, yaitu kecenderungan untuk lebih mempercayai rekomendasi sistem otomatis seperti AI. Dalam praktiknya, pengawasan menjadi dangkal, terutama di militer. Manusia hanya menjadi stempel persetujuan," ujarnya.

Tak berhenti di situ, risiko keamanan juga mengintai. Model AI yang digunakan militer disebut rentan dimanipulasi karena dilatih dari data internet terbuka.

Dalam skenario paling ekstrem, AI bahkan cenderung memilih eskalasi nuklir. Studi King's College London menemukan 95% simulasi krisis berujung pada penggunaan senjata nuklir taktis.

"AI memperbesar kemungkinan eskalasi. Ini seharusnya tidak digunakan dalam keputusan yang menyangkut nyawa manusia," pungkasnya.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article China Punya Senjata Pembunuh Baru, Amerika Bisa Tamat


Most Popular
Features