PHK Massal & Laba Anjlok, Raksasa E-commerce All In ke Bisnis AI

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
20 March 2026 22:00
In this Tuesday, Feb. 18, 2020, photo, a resident looks for her parcel near a temporary No Contact parcel collection point for Chinese e-commerce giant JD.com outside an apartment complex in Beijing, China. JD and rivals including Pinduoduo, Miss Fresh and Alibaba Group's Hema are scrambling to fill a boom in orders while protecting their employees. E-commerce is one of the few industries to thrive after anti-virus controls starting in late January closed factories, restaurants, cinemas, offices and shops nationwide and extinguished auto and real estate sales. (AP Photo/Ng Han Guan)
Foto: Penjualan Online di China Saat Maraknya Virus Corona. (AP Photo/Ng Han Guan)(

Jakarta, CNBC Indonesia — PHK massal terjadi perusahaan e-commerce besar China, Alibaba. Jumlah karyawan Alibaba menyusut sekitar 34% sepanjang tahun 2025.

Hal ini terjadi karena Alibaba melepas beberapa bisnis ritel offline-nya sambil meningkatkan investasi pada kecerdasan buatan (AI), mengutip CNBC.com, Jumat (20/3/2026).

Alibaba mengakhiri Desember dengan 128.197 karyawan, turun dari 194.320 pada tahun sebelumnya berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Kamis (19/3/2026). Laporan tersebut menunjukkan laba perusahaan anjlok 67% dan pendapatannya meleset dari ekspektasi.

Saham perusahaan di bursa Hong Kong pun anjlok 6% pada perdagangan Jumat (20/3/2026).

Sebagian besar pengurangan karyawan Alibaba terjadi pada kuartal pertama 2025 setelah penjualan grup ritel Sun Art pada akhir tahun 2024. Raksasa teknologi ini juga melepaskan kepemilikannya di jaringan department store Intime sekitar periode yang sama.

Alibaba masuk ke dalam sejumlah perusahaan teknologi besar lainnya yang telah mengurangi jumlah karyawan dalam setahun terakhir, dari Silicon Valley hingga Hangzhou, Tiongkok.

Alibaba telah secara bertahap mengurangi jumlah karyawan dalam beberapa tahun terakhir, meskipun pengurangan terbaru jauh lebih besar daripada pengurangan 11% pada Desember 2024 dari tahun sebelumnya.

Hal ini terjadi karena Alibaba berupaya untuk melepaskan kepemilikan yang padat tenaga kerja dan merestrukturisasi bisnis intinya, dengan fokus utama pada kecerdasan buatan.

Raksasa teknologi asal China ini bertujuan untuk menjadi perusahaan AI lengkap yang mencakup manufaktur semikonduktor hingga komputasi dan model AI.

Minggu ini, perusahaan meluncurkan layanan AI berbasis agen yang dikenal sebagai Wukong untuk bisnis, dan menaikkan harga layanan cloud dan penyimpanannya hingga 34% karena meningkatnya permintaan dan biaya rantai pasokan.

CEO Alibaba, Eddie Wu, mengatakan dalam konferensi pendapatan pada hari Kamis bahwa perusahaan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan cloud dan AI-nya hingga lebih dari US$100 miliar per tahun selama lima tahun ke depan.

(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Alibaba Jual Kacamata AI Rp10,8 Juta, Saingi Meta dan Xiaomi


Most Popular
Features