China Bikin Baterai Nuklir Tahan 50 Tahun, Amerika Sudah Ketar-ketir

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
10 March 2026 11:35
Foto kolase bendera Amerika Serikat dan China. IREUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
Foto: Foto kolase bendera Amerika Serikat dan China. IREUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - China mengembangkan baterai nuklir tahan lama yang mampu menghasilkan energi hingga puluhan tahun tanpa perlu diisi ulang.

Padahal selama lebih dari 70 tahun, Amerika Serikat menjadi pionir teknologi ini. Negeri Paman Sam bahkan sudah mengembangkan baterai yang memanfaatkan radiasi nuklir sejak 1950-an.

Namun memasuki abad ke-21, posisi itu mulai bergeser. China kini menjadi pemain paling agresif dalam pengembangan baterai nuklir, terutama teknologi betavoltaic battery.

Mengutip Popular Mechanics, perusahaan teknologi China, Betavolt, pada awal 2024 memperkenalkan baterai nuklir mini bernama BV100. Ukurannya hanya sebesar koin, tetapi mampu bertahan hingga 50 tahun tanpa pengisian ulang.

Tidak hanya sekadar prototipe laboratorium, baterai ini bahkan sudah diproduksi massal. Target penggunaannya sangat luas, mulai dari perangkat medis, teknologi dirgantara, hingga smartphone masa depan.

Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan partikel beta dari peluruhan radioaktif. Partikel tersebut menghantam semikonduktor khusus dan menghasilkan arus listrik kecil namun stabil.

Meski daya listriknya tidak sebesar baterai konvensional, teknologi ini memiliki keunggulan utama, yakni umur pakai sangat panjang. Baterai betavoltaik bahkan berpotensi bertahan hingga 100 tahun, tergantung material radioaktif yang digunakan. Karena radiasi beta dapat dihentikan hanya dengan lapisan aluminium tipis, teknologi ini juga dinilai relatif aman.

Kemampuan bekerja dalam kondisi ekstrem membuat baterai nuklir ideal untuk berbagai teknologi masa depan seperti rover planet, sensor laut dalam, hingga alat pacu jantung.

China tidak berhenti pada satu inovasi itu saja. Beberapa waktu yang lalu, Northwest Normal University di Gansu mengumumkan pengembangan baterai nuklir berbasis karbon-14 yang diklaim mampu bertahan hingga satu abad.

Untuk mendukung industri ini, China juga mulai membangun rantai pasok baterai nuklir dari hulu hingga hilir di dalam negeri, meniru strategi suksesnya dalam industri panel surya.

Sementara itu, Amerika Serikat kini mencoba mengejar ketertinggalan. Perusahaan City Labs yang berbasis di Miami tengah mengembangkan baterai betavoltaik berbasis tritium untuk misi luar angkasa dan alat pacu jantung. Baterai tersebut diperkirakan memiliki masa pakai sekitar 20 tahun.

Perusahaan ini sebenarnya pernah menciptakan baterai betavoltaik pertama di dunia bernama Betacel pada 1970-an. Namun keterbatasan teknologi dan stigma terhadap energi nuklir membuat inovasi itu tidak berkembang luas.

Kini situasinya berubah. Sejumlah perusahaan di AS, Inggris, dan Eropa mulai kembali serius mengembangkan baterai nuklir. Peluncuran baterai 50 tahun dari China tahun lalu menjadi alarm global bagi industri teknologi.

Setelah lebih dari tujuh dekade sejak pertama kali ditemukan, baterai nuklir akhirnya memasuki era baru. Namun kali ini, perlombaan teknologi tersebut tampaknya tidak lagi dipimpin oleh AS.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Peneliti Ciptakan Otak Buatan, Bisa Jadi Manusia Super


Most Popular
Features