Drama Baru Bos-bos Raksasa Teknologi, Elon Musk Tak Diajak

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
20 February 2026 17:40
Perdana Menteri India Narendra Modi (kiri) berfoto bersama para pemimpin perusahaan AI termasuk CEO OpenAI Sam Altman (tengah) dan CEO Anthropic Dario Amodei (kanan) di AI Impact Summit di New Delhi pada 19 Februari 2026. (Ludovic Marin/Afp)
Foto: Perdana Menteri India Narendra Modi (kiri) berfoto bersama para pemimpin perusahaan AI termasuk CEO OpenAI Sam Altman (tengah) dan CEO Anthropic Dario Amodei (kanan) di AI Impact Summit di New Delhi pada 19 Februari 2026. (Ludovic Marin/Afp)

Jakarta, CNBC Indonesia - Elon Musk selama ini dikenal sebagai sosok yang sering memicu drama di kalangan raksasa teknologi. Ia pernah terlibat adu mulut dengan CEO Meta Mark Zuckerberg, bahkan keduanya sempat berencana ingin adu fisik. 

Belakangan Musk juga terlibat perdebatan di hadapan publik dengan CEO OpenAI, Sam Altman. Musk juga menyeret mantan perusahaan yang ia dirikan itu ke meja hijau lantaran meninggalkan prinsip lama sebagai lembaga non-profit.

Namun, ada drama baru di dunia teknologi yang tidak melibatkan Musk. Kali ini ada dua bos AI yang bersitegang, yakni Altman dengan pendiri Anthropic, Dario Amodei.

Kehadiran keduanya mencuri perhatian dalam ajang India AI Impact Summit. Altman dan Amodei terlihat tidak saling bergandengan tangan dalam sesi foto dengan para pemimpin politik dan teknologi dunia di ajang tersebut.

Keduanya berdiri di atas panggung bersama Perdana Menteri India Narendra Modi dan CEO Google sekaligus Alphabet, Sundar Pichai. Altman dan Amodei sama-sama tampil sebagai pembicara utama dalam forum.

Dalam momen itu, Modi mengangkat tangan Altman dan Pichai di hadapan hadirin yang bertepuk tangan. Sejumlah tokoh lain mengikuti dengan saling bergandengan tangan. Namun Altman dan Amodei yang berdiri berdampingan memilih mengangkat kepalan tangan masing-masing, alih-alih saling menggenggam.

Momen tersebut terjadi di tengah memanasnya persaingan antara OpenAI, pembuat ChatGPT, dan Anthropic, pengembang Claude. Kedua perusahaan tengah berlomba menjadikan model AI mereka sebagai pilihan utama konsumen global, sekaligus berebut pangsa pasar korporasi.

Persaingan itu juga merambah isu monetisasi. Bulan lalu, Anthropic menayangkan iklan di ajang Super Bowl yang menyindir rencana OpenAI untuk menguji penayangan iklan bagi pengguna gratis dan pelanggan ChatGPT Go di Amerika Serikat.

Menanggapi hal itu, Altman menyebut iklan tersebut tidak jujur. Ia mengatakan, "Sepertinya sudah menjadi ciri khas gaya bicara ganda Anthropic menggunakan iklan yang menyesatkan untuk mengkritik iklan menyesatkan yang sifatnya masih teoritis dan belum nyata. Tapi iklan Super Bowl bukan tempat yang saya duga untuk itu."

Chief Customer Officer Anthropic, Paul Smith, kemudian mengatakan bahwa perusahaannya fokus mengembangkan bisnis ketimbang membuat judul-judul sensasional, yang dinilai sebagai sindiran terselubung kepada OpenAI.

Di sela-sela forum, Altman juga mengakui bahwa pihaknya masih menggodok skema monetisasi.

"Kami masih perlu melakukan sejumlah pekerjaan untuk menentukan format iklan yang paling tepat," ujarnya, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (20/2/2026).

Anthropic didirikan pada 2021 oleh sejumlah mantan peneliti OpenAI, termasuk Amodei, yang hengkang karena perbedaan pandangan terkait arah pengembangan perusahaan. Sejak berdiri, Anthropic memposisikan diri sebagai perusahaan AI dengan pendekatan safety-first.

Dalam pidatonya di forum tersebut, Amodei menyoroti risiko serius dari pengembangan AI, termasuk potensi perilaku otonom sistem, penyalahgunaan oleh individu maupun pemerintah, hingga dampak disrupsi ekonomi.

Sementara itu, Altman menegaskan bahwa konsep keselamatan AI tidak hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut ketahanan sosial. "Kami percaya tidak ada satu pun laboratorium AI yang dapat mewujudkan masa depan yang baik sendirian," ujarnya.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Elon Musk Baper Gegara Bos ChatGPT Curhat Inden Tesla 7,5 Tahun


Most Popular
Features