Sumber Uang Pemasok Senjata Canggih AS Disetop, Ini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - OpenAI dan Anthropic belakangan menjadi sorotan dunia. Kedua perusahaan pencipta tool AI canggih tersebut dikaitkan dengan perang yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Laporan Wall Street Journal mengatakan militer AS menggunakan tool AI Claude buatan Anthropic untuk melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Padahal, hanya beberapa jam sebelumnya, Trump memerintahkan pelarangan tool AI Claude di lembaga federal.
Sebagai informasi, Anthropic merupakan mitra Kementerian Pertahanan/Perang AS (DoW). Namun, hubungan kedua institusi itu rusak gara-gara Anthropic bersikap tegas melarang tool AI-nya digunakan untuk menciptakan senjata otonom atau memata-matai warga AS.
Trump marah besar gara-gara syarat tersebut dan langsung membatalkan kontrak dengan Anthropic. Trump mengatakan Anthropic adalah perusahaan sayap kiri 'woke' yang mengancam keamanan nasional dan membahayakan nyawa warga AS.
Lebih lanjut, Trump menegaskan Anthropic tak bisa dibiarkan menentukan cara militer AS bertempur atau memenangkan perang.
Tak lama setelahnya, OpenAI mengumumkan telah meneken kontrak dengan DoW untuk memasok tool AI. Hal ini langsung memicu kontroversi dan merusak reputasi OpenAI, ditandai dengan aksi penghapusan aplikasi ChatGPT. Banyak orang beralih ke aplikasi Claude buatan Anthropic.
Investor 'Kabur'
Terpelas dari huru-hara dengan pemerintah, OpenAI dan Anthropic diketahui mendapat pendanaan salah satunya dari raksasa chip AI Nvidia. Namun, di tengah kekacauan saat ini, CEO Nvidia Jensen Huang tiba-tiba mengumumkan bahwa investasi terakhir di OpenAI dan Anthropic kemungkinan akan benar-benar jadi yang terakhir.
Alasannya tak terkait dengan perang, tetapi karena perhitungan bisnis. Sebab, OpenAI dan Anthropic dilaporkan sama-sama akan melantai ke bursa alias IPO pada tahun ini.
Peluang bagi Nvidia untuk menginvestasikan US$100 miliar di OpenAI sepertinya tak lagi terbuka saat IPO, kata Huang di konferensi Telekomunikasi, Media, dan Teknologi Morgan Stanley, dikutip dari Reuters, Jumat (6/3/2026).
Perlu diketahui, pada September 2025 lalu, Nvidia dan OpenAI mengumumkan kesepakatan untuk pendanaan US$100 miliar.
Nvidia baru saja memfinalisasi investasi US$30 miliar di OpenAI. Namun, hal ini diindikasikan akan menjadi kesempatan terakhir bagi Nvidia untuk berinvestasi ke perusahaan tersebut, menruut Huang.
OpenAI diketahui sedang menyiapkan IPO yang bisa membawa valuasi perusahaan ke US$1 triliun, menurut laporan eksklusif Reuters pada tahun lalu.
Lebih lanjut, investasi Nvidia senilai US$10 miliar ke Anthropic juga dikatakan Huang akan menjadi yang terakhir. Pasalnya, startup 'penentang' Trump itu juga disinyalir akan melakukan IPO pada tahun ini.
Namun, Anthropic mengatakan hingga kini belum memfinalisasi rencana IPO tersebut.
OpenAI dan Anthropic tidak segera merespons permintaan komentar dari Reuters terkait hal tersebut.
Sebelumnya, Financial Times pada Februari lalu mengatakan Nvidia dan OpenAI sudah membatalkan kesepakatan US$100 miliar karena keragunan tentang 'kesehatan' industri AI.
Beberapa analis mengemukakan kekhawatiran tentang pengaturan sirkular tersebut, karena investasi besar di Anthropic akan menjadikan Nvidia sebagai investor utama di salah satu pelanggan terbesarnya dan uang yang akan diinvestasikan ke startup tersebut kemungkinan akan dihabiskan untuk prosesor AI miliknya sendiri.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]