Kiamat HP China Murah: Krisis Makin Parah, Harga Naik Gila-gilaan
Jakarta, CNBC Indonesia - Kelangkaan chip memori global dipastikan akan memengaruhi industri perangkat elektronik konsumen, salah satunya HP. Krisis yang terjadi dikatakan akan menjadi pukulan lebih keras bagi produsen HP yang menyasar segmen kelas bawah (low-end).
Techwire Asia melaporkan para produsen HP tak bisa mendapatkan DRAM dan NAND yang cukup untuk perangkat low-end, sehingga harus berhadapan dengan pilihan sulit. Bisa jadi harga HP murah akan dinaikkan sehingga tak lagi semurah dulu. Opsi lainnya adalah memangkas fitur-fitur yang sebelumnya sudah dianggap standar.
Harga kontrak DRAM konvensional diperkirakan akan melonjak 90-95% secara kuartalan pada Q1 2026, sementara harga flash NAND akan naik 55-60%, menurut proyeksi revisi terbaru dari perusahaan riset pasar TrendForce.
Peningkatan dramatis dari perkiraan sebelumnya sebesar 55-60% dan 33-38%, menandakan kelangkaan chip memori mengalami eskalasi yang kian cepat.
Krisis chip memori ini ditengarai perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Produsen chip memprioritaskan chip berkinerja tinggi (HBM) untuk proyek AI, sehingga 'mengesampingkan' chip konvensional untuk perangkat elektronik. Chip AI diprioritaskan karena dinilai lebih menguntungkan.
Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron, yang mengendalikan lebih dari 90% produksi memori global, mengalihkan kapasitas untuk melayani perusahaan-perusahaan hyperscaler yang membangun infrastruktur AI, sehingga para produsen perangkat elektronik berebut pasokan.
Produsen chip kontrak terbesar di China, SMIC, baru-baru ini memperingatkan bahwa industri tersebut telah memasuki mode krisis. Para produsen HP dikatakan tidak dapat menyelesaikan perakitan perangkat gara-gara kelangkaan komponen chip memori.
"Orang-orang tidak berani memesan terlalu banyak untuk kuartal pertama tahun depan karena tidak ada yang tahu berapa banyak chip memori yang sebenarnya akan tersedia. Berapa banyak HP, mobil, atau produk lain yang dapat didukung oleh chip memori yang ada sekarang," kata co-CEO SMIC, Zhao Haijun, kepada para investor, dikutip dari Techwire, Kamis (12/2/2026).
Pasar Asia Terpukul Paling Keras
Kelangkaan chip memori global dikatakan paling terdampak di pasar Asia-Pasifik. Pasalnya, HP murah mendominasi wilayah ini. HP murah umumnya mengambil margin tipis, sehingga ruangnya sangat kecil untuk menghadapi harga chip memori yang naik gila-gilaan.
Firma riset Counterpoint telah memangkas proyeksi pertumbuhan pengapalan HP global untuk 2026 menjadi minus 2,1%. Pabrikan HP China seperti Honor, Oppo, dan vivo, mendapat revisi pengapalan yang paling tajam. Ketiganya diramalkan akan mencatat pertumbuhan minus lebih dari 1% hingga kurang dari 4%.
Biaya komponen untuk HP low-end dengan kisaran harga di bawah US$200 (Rp3,3 jutaan) telah meningkat 25% sejak awal 2025. Sementara segmen kelas menengah (mid-range) dan kelas atas (high-end) masing-masing mengalami peningkatan sebesar 15% dan 10%, menurut Counterpoint.
Harga chip memori masih berpotensi naik 40% sepanjang Q2-2026, sehingga bisa menambah biaya produksi sekitar 8%-15%. Kemungkinan manufaktur harus menelan sendiri risiko ini atau membagi beban dengan menaikkan harga jual ke konsumen.
"Di segmen harga yang lebih rendah, kenaikan harga yang tajam pada HP tidak berkelanjutan," kata analis senior Counterpoint, Yang Wang.
"Dan jika mekanisme pengalihan biaya tidak memungkinkan, OEM akan mulai memangkas sebagian portofolio mereka. Itulah yang sebenarnya mulai kita lihat dengan berkurangnya volume SKU kelas bawah secara signifikan," ia menambahkan.
Rata-rata harga jual HP diramalkan akan naik 6,9% secara tahun-ke-tahun (YoY) di 2026. Persentase itu meningkat dari proyeksi sebelumnya pada September 2025 yang mematok peningkatan 3,6%.
Bagi pasar seperti Asia Tenggara dan India, di mana perangkat dengan harga di bawah US$200 mendorong volume penjualan, ini merupakan pergeseran mendasar dalam dinamika keterjangkauan harga.
Penurunan Spesifikasi HP
Tekanan untuk mempertahankan margin di tengah lonjakan biaya chip memori membuat produsen HP terpaksa menerapkan strategi mitigasi yang agresif. Techwire menuliskan bahwa beberapa merek menurunkan spesifikasi modul kamera, layar, dan komponen audio.
Sementara itu, ada pula yang mengembalikan model dasar ke konfigurasi DRAM 4GB. Padahal, tingkat spesifikasi itu sudah tidak banyak terlihat sejak tahun 2020.
"Pada beberapa model, kami melihat penurunan spesifikasi komponen seperti modul kamera dan solusi periskop, layar, komponen audio, dan tentu saja, konfigurasi memori," kata analis senior Counterpoint, Shenghao Bai.
Kekurangan chip memori dapat mempercepat pertumbuhan pasar smartphone bekas di seluruh Asia-Pasifik. Pasar smartphone bekas di India diproyeksikan mencapai US$10 miliar pada 2026, sementara pasar refurbished di Asia Tenggara mencatat pertumbuhan 5% YoY pada semester pertama tahun 2025, menurut data Counterpoint.
Karena model kelas menengah baru kehilangan fitur unggulan, konsumen mungkin makin menyukai perangkat premium lama daripada model baru dengan spesifikasi yang dikompromikan.
Siapa yang Mampu Bertahan?
Konsolidasi pasar tampaknya tak terhindarkan karena kekurangan chip memori memisahkan produsen berdasarkan skala dan integrasi vertikal. Apple dan Samsung, dengan daya tawar pengadaan dan portofolio yang terdiversifikasi dan condong menyasar pasar high-end, berada pada posisi terbaik untuk mengatasi krisis ini.
Produsen HP China yang fokus pada segmen nilai menghadapi pilihan yang lebih sulit antara pangsa pasar dan profitabilitas.
"Apple dan Samsung berada pada posisi terbaik untuk melewati beberapa kuartal mendatang," kata analis Counterpoint, Yang Wang.
"Tetapi akan sulit bagi yang lain karena tidak memiliki banyak ruang gerak untuk mengelola pangsa pasar versus margin keuntungan. Kita akan melihat hal ini terjadi terutama pada OEM China seiring berjalannya tahun," ia menambahkan.
Kekurangan chip memori tidak menunjukkan tanda-tanda mereda hingga tahun 2026. Meskipun produsen memori memperluas kapasitas, pabrik fabrikasi baru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk beroperasi.
Hingga saat itu, konsumen Asia-Pasifik menghadapi pilihan yang sulit, antara membayar jauh lebih mahal untuk HP mahal, atau menerima spesifikasi yang lebih rendah jika memilih HP lebih murah.
(fab/fab)[Gambas:Video CNBC]