Iran Masih Simpan Senjata Ampuh Buat Lumpuhkan Amerika

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
05 March 2026 12:10
pemakaman para korban setelah serangan Israel terhadap sebuah sekolah, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Minab, Iran, 3 Maret 2026. Amirhossein Khorgooei/ISNA/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Foto: via REUTERS/Amirhossein Khorgooei

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran disebut tengah menyiapkan serangan siber sebagai alat pembalasan terhadap Israel setelah kapasitas militernya lumpuh dalam operasi terbaru.

Perusahaan keamanan siber AS, Anomali, menilai Teheran kemungkinan besar akan mengerahkan wiper malware untuk melumpuhkan sistem digital lawannya.

Dalam analisisnya, Anomali menyebut Iran telah memobilisasi kelompok peretas APT42 dan APT33 yang memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Kementerian Intelijen Iran (MOIS), yang juga dikenal dengan nama MuddyWater.

Perusahaan keamanan lainnya, SentinelOne, memperkirakan target serangan mencakup jaringan pertahanan, pemerintahan, hingga intelijen Israel dan Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan.

Mengutip EuroNews, taktik yang dinilai paling berisiko adalah penggunaan wiper malware, yakni program jahat yang dirancang untuk menghapus data secara permanen dan merusak sistem komputer. Jika digunakan secara masif, serangan ini berpotensi melumpuhkan layanan vital dan infrastruktur penting.

Selain itu, Iran juga berpeluang melancarkan serangan DDoS untuk menjatuhkan layanan daring serta memperkuat kampanye disinformasi guna membentuk opini publik global. Narasi yang diangkat dapat berupa tudingan kejahatan perang Israel hingga klaim kerugian militer yang dibesar-besarkan.

Meski beberapa analis, termasuk Sophos, menilai kelompok Iran kerap melebih-lebihkan kemampuannya, mereka tetap dianggap sebagai aktor siber yang mumpuni. Rekam jejak sebelumnya menunjukkan target serangan mencakup infrastruktur kritis dan sektor keuangan.

Di sisi lain, Israel bukan tanpa pertahanan. IDF memiliki Unit 8200, unit siber elite yang disebut-sebut pernah terlibat dalam operasi Stuxnet, virus yang merusak fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz pada dekade lalu.

Tahun lalu, otoritas Israel menuduh kelompok pro-Iran mengirim SMS palsu yang menyamar sebagai Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk memperingatkan adanya serangan terhadap tempat perlindungan bom.

Iran juga pernah menuduh Israel menggunakan aplikasi pesan populer WhatsApp untuk memata-matai warganya selama perang 12 hari tahun lalu. Otoritas Iran bahkan meminta masyarakat menghapus aplikasi tersebut dari ponsel mereka, meski dibantah oleh perusahaan induknya, Meta.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Jaga Ketahanan Data Center, Uptime Ungkap Kunci Hindari Serangan Siber


Most Popular
Features