Pencipta Senjata Canggih AS Sebut Donald Trump Diktator

dem,  CNBC Indonesia
06 March 2026 20:40
Perdana Menteri India Narendra Modi (kiri) berfoto bersama para pemimpin perusahaan AI termasuk CEO OpenAI Sam Altman (tengah) dan CEO Anthropic Dario Amodei (kanan) di AI Impact Summit di New Delhi pada 19 Februari 2026. (Ludovic Marin/Afp)
Foto: Perdana Menteri India Narendra Modi (kiri) berfoto bersama para pemimpin perusahaan AI termasuk CEO OpenAI Sam Altman (tengah) dan CEO Anthropic Dario Amodei (kanan) di AI Impact Summit di New Delhi pada 19 Februari 2026. (Ludovic Marin/Afp)

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Anthropic Dario Amodei menghujat Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah produk AI buatannya diberikan label "risiko rantai pasok." Label tersebut membuat Claude, AI buatan Anthropic dilarang digunakan oleh perusahaan yang memiliki kontrak dengan pemerintah AS.

Dalam memo internal yang dikutip oleh The Information, Amodei menuduh Departemen Pertahanan AS memblokir perusahaannya karena mereka tidak memberikan sumbangan ke dana kampanye Trump.

"Alasan sebenarnya [Departemen Pertahanan] dan pemerintahan Trump tidak suka kita, ialah karena kita tidak memberikan donasi kepada Trump. Kita tidak memuji-muji Trump seperti kepada diktator, sedangkan Sam melakukannya," kata Amodei.

Sam Altman adalah CEO OpenAI, perusahaan AI saingan utama Anthropic yang terkenal karena chatbot ChatGPT-nya. OpenAI menandatangani kesepakatan dengan Pentagon sebagai penyedia teknologi AI setelah Anthropic ditendang.

Presiden OpenAI Greg Brockman diketahui menyumbang US$ 25 juta ke dana kampanye pendukung Trump, sedangkan Altman memberikan US$ 1 juta untuk dana pelantikan Trump pada 2024.

Pemicu sengketa antara Anthropic dan Pentagon dikabarkan adalah penggunaan Claude dalam serangan militer AS ke Venezuela. Anthropic padahal melarang AI buatannya digunakan untuk mendukung operasional senjata otonom dan untuk memata-matai warga AS,

Altman disebut memanfaatkan situasi tersebut untuk menawarkan OpenAI kepada Departemen Pertahanan AS.

Namun, langkah Altman membuat banyak pengguna OpenAI marah dan memicu gerakan menghapus ChatGPT dari HP.

Data Sensor Tower menunjukkan bahwa volume uninstall aplikasi mobile ChatGPT melonjak nyaris empat kali lipat pada Sabtu, 28 Februari 2026. Lonjakan itu terjadi tidak lama setelah OpenAI mengumumkan kesepakatan dengan Departemen Pertahanan AS yang kini diberi nama Departemen Perang.

Lonjakan 295 persen jauh di atas rata-rata tingkat uninstall ChatGPT yang hanya 9 persen dalam 30 hari terakhir.

Di sisi lain, jumlah download kompetitor ChatGPT yaitu Claude buatan Anthropic naik 37 persen pada Jumat kemudian lompat 51 persen pada Sabtu. Berbeda dengan OpenAI, Anthropic mengumumkan bahwa mereka sudah tidak bekerja sama dengan Departemen Pertahanan AS.

Keputusan Trump dan Menteri Perang AS Pete Hegseth memberikan label supply chain risk kepada Anthropic juga diprotes oleh raksasa teknologi AS lainnya. Status tersebut sebelumnya hanya diberikan kepada perusahaan yang terafiliasi dengan "musuh" AS.

Asosiasi perusahaan teknologi yang anggotanya termasuk Nvidia, Amazon, dan Apple mengirim surat terbuka kepada Hegseth. Mereka menyatakan kekhawatirannya karena Departemen Perang memutuskan memberi label supply chain risk hanya karena sengketa pengadaan.

"Label itu bisa membuat pemerintah tidak bisa mengakses produk dan layanan terbaik dari perusahaan AS yang telah bekerja dengan berbagai institusi di dalam pemerintahan federal," dalam surat tersebut.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Drama Baru Bos-bos Raksasa Teknologi, Elon Musk Tak Diajak


Most Popular
Features